Novel

Aku dan Kamu (6)

6

Frida

Sejak dulu aku punya obsesi, mengabadikan ekspresi orang-orang yang aku temui, entah itu teman-teman, atau orang yang berpapasan di jalan. Tapi, ekspresinya bukan yang dibuat-buat, atau yang sengaja untuk foto berpose, yang aku cari adalah ekspresi yang murni. Natural. Aku juga suka memotret hal-hal unik yang aku temui di tempat umum (tapi biasanya susah sih, takut digebuk orang). Nah, baru dua minggu ini aku tahu kalau obsesiku itu punya nama. Human interest photography. Jadi selama dua minggu aku mencari-cari artikel sebanyak mungkin tentang human interest photography, aku mempelajari semua yang bisa kuunduh, melihat-lihat karya-karya orang lain yang sudah lebih dahulu terjun ke genre ini, dan mencoba menyerap semuanya. Saat aku mencari-cari info tentang genre ini lah, aku menemukan genre street photography (yang sebenarnya sudah ada dari jaman dulu, tapi aku saja yang baru menemukannya). Dan lagi-lagi, ternyata kedua genre sangat menggambarkan obsesiku yang dulunya tak bernama. Kalau di human interest  aku mengabadikan ekspresi orang, atau apa yang dia lakukan, kesehariannya. Di street photography aku berusaha mengabadikan hal-hal yang unik yang aku temukan di tempat umum.

Aku juga sempat ngobrol dengan seorang kenalan dari situs berbagi foto tentang obsesiku ini. Dan dia sangat membantu sekali, memberi penjelasan, tips dan trik, memberi artikel-artikel yang harus kubaca, pokoknya tanpa basa-basi aku langsung mengklaim dia sebagai mentor! Untung kenalanku ini, Erik, yang berasal dari portugal, tidak keberatan kujadikan mentor dadakan. Malah dia sangat apresiasi terhadap semangatku untuk belajar. Sebagai tugas pertama, berhubung aku sangat ketakutan ada di tempat umum sendirian, bawa-bawa kamera, dia menyuruhku latihan menyamankan diri di tempat umum.

Perlu diketahui saudara-saudara sebangsa dan setanah air, aku itu kalau ada di tempat umum, sendirian, bisa sampai keringat dingin dan badanku mengkerut segala.  Setidaknya bukan ukuran badan sih, tapi postur tubuhku bisa kayak orang sakit TBC. Membungkuk, bahu ke dalam, kepala menunduk, ringkih banget. Mataku juga akan awas sekali, lirik kiri-kanan, tapi lirik-lirik bukan karena  jelalatan ngecengin pria ganteng (kadang-kadang mbak cantik juga ikut dikeceng, soalnya cantik banget!), melainkan karena paranoid dengan lingkungan sekitar.

Itu kalau Cuma jalan sendiri, nggak bawa apa-apa. Kalau bawa kameranya, kalikan sepuluh deh ketakutan itu. Takut digerebek satpol PP. Takut ditangkap polisi terus digebuk sampe mati. Takut diculik sama preman di lingkungan itu. Takut digodain sama yang jualan. Parah! Makanya tugas pertamaku adalah menyamankan diri di tempat umum.

Dan tempat umum yang kupilih di tugas pertamaku ini adalah : Jalan Dago (saat acara Car Free Day berlangsung di hari Minggu) dan pasar kaget di area Gasibu.

Jam setengah enam pagi, hari Minggu, aku sudah keluar rumah dan melesat menuju kampus. Rencananya, motor akan kuparkir di kampus lalu aku berjalan kaki (Jalan Dago sih emang tinggal ngesot aja, sampai. Kalau ke Gasibu itu yang perlu perjuangan lahir dan batin, tapi mungkin akan mendapatkan objek menarik untuk difoto).  Di jalan aku ngebut kayak orang dikejer setan, kalau bisa nyelip, nyelip. Kalau nggak bisa nyelip, klakson sekenceng-kencengnya. Pokoknya barbar banget. Untung nggak tiba-tiba distop sama orang lalu dipukul.

Persis jam enam pagi aku sampai di parkiran kampus, mengunci ganda motorku, minum seteguk air, lalu mengeluarkan kamera dari tas dan berjalan area Car Free Day. Acara ini diadakan di sepanjang jalan dago, mulai dari Bank BCA sampai ke perempatan Dayang Sumbi. Panjang kan areanya? Dan banyak hal yang bisa dilihat, mulai dari orang senam, orang naik sepeda, orang naik in line skate, orang jualan, orang makan, orang jalan-jalan, orang nari, orang main musik, orang ngamen, orang ngeceng, pokoknya ORANG! Dengan berbagai aktivitasnya. Eh, kadang-kadang bisa menemukan anjing juga sih, kalau dia diajak sama pemiliknya.

Aku berjalan ke arah atas dulu, ke arah perempatan Dayang Sumbi, mau lihat yang aerobik. Sambil berjalan di jalanan yang dipenuhi oleh banyak sekali orang yang lalu lalang, aku menemukan beberapa objek menarik yang bisa kuabadikan dengan kamera. Ada anak yang nggak mau berbagi makanan dengan temannya, klik. Ada bapak yang lagi nyuapin anaknya, klik. Ada mas-mas lagi bisik-bisik sama pacarnya (ciee, aku sirik nih, sirik!), klik. DAN, ada bapak-bapak judes lagi memerhatikan keadaan di sekelilingnya, klik.

Dan bajuku basah karena keringat dingin. Padahal di sekitarku juga banyak orang yang membawa kamera dan foto-foto, entah jurnalis, entah orang yang hobi fotografi, entah Cuma buat gaya-gaya aja. Harusnya aku santai kan? Aku malah keringat dingin. Untung nggak pake sesak nafas segala.

POK!

Tiba-tiba bahuku ditepuk dari belakang, aku melonjak kaget dan berbalik segera.

“YOGA!!!!” aku berteriak lalu meninju lengan atasnya sekencang-kencangnya. Astaga! Udah dibilangin juga jangan ngagetin aku lagi, masih aja diulangi!

“Masa lu kaget lagi sih??? Kan dari tadi udah gua panggil-panggil!” Yoga bersungut-sungut sambil mengusap lengannya yang tadi kupukul.

“Mana lu manggil gua? Nggak ada tau!”

“Ada banget! Tanya si Dani!” Yoga menunjuk Dani yang dari tadi tertawa terbahak-bahak.

“Iya, hahaha, dari tadi udah dipanggil-panggil!” Dani.

“Gua nggak denger ah!” aku berkeras.

“Ngelamun kali lu. Ngelamunin apa sih?” tuduh Yoga.

“Nggak ngelamun kali! Ngapain kalian di sini?” aku bertanya dan bernapas lega. Ternyata temen sendiri, kirain siapa.

“Motret-motret aja. Daripada suntuk di rumah. Lu ngapain?”

“Motret juga,” jawabku singkat.

“Motret apaan?” tanya Yoga penasaran.

Aku terdiam sebentar, lalu karena sepertinya Yoga menunggu jawabanku (dan Dani juga jadi ikut-ikutan menyimak) aku menjelaskan alasanku berada di lokasi ini sekarang.

“Jadi lu sukanya genre human interest sama street?” Yoga memastikan.

“Iya,” aku mengedikkan bahu.

“Tapi, lu takut ada di tempat umum?” sambung Dani.

“Begitulah adanya,” aku meringis.

“Nekat lu ya! Orang lain mah udah pindah ke area lain kali. Motret bunga kek, hewan kek, benda-benda kek, pindah ke konseptual fotografi kek. Lu malah makin mau nerusin??” Dani menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.

Wes kadung tresno, Mas!” jawabku asal.

“Apa lu?! Jawa palsu!!!” Dani tertawa terbahak-bahak lagi.

“Terus gimana?” Yoga bertanya dengan serius.

“Apanya yang gimana?” aku balik bertanya dengan bingung. Ya iyalah. Coba deh, itu pertanyaan macam apa coba?? Nggak ada objek yang ditanya.

“Ya itu, ketakutan lu. Gimana?”

“Masih takut. Kalo gua udah berani, nggak mungkin pas lu tepok gitu, gua sampe kaget setengah mati.”

“Bukannya lu emang kagetan ya orangnya”

“Iya sih, tapi kan nggak segitunya juga.”

“Beneran takut?” Yoga mengerenyitkan kening tak percaya.

Aku memandang Yoga dengan sebal lalu membalikkan badan, memperlihatkan punggung bajuku yang basah kuyup.

“Lu liat kan punggung baju gua basah?? Gua baru jalan dari parkiran timur 30 menit yang lalu, dan kecepatan jalan gua biasa aja.”

“Buset dah! Sampe segitunya?!!”

“Sampe segitunya! Untung nggak pake sesak napas segala. Suka tiba-tiba kena serangan panik juga gua.”

“Lu beneran nekat, Fri! Kalo pingsan gimana??” Dani terlihat khawatir.

“Apanya yang pingsan? Orang kuat kayak gua mana bisa pingsan??”

“Kuat apaan?!! Udah lu jalan bareng kita aja, mau kemana lagi sih??”

“Ke bawah, terus ke Gasibu. Ah nggak usah temenin segala lah. Nanti mana berani gua sendirian kalo ditemenin??”

“Nggak akan diapit juga kali, Fri! Pokoknya bertiga aja, biar nggak berasa sendiri amat,” Dani.

“Yuk jalan yuk. Kelamaan nyangkut di sini, malah nggak akan maju-maju,” aku mengajak mereka dan berjalan di depan.

Yoga

Nekat! Aku sudah pernah bertemu dengan orang nekat, tapi belum pernah bertemu orang seperti Frida. Aku apresiasi tekad kuat dia untuk belajar fotografi, belajar lebih lanjut genre yang dia sukai. Tapi, sampai bela-bela turun ke jalan demi memotret dengan resiko terkena serangan panik saat melakukannya?? Konyol! Bukannya aku nggak ngerti tentang pentingnya keluar dari zona nyaman dan sebagainya, tapi kan dia bisa dibilang punya kondisi yang cukup parah, kan? Keluar keringat dingin dan sesak napas saat berada di tempat ramai sendirian, bisa dibilang kondisi klinis kan?

Benar-benar nekat!

Tapi, mau nggak mau, aku nggak bisa pura-pura nggak lihat raut wajah Frida yang terlihat sumringah karena sudah mengalami kemajuan bisa berada di tempat umum sendirian tanpa sesak napas segala.  Dan mau nggak mau aku sering tersenyum geli kalau lihat wajah dia yang tiba-tiba kaget karena orang yang sedang dia foto menoleh tepat ke arahnya.

Orang takut mengeluarkan aura-aura yang membuat orang lain sadar akan ketakutannya. Itulah yang terjadi pada Frida. Ketakutannya sangat terasa, meskipun semakin jauh kami berjalan, dia terlihat semakin percaya diri.

“Lama-lama dia bisa berani kemana-mana sendirian ini,” aku berkata pelan pada Dani.

“Tetep aja nggak boleh sendirian. Harus ada yang nemenin.”

“Ah, yang kayak Frida mah, bisa dilepas sendirian juga,” kataku.

“Maksud lu yang kayak Frida itu apa??”

“Kenapa lu marah?” aku bertanya heran. Kenapa lagi si Dani ini?

“Nggak marah. Gua Cuma nanya, maksud lu yang kayak Frida itu apa?”

“Tomboy, mandiri,” jawabku singkat.

“Jadi kalau tomboy dan mandiri bisa dilepas seenaknya? Bisa nggak usah ditemenin?”

“Dia pasti bisa jaga dirinya sendiri lah.”

“Nggak kepikir apa sama lu kalau bisa aja ada yang nyergap dia di tengah jalan, terus diculik dan diperkosa? Atau dipukul? Dimana sih insting lu menjaga perempuan?”

“Yaelah, coba lu tanya, mau nggak dia dijagain sama cowok. Pasti jawabannya nggak mau.

“Nggak mau bukan berarti nggak harus dijaga kan?!”

“Suka-suka lu aja lah.”

“Oi! Mau pada beli minum nggak? Gua haus nih, mau minum es teh. Mau nggak?” Frida menghampiri kami yang tadi berjalan agak jauh di belakangnya.

“Boleh-boleh, gua juga haus nih kebetulan,” kataku.

“Gua juga mau satu,” Dani.

“Oke!” Frida berbalik dan menuju stand yang menjual es teh.

Aku dan Dani mengikuti Frida dalam diam.

Setelah rehat sejenak, kami  melanjutkan berjalan ke Gasibu. Frida tetap berada di depan, kadang-kadang berjalan bersama aku dan Dani. Entah kenapa aku sudah menduga apa yang akan terjadi sesampainya kami di sana. Frida pasti belanja.

“Lu itu mau foto-foto apa mau belanja?” tanyaku.

“Yah, sambil menyelam minum air lah. Lagian kan gua nggak belanja yang aneh-aneh juga.”

Nggak aneh?? Coba katakan padaku, dimana nggak anehnya perempuan berusia dua puluh lima tahun yang membeli boneka monyet yang sedang memukul drum, pistol gelembung sabun, hula hoop warna warni yang bisa dibongkar pasang, boneka pinguin, boneka cumi-cumi yang bibirnya sok seksi (manyun-manyun nggak jelas)??

“Umur lu berapa sih, Fri?” aku bertanya menyindir.

“Umur boleh tua, jiwa harus tetap muda tau!”

“Muda apa nggak dewasa-dewasa?? Masa belinya mainan anak kecil begitu!”

“Gua kan masih kecil juga.”

“Kecil apaan?!”

“Biarin aja, bweek!” Frida meleletkan lidah lalu kembali berjalan di depanku.  Aku menggelengkan kepalaku, nggak percaya. Beneran deh si Frida ini, anehnya luar biasa.

“Dan, Ga, ntar makan siang dimana? Gua lapar nih,” Frida menoleh pada kami berdua. Emang sih udah siang, dan udah masuk jam makan. Dan jujur saja perutku juga sudah menjerit-jerit minta makan.

“Gua juga euy. Makan dimana, Dan?”

“Gua sih dimana aja,” Dani mengangkat bahu nggak yakin.

“Yah, kalo semuanya bisa makan dimana aja, gak makan-makan kita,” keluh Frida.

“Di Kopi Progo aja gimana? Kan deket sini tuh,” ajakku. Kebetulan aku suka ke kafe ini juga, kadang-kadang sama Dani, kadang-kadang sama temen yang lain.

“Kita kan keringat-keringat gini, Ga. Nggak ganggu yang lain apa?” Frida meringis.

“Ya nggak apa-apa lah. Makan di luarnya aja, yang banyak angin-angin. Lagian gua mah nggak bau. Lu bau ya?”

“Enak aja! Lu kali yang bau! Gua kan harum mewangi sepanjang hari,” Frida membela diri diakhir dengan pose aneh yang membuat orang-orang di sekeliling kami tertawa cekikikan.

“Bikin malu aja lu, Fri!” tegurku.

“Bodo amat. Yuk yuk, makan yuk.”

“Ya udah, ayo, jalan!”

Frida

Kami sampai di Kopi Progo dengan peluh membasahi baju. Untungnya hari nggak terlalu panas-panas amat, jadi keringatnya juga nggak banjir-banjir amat. Aku sih nggak banjir, soalnya emang produksi keringatku anomali. Orang lain banjir keringat, aku bisa nggak berkeringat sama sekali.

Untunglah hari ini (dan di jam makan siang ini), Kopi Progo belum terlalu ramai pengunjung. Kami masih bisa memilih tempat duduk yang berada di luar, dengan angin semilir yang membuat kami cukup adem (dan juga mengantuk). Kami duduk di sofa, selonjoran kelelahan. Aku membuka-buka menu sementara Yoga dan Dani sepertinya sudah nyaris tertidur.

“Mau pada pesen apa mau pada tidur ini?” tanyaku sebal. Udah sepuluh menit, bukannya mulai memilih menu malah santai-santai.

“Gua pesen nasi sop buntut aja sama es cappucino,” Yoga menjawab malas-malasan.

“Kalo gua, apa ya? Es teh manis dulu aja sama beef burger. Nanti aja pesen kopinya. Oh ya sama calamary and onion rings ya,” Dani.

“Mas, mau pesen!” aku memanggil salah satu pelayan yang berdiri di dekat kami.

“Iya, Mbak?”

“Mau pesen nasi sop buntut satu, beef burger satu, calamary and onion rings satu, penne alfredo satu. Minumnya es cappucino satu, es teh manis satu, sama ice hazelnut latte satu.”

“Diulang ya mbak. Nasi sop buntut satu, beef burger satu, calamary and onion rings satu, penne alfredo satu. Minumnya es cappucino satu, es teh manis satu, sama ice hazelnut latte satu. Ada pesanan yang lain?”

“Nggak deh. Sementara ini itu aja dulu.”

“Ditunggu ya, Mbak.”

“Oke.”

Aku menghela napas panjang (kayak habis maraton aja, padahal Cuma mesen makanan) dan mengambil kamera dari atas meja dan berselonjor. Aku melihat-lihat hasil foto hari ini. Nggak terlalu jelek, meskipun sekali lagi, masih banyak yang perlu diperbaiki. Sisi baiknya, aku nggak kayak orang gila, ngambil banyak foto nggak jelas. Sisi buruknya, meskipun begitu, tetep aja ada foto-foto nggak jelas apa maksudnya yang aku ambil tadi.

“Frida!” seseorang memanggilku. Aku menoleh dan melihat Dita dan teman-temannya baru saja datang.

“Eh Dita! Ngapain lu ke sini?” aku berdiri dan menghampiri Dita.

“Ya makanlah, masa mau dangdutan?”

“Mana tau mau ngamen gitu,” balasku iseng.

Tiba-tiba aku teringat (dan entah kenapa merasakannya juga kalau Yoga sedang menatap Dita lekat-lekat) kalau aku berjanji mengenalkan Dita dan Yoga.

“Dita, inget nggak yang gua pernah bilang, ada temen gua mau kenalan.”

“Oh iya, inget. Kenapa? Orangnya ada di sini ya?”

“Iya, itu yang pake kaos abu-abu. Agak burik (jelek-pen) sih, soalnya abis jalan dari dago sampe sini. Aslinya ganteng kok,” aku mempromosikan Yoga.

“Ngapain jalan dari Dago sampe sini??” Dita terperangah.

“Ceritanya hunting foto. Yuk gua kenalin.”

Lalu aku dan Dita menghampiri Yoga (yang matanya sudah sebesar tatakan piring ngeliat Dita).

“Yoga ini Dita, adik kelas gua yang waktu itu mau gua kenalin. Dita ini Yoga.”

Dita dan Yoga saling bersalaman, dan sama-sama tersenyum.

URGH, coba deh aku yang dapat senyuman maut itu. Langsung meleleh di tempat. Sayangnya senyumnya untuk Dita, aku memble aja lah di sini.  Dita kembali ke teman-temannya, dan aku kembali duduk. Aku mengambil kertas dan pulpen, lalu mengeluarkan handphone, dan menyalin nomor ponsel Dita dan nama lengkapnya.

“Nih nomor telepon Dita sama nama lengkapnya. Waktu itu gua lupa suggest friend ke kalian berdua. Add aja sendiri ya,” aku menyodorkan kertas tadi pada Yoga. Yoga menatap lama kertas yang kuberikan.

“Kenapa lu?” tanyaku sok santai.

“Lu kenapa bantuin gua sih?”

“Doh! Dibantuin salah, nggak dibantuin salah juga. Maunya apa sih?” aku mulai kesal. Ini orang ganteng-ganteng tapi nggak tau diri ya!

“Gua heran aja, Fri.”

“Gua kan Cuma ngenalin aja. Cuma sampe situ aja kok.”

“Nggak usah marah gitu.”

“Ya gimana nggak marah coba?! Dasar sompret.”

“Udah jangan marah. Gua traktir lu hari ini sebagai ucapan terima kasih.”

“Gua bisa bayar makan siang sendiri, Ga. Gak usah ditraktir-traktir segala deh,” aku membalas dengan ketus.

“Jangan berantem ah. Kayak anak kecil aja. Lu traktir gua aja kalo si Frida nggak mau,” timpal Dani.

“Maunya lu!” aku dan Yoga menjawab berbarengan lalu tiba-tiba kami tertawa terbahak-bahak bersama.

Aneh deh. Meskipun aku tadinya ngecengin Yoga, masih sih sampe sekarang, tapi tahu bahwa dia ngecengin orang lain nggak membuatku terlalu sedih. Sedih sih karena aku sama sekali nggak masuk tipenya dia. Bahkan mungkin aku nggak masuk tipenya siapa-siapa. Kalau istilah ujian apoteker dulu adalah TIDAK MEMENUHI SYARAT alias TMS (bukan Tetra Metil Silen ya yang untuk spektroskopi NMR itu). Dan sedikit aneh juga karena aku malah mengenalkan dia pada perempuan yang dia suka.

Tapi, nggak sampai membuatku ingin nangis sejadi-jadinya. Atau jadi melankolis nggak jelas. Cuma nggak memenuhi syarat aja kan? Ya udah lah ya. Biarin aja. Mungkin suatu saat nanti ada yang akan bilang, “Kamu memenuhi syarat gua, Fri!” dan di saat yang sama aku juga akan bilang, “Lu pas banget sama gua!”.

Nggak tau deh kapan itu terjadi. Kalaupun nggak terjadi, yah gua melihara anjing Golden Retriever aja deh. Nggak pake pilih-pilih majikan, nggak pake syarat apapun, yang penting dia disayang dan dipenuhi kebutuhannya, dan dia akan menyayangi dan menjaga gua. Mirip-mirip lah ya sama pasangan hidup, Cuma nggak bisa diajak ngobrol dan diajak berhubungan seks aja.

Life goes on lah!

Advertisements

3 thoughts on “Aku dan Kamu (6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s