Novel

Aku dan Kamu (5)

5

Yoga

Pagi ini aku nggak sempet sarapan di rumah. Ada dosenku yang mengadakan kuliah pengganti jam tujuh pagi (nggak manusiawi, tapi mau gimana lagi kan?), karena minggu ini dia harus ke luar kota pada jam kuliah yang seharusnya. Jadi setelah dua jam menahan lapar di dalam kelas, begitu kelas bubar, aku langsung berlari ke kantin terdekat. Kantin bengkok (yang sejarah penamaan kantin ini terlalu panjang untuk kujelaskan, intinya sih berkaitan dengan konstruksi bangunan yang bengkok). Aku menuju counter yang menjual nasi gudeg dan memesan nasi gudeg ayam lalu memesan secangkir kopi hitam panas. Setelah membayar makanan dan minuman, mengambil keduanya, aku mencari-cari tempat duduk. Dan aku melihat Frida sedang duduk sendiri sambil membaca novel dan makan.

“Fri!” aku menghampiri Frida dan langsung duduk di hadapannya.

“Eh buset dah! Demen amat sih lu ngagetin gua?!” Frida terlonjak kaget. Anak ini bener-bener gampang kaget ya. Heran deh, masa begini aja kaget. Apa dia sedang melamun ya tadi? Baca novel kok melamun?

“Nggak kuliah?”

“Kalau gua ada di sini, mana mungkin gua kuliah? Pertanyaan macam apa itu?!” Frida bersungut-sungut.

“Ditanya gitu aja marah.”

“Pertanyaannya nggak bermutu. Kalau gua kuliah, nggak mungkin gua nongkrong di kantin. Yah, kecuali gua kabur dari kelas buat makan sih.”

“Tuh kan, berarti nggak salah gua nanya, kan?”

Frida menjawab pertanyaanku dengan memberikan ekspresi wajah yang sepertinya siap untuk melemparku dengan piring kosong yang ada di hadapannya.

“Ngomong-ngomong, udah diedit foto-foto hunting kemaren?”

“Udah sebagian. Tapi belum gua perkecil ukurannya, nanti aja sekalian sama yang lain.”

“Bawa di laptop nggak?”

“Kenapa? Mau dikritik habis-habisan ya?” tanya Frida ketus.

Aku mengerenyitkan kening. Kenapa pula anak ini satu? Bukannya dia yang minta masukan dariku kemarin? Kenapa sekarang sewot begini??

“PMS (Pre menstruation syndrome) ya?”

“Udah telat satu minggu, sebel gua!” jawab Frida langsung, sampai aku nyaris tersedak ayam yang sedang kukunyah. Gila, baru kali ini pertanyaan seperti itu dijawab begitu frontal oleh perempuan.

“Kenapa?? Nggak biasa denger pengakuan langsung perempuan?” Frida bertanya lagi dengan nada jauh lebih judes dari sebelumnya. Astaga, dia benar-benar siap mencakar-cakarku sepertinya.

“Iya, nggak biasa. Dan lu judes banget pagi ini,” jawabku jujur.

“Hormon. Nggak enak kayak begini tuh.”

“Emang biasa telat kayak gini?” tanyaku penasaran. Ampun! Ngapain aku bahas siklus menstruasi orang?!!

“Nggak juga, stress kali. Musim UTS (Ujian Tengah Semester) juga sih, sama banyak presentasi,” Frida mengangkat bahu.

“Banyak banget emang presentasinya?”

“Gua ambil lima kuliah, semuanya ada presentasinya. Lama-lama botak juga kepala gua,” Frida cemberut. Aku menahan diri untuk tidak tersenyum, karena ekspresi Frida lucu juga kalau sedang cemberut begini.

“Banyak amat itu mah presentasinya. Lagian kenapa ambil kuliah banyak-banyak?”

“Biar cepet lulus. Meskipun gua lumayan suka sama kampus ini, tapi untuk berlama-lama kuliah, duh nggak deh.”

“Iya juga sih.”

Kami berdua diam untuk beberapa saat. Aku meneruskan makan, Frida meneruskan membaca novelnya. Kalau lihat sampul depan novelnya, sepertinya yang sedang dia baca adalah novel roman. Untuk perempuan yang tomboy seperti Frida, cukup mengejutkan juga bacaannya adalah novel roman. Kukira bacaannya novel yang lebih serius.

“Nanti kalau udah beres gua edit dan upload, gua kasih tau deh,” tiba-tiba Frida bicara tanpa mengangkat wajah dari novel yang sedang dibacanya.

“Oke. Kasih tau aja nanti, akan gua lihat.”

“Makasih ya.”

Aku kembali meneruskan makan. Nggak enak juga makan dalam suasana hening begini. Nggak hening sih sebenarnya, karena di sekitar kami kan banyak mahasiswa-mahasiswa lain yang sedang sarapan juga, dan mereka cukup berisik sebenarnya, tapi yang bikin nggak enak adalah kalau teman di meja yang sama benar-benar tidak mengeluarkan suara.

Mendadak, ada suara tawa lembut yang terdengar di telingaku. Refleks mataku mencari-cari sumber suara yang merdu itu (iya, iya, gayaku sangat tahun delapan puluhan sekali, tapi memang suaranya merdu kok!). Awalnya aku nggak menemukan si empunya suara. Ada beberapa mahasiswi yang sedang menikmati sarapan di sekitarku, tapi nggak ada yang terlihat sedang atau habis tertawa. Aku kembali melanjutkan makan, meskipun jadi agak-agak ngeri sendiri, beneran nggak tadi aku mendengar suara perempuan tertawa?? Namun, suara tawa yang sama terdengar lagi, dan kali ini aku berhasil melihat siapa yang tertawa.

Dan rahangku hampir jatuh ke tanah saat itu juga.

Gadis impianku. Di depan mata!

Eh, di sisi sebelah kanan maksudnya, di bangku yang berseberangan.

Persis seperti yang kuinginkan secara fisik. Rambut panjang berwarna hitam pekat, kulit yang kuning langsat, pipinya sedikit kemerahan (mungkin karena angin, hari ini anginnya agak kencang), dan feminin. Aku pura-pura kembali makan, karena orang yang sedang kutatap dari tadi, tiba-tiba balas menatapku. Mungkin dia merasa sedang diperhatikan, dan aku nggak mau membuat dia takut.

Sial! Dia dari jurusan mana ya? Kalau lihat penampilannya, sepertinya mahasiswa S1. Tapi jurusan mana? Tingkat berapa? Aku kan nggak mungkin tiba-tiba datang ke meja tempat dia duduk dengan teman-temannya dan mengajak dia kenalan! Bisa jadi gosip satu kampus ini. Aku mencuri pandang sekali lagi, dan lagi-lagi aku terpergok.

Sial!

“Itu adik kelas gua,” tiba-tiba Frida bicara dengan santainya sampai sekarang aku yang terkaget-kaget.

“Apa?”

“Itu adik kelas gua,” ulang Frida.

“Kok lu?” aku bertanya dengan bingung.

“Gua liat lu tadi ngeliatin dia. Udah ngaku aja. Yang pake baju polkadot biru, celana jins biru kan? Rambut panjang, hitam, pakai kacamata dengan bingkai tipis?” Frida mendeskripsikan kandidat kuat kecenganku dengan sangat tepat.

“Adik kelas lu?”

“Iya, adik kelas gua. Beda tiga angkatan, lagi apoteker,” jawab Frida santai.

Tiba-tiba lidahku kelu. Aku sampai bingung harus berkata apa pada Frida. Skak mat!

“Mau gua kenalin?”

“Gua.. itu..”

“Mau nggak?”

“Mau.”

“Ya udah, nanti gua suggest friend di facebook, terus gua promosiin lu ke dia. Oh ya, ngomong-ngomong, namanya Dita,” dan dengan kalimat terakhir ini, Frida menggendong tasnya lalu tiba-tiba pergi meninggalkanku. Sekarang aku benar-benar bukan hanya tidak bisa berkata-kata, tapi kesal setengah mati dengan Frida. Apaan maksudnya meninggalkanku tiba-tiba seperti ini? Aku kan belum sempat bertanya-tanya tentang Dita padanya!

Frida

Antara ingin nangis atau jerit-jerit dan tendang-tendang tong sampah. Beneran deh. Lidahku ini kenapa sih?!! Ngapain aku kasih tau Yoga kalau yang dia lirik-lirik itu adik kelas? Kukasih tau lagi namanya siapa! Menawarkan diri jadi mak comblang lagi! Aduuh.. astaga aku ini masochist beneran apa gimana sih?! Menyiksa diri sih menyiksa diri, tapi ini mah keterlaluan namanya! Preeet!!

Sambil berjalan ke farmasi aku memukul-mukul kepalaku dengan punggung tangan. Untung lagi nggak rame orang, kalo iya bisa dikira gila beneran. Ah sial! Kalau begini kan aku harus bantuin Yoga, mengenalkan pada Dita, dan sebagainya, dan sebagainya. Bukannya aku nggak mau bantuin perjodohannya orang, tapi astaga, ini Yoga yang akan kubantu! Yoga! Kecenganku sendiri. Yang belum apa-apa sudah mencoret perempuan sepertiku dari kriteria wanita idaman. Yang belum  pun aku memulai memberi sinyal bahwa aku suka, sudah disapu duluan dari arena ‘pertandingan’.

Ih, kenapa sih dengan diriku?! Aduh beneran rasanya ingin menjedot-jedotkan kepala ke dinding! Apa perlu aku memasukkan diri ke dalam autoklaf (alat untuk sterilisasi-pen) supaya isi pikiranku ini steril? Bersih? Bebas dari kegilaan-kegilaan yang tidak perlu?!

“Fri, kok kusut amat muka lu?” Zen menatapku bingung.

“Biasa lah, bete,” jawabku sekenanya.

“Bete kenapa?”

“Nggak tau, bangun tidur tadi langsung bad mood. Mungkin gua mimpi dicium vampir kali ya, makanya darahnya langsung kesedot, berikut semua kebahagiaan dalam sehari.”

“Lu dicium vampir apa dicium dementor?”

“Mungkin abis dicium vampir, dicium dementor kali. Demen banget itu iblis-iblis liat gua ya? Ckckckck,” lagi-lagi aku menimpali sekenanya. Aku meletakkan barang bawaanku di meja dan mengambil jas lab. Tikus-tikus peliharaanku harus kuberi makan dan kutimbang dulu sekarang.

“Hari ini kerja lagi?”

“Nggak, Cuma nimbang, kasih makan, sama kasih sediaan uji gua aja. Kan baru diamati setelah empat belas hari. Baru juga hari kelima ini.”

“Terus habis itu mau ngapain?”

“Paling nongkrong aja di sini. Oh, sama gua mau ngobrol-ngobrol sama Dita.”

“Dita mana?” Zen mengerenyit bingung.

“Dita, yang lagi apoteker itu.”

Zen berpikir-pikir sebentar, berusaha mengingat-ingat. Payah juga si Zen, perasaan baru beberapa minggu yang lalu deh, Dita dan gengnya main ke lab. Masa udah lupa sih?

“Dita yang kapan itu  main ke lab sama Yuki, Fani, Mara!!” dengan gemas aku menambahkan.

“Ooohh Dita yang itu!!! Kenapa lu mau ngobrol-ngobrol sama dia?”

“Tadi gw sarapan bareng Yoga, tiba-tiba dia muncul. Lebih parah daripada jelangkung tu anak emang, mendadak muncul aja di depan gua. Kagak ada angin, kagak ada hujan. Terus, dia lirik-lirik Dita gitu, kayaknya naksir berat. Gua kasih tau deh kalau itu Dita, dan ceritanya gua mau bantuin mereka kenalan.”

Zen menatapku curiga.

“Kok tumben lu mau bantuin percintaan orang?”

“Heh! Dari dulu juga gua mah baik hati, selalu bantuin orang. Apa salahnya bantuin Yoga? Toh dia bantuin gua di fotografi kan?”

Mudah-mudahan habis mengatakan kebohongan ini hidungku nggak tiba-tiba memanjang sekitar tiga meteran. Setidaknya, biar saja hatiku yang sakit sekarang, dunia nggak perlu tahu kalau aku juga sedang mengatakan kebohongan dan sedang ikut-ikutan menggores hatiku secara sukarela begini.

Ah, aku dengan mulut besarku.

“Yoga tuh tipenya yang kayak Dita ya?”

“Nggak tau juga ya, tapi kalau lihat tadi sih, kayaknya emang yang seperti Dita,” aku berbohong lagi. Lama-lama aku bisa dapat gelar magister di bidang berbohong deh kalau begini terus caranya.

“Hoo.”

“Udah ah, gua ke kandang hewan dulu ya. Anak-anak gua nanti nangis menjerit-jerit nggak gua urusin,” aku keluar dari lab thesis dan segera menuju kandang hewan di lantai empat.

Dita, ini Frida. Ntar ym nyala nggak? Gua mau kenalin temen gua sama lu. Eh lu single kan?

Sender : Frida

Ym nyala, tapi malam sih palingan, Fri. Iya gua single. Emang siapa yg mau dikenalin?

Sender : Dita

Ada temen gua, anak minyak, s2 juga. Ntar malam aja ya kita ngobrol-ngobrol lagi. Met kuliah.

Sender : Frida

Okeee

Sender : Dita

Tuhan, aku gilanya kok bukannya sembuh malah makin parah sih? Kenapa aku kayak begini??

Advertisements

5 thoughts on “Aku dan Kamu (5)

  1. Sering ngelakuin yg kek frida gini deh, yang ngenalin kecengan ma cewek yg dia suka. Gak ngerti deh, kadang2 pgn bikin kecengan bahagia. Apa boleh buat klo dia bahagia dgn bersama orang lain.
    –> bakat masochist -_-

  2. baca kalimat “Heh! Dari dulu juga gua mah baik hati, selalu bantuin orang. Apa salahnya bantuin Yoga? Toh dia bantuin gua di fotografi kan?” –> langsung terbayang ekspresi wajah, gesture, dan gerak bibir teh muthe.. kekeke.. curiga pengalaman pribadi.. kekeke..

    doyan banget ya sama autoklaf?? gimana kalo lain kali masuk oven aja.. atau filtrasi membran aja sekalian.. biar steril.. ril.. ril.. =D

    1. =)) aaahh jangan begitu padakyuuuu *preeeeet* gak tau ya, mungkin karena autoklaf lebih keren daripada oven.. dan klo udah dimasukin autoklaf, ndak akan bisa didobrak dari dalam kan, =)) *jahatnyooo*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s