Novel

Aku dan Kamu (4)

4

Frida

Setelah beberapa jam berputar-putar dan keliling di sekitaran Curug, kami berkumpul di pinggir curug dan duduk-duduk melepas lelah sambil menikmati pemandangan air terjun. Tadi Zen dan Dani sempat pergi ke mobil sebentar, kukira ngapain, ternyata mengambil makanan yang sudah disiapkan Ibu Zen. Langsung girang lah itu perut-perut yang kelaparan. Karena aku tahu persis apa yang biasanya terjadi kalau ada perut kelaparan dipertemukan dengan makanan, jadi aku agak menyingkir dari arena ini-makanan-jatah-gua-jangan-diambil.

Aku sedikit menjauh dari kerumunan orang lapar tak tahu diri itu dan melihat-lihat hasil fotoku dari layar kamera. Aku melihat masing-masing foto pelan-pelan, kadang-kadang kuperbesar, kadang-kadang tanpa harus dilihat jelas sudah kuhapus dari memory card entah karena buram atau sudutnya jelek (dan aku yakin nggak akan bisa dibetulkan pakai software untuk mengedit foto). Aku mengambil banyak foto hari ini. Bunga, air terjun, monyet-monyet yang berkeliaran di sekitar curug (meskipun aku tadi agak ngeri, takut kameraku dijambret monyet!), batu-batuan, pemandangan di sekitar curug, dan tingkah laku orang-orang yang entah sedang bermain air, sedang piknik, atau sedang pacaran (ya, ya, nggak ada kerjaan, tapi aku senang memotret orang pacaran, berasa seperti paparazzi!).

“Gimana foto-fotonya tadi?” Tanya Yoga yang tiba-tiba sudah ada di dekatku. Aku terlonjak kaget. Buset dah nih orang. Nggak bisa apa datang tanpa bersuara? Kasih pengumuman kek kalau mendekat. Mengaum, menggeram, atau menggonggong juga boleh.

“Dari tadi kerjaannya ngagetin orang aja! Nggak bisa apa pengumuman dulu gitu kalau mau nyamperin? Lain kali bawa toa deh!” aku bersungut-sungut.

“Masa gitu aja kaget?!!” Yoga terheran-heran.

“Gua kan emang kagetan. Apalagi kalau tiba-tiba disamperin begini. Untung lu manusia. Bayangkan, kalau tiba-tiba yang nyamperin gua adalah hantu, dengan hawa-hawa dingin, tanpa bersuara…,” aku mulai mengkhayal nggak jelas.

“Hebat ya imajinasi lu. Kenapa nggak jadi penulis skenario film horor aja?” tanya Yoga dengan sinis.

“Kalau gua jadi penulis skenario film horor, bisa-bisa usia gua nggak sampe empat puluh tahun. Keburu mati gara-gara serangan jantung akibat ketakutan tiap hari,” balasku sebal.

Yoga kemudian ikut duduk di sampingku. Aduh, duduk di sebelah pria ganteng begini, bisa-bisa sebentar lagi jantungku mengalami takikardia nih alias detak jantung yang debarannya meningkat lebih dari kondisi normal. Aduh aduh, butuh penenang nih.

“Mana coba lihat fotonya,” dengan sedikit arogan, Yoga meminta. Sebenarnya aku nggak suka dengan pria-pria sok arogan, tapi karena yang sedikit arogan adalah pria yang satu ini, yah agak sedikit dimaafkan deh.  Aku mengulurkan kameraku pada Yoga yang langsung sibuk memerhatikan satu per satu foto yang kuambil. Dengan serius, dan tanpa ekspresi, Yoga memeriksa satu per satu foto-fotoku. Agak menyebalkan sih, karena dilakukan dengan tanpa ekspresi. Aku jadi nggak bisa menduga, kira-kira dia menganggap foto mana yang bagus, dan mana yang harus diperbaiki.

Aku melirik Yoga dengan sedikit khawatir. Entah bagaimana, rasanya aku ingin dia memiliki pendapat yang bagus tentang apa yang aku kerjakan. Konyol memang, tapi yah itu yang terjadi.

“Gimana?” tanyaku tak sabar.

“Bentar, belum dilihat semua,” Yoga menggumam pelan.

Ih, apa sih, ngapain juga dilihat semua? Emang nggak bisa random aja apa melihatnya?! Masa menilai secara random aja nggak bisa? Jangan-jangan orang ini jauh lebih amatir dibandingkan aku. Setelah beberapa menit yang menegangkan (bohong deng, nggak terlalu menegangkan, hanya menyebalkan saja karena aku paling nggak suka menunggu tanpa melakukan apa-apa seperti ini), akhirnya Yoga menengadah dari layar kamera dan menatapku lurus-lurus. Yang terpikir pertama kali saat ditatap seperti ini adalah sepertinya dalam beberapa menit aku akan berubah menjadi debu yang terbang ke empat penjuru mata angin yang berbeda. Atau mungkin tiba-tiba meleleh menjadi genangan plasma tepat di tempatku duduk sekarang. Atau bisa juga aku pecah berkeping-keping dan berubah menjadi butiran pasir seperti Voldemort. Tapi, yang terakhir mungkin nggak akan terjadi, karena aku bukan Voldemort dan Yoga sungguh jelas-jelas bukan Harry Potter yang membawa tongkat sihir.

“Apa liat-liat?” tanyaku sedikit galak (untuk menyembunyikan perasaan geerku karena diliatin).

“Lu punya insting yang bagus,” jawab Yoga kalem.

“Insting apaan?”

“Foto-foto lu bagus, jujur aja. Emang masih perlu perbaikan di sisi teknik, tapi gua yakin kalau lu terus belajar dan berlatih, lu akan luar biasa,” tambah Yoga.

Aku memang nggak bisa melihat wajahku sendiri (maaf-maaf ya, tapi aku bukan tipe yang selalu sedia cermin di saku celana), tapi rasanya saat ini wajahku memerah karena malu. Aku nggak terbiasa dipuji, dan seringnya aku menganggap pujian itu adalah bohong.

“Masih banyak yang kurang,” aku mengangkat bahu nggak yakin. Beneran, menerima pujian itu nyaris sama rasanya dengan disuruh cabut gigi. Sama-sama memberikan perasaan nggak enak.

“Serius. Nih coba liat foto yang ini,” Yoga menunjukkan salah satu fotoku di layar. Ini foto monyet-sadar-kamera yang kuambil tadi. Monyet ini bener-bener sadar kamera. Setiap kali aku memposisikan kamera untuk memotret (padahal yang mau kufoto itu temennya loh, temennya!)malah dia yang berpose dan memposisikan dirinya di depanku. Aku bergerak ke kiri, dia pindah ke kiri. Aku ke kanan, dia ke kanan. Inilah contoh evolusi monyet yang gagal jadi model di zamannya.

“Kenapa foto yang ini?” tanyaku skeptis.

“Di foto ini lu udah ngikutin rule of third, lu nggak memposisikan si monyet di tengah-tengah frame. Terus, fotonya menurut gua nggak mati. Terlihat dinamis, dan lu bisa menangkap ekspresi si monyet.”

“Itu sih gara-gara monyetnya juga kecentilan, kesenengan difoto dia,” aku mencibir yang dibalas Yoga dengan tertawa terbahak-bahak.

“Yah, namanya juga model, liat kamera pasti langsung berpose. Selain yang tadi udah gua bilang, yang gua liat dari foto lu adalah, lu sudah berhasil mengisolasi subyek foto dari latar belakang. Untuk jenis foto begini, kalau latar belakang atau sekelilingnya terlalu ramai, justru akan mengganggu fotonya sendiri, dan orang yang lihat juga bingung, mana yang jadi point of interest fotonya,” Yoga menjelaskan panjang lebar.

Aku mengangguk-angguk mengerti. Ternyata hasilku belajar selama ini sudah mulai terlihat.

“Lu emang udah belajar rule of third dan sebagainya atau gimana ini?”

“Udah belajar. Kalau yang itu udah lumayan ngerti, tapi yang lain-lain masih suka bingung.”

“Yang lain-lain itu apa?”

Depth of field masih suka bingung yang mana untuk yang apa, dan untuk dapat DOF segitu harus apa yang diatur. Kalau lupa buka catatan terus dipelototin sih sampe pusing.”

“Terus ngerti?”

“Terus pusing,” aku nyengir lalu menjulurkan lidah. Yoga tertawa pelan yang terlepas dari semua diskusi tentang fotografi ini, membuatku meleleh lagi. Aduh, lama-lama nggak ada yang tersisa dari tubuhku kalau meleleh melulu.

“Udah belajar tentang Aperture dan Focal length?” tanya Yoga lagi.

“Ya udahlah. Dan suka ketuker-tuker itu si angka dan bukaannya. Tapi kalau udah megang kamera, ngerti juga sih.”

“Nah itu yang tadi gua bilang, lu punya insting yang bagus, dan punya bakatnya. Tinggal diasah dan terus belajar aja, Fri,” Yoga meyakinkan.

“Oke deh. Ini juga nggak tau nanti apakah gua edit atau gimana.”

“Ntar lu add akun facebook gua deh, terus tag gw di salah satu foto yang udah lu edit, gimana?” Yoga menawarkan bantuannya

Add akun facebooknya?!!! Ini sih lebih daripada yang aku harapkan!

Tentu saja dia menawarkannya bukan untuk alasan romantis, tapi untuk alasan praktis membantu kemampuan fotografiku. Yah yah, terus saja bermimpi, Fri.

“Sip, nanti gua add via akunnya Dani aja.”

“Oke kalau begitu. Lu nggak makan nih?”

“Mau makan apa? Itu makanan pasti udah habis masuk ke perut orang-orang itu,” aku mencibir melihat ke kerumunan yang sedang sibuk makan (dan ada juga yang duduk-duduk kekenyangan).

“Ada cadangan makanan, udah dipisahin sama Dani katanya. Yuk, makan dulu,” Yoga bangkit dan menghampiri Dani.

Wah, ada cadangan makanan!! Yaaay!!

Yoga

Masakan ibunya Dani memang terbukti enak. Makanya, paling nggak seminggu sekali aku harus mampir ke tempat Dani, hanya untuk mencicipi masakan ibunya.  Bukannya masakan ibuku nggak enak, masakan ibuku paling enak sedunia. Tapi masakan ibunya Dani juga enak. Kalau ibuku sukanya masakan tradisional, masakan ibunya Dani agak-agak internasional.

Untunglah Dani nggak mengeluarkan seluruh makanan yang dia bawa tadi, kalau nggak, nggak akan kebagian aku. Bisa-bisa pulang dengan perut keroncongan.

“Dan, untung tadi makanannya lu sembunyiin. Kalo nggak, gua bisa mati kelaparan,” aku membersihkan tanganku dengan tissue basah setelah selesai makan.

“Udah tau gua kalau anak-anak makannya barbar. Makanya dari rumah udah minta dipisahin makanannya. Lagian lu asik banget sama Frida. Ngomongin apaan sih?”

“Ngomongin foto,” jawabku singkat.

“Kirain lagi pedekate sama Frida. Abisnya serius banget kayaknya. Sama-sama suka fotografi juga kan?” goda Dani. Dasar bujang lapuk, bisanya ngegangguin orang aja. Bukannya dia sendiri cari jodoh sana (padahal sendirinya juga nyaris bujang lapuk, aduh kasian banget aku ini).

“Pedekate apaan?! Udah jelas-jelas dia bukan tipe gua juga. Mana pernah gua mau deketin yang kayak si Frida? Udah gayanya cowok banget, nggak ada feminin sama sekali, ngomongnya cablak begitu,” aku mencibir.

“Lu hati-hati  ngomong gitu, entar jadi loh,” Dani.

“Jangan deh. Nanti hidup gua nggak bertahan lama kalo jadi sama yang model begitu. Gua maunya sama yang feminin, lembut, cantik, keibuan, bisa masak, perempuan sebenarnya,”tegasku.

“Ah lu mah, yang kayak gitu bakalan ketemu dimana coba?! Gak realistis!”

“Lu mah nggak ngerti. Kayak lu udah ada aja calonnya,” cibirku,

“Nggak ada bukan karena nggak ada usaha. Emang belum ada aja yang nyantol!” balas Dani sengit.

“Sewot aja lu!”

Dani hanya mendengus lalu ngeloyor pergi. Yah dia marah beneran, kenapa sih? Masa Cuma gitu aja marah sih?! Biarin aja deh, paling juga bentar lagi marahnya hilang. Lebih baik aku melanjutkan makan saja.

Frida

Feminin, lembut, keibuan, bisa masak. Perempuan sebenarnya.

Nggak akan mau ngedeketin yang tipenya kayak aku. Tomboy, cablak, nggak ada feminin sama sekali.

Ya Tuhan, nggak bisa lebih sakit lagi ya hari ini?

“Fri, lu kenapa? Pucet gitu? Udah makan siang belum??” Isa yang tadi sibuk berusaha mencari perhatian Zen tiba-tiba berdiri di depanku.

“Udah,udah. Gua nggak kenapa-napa, kok. Kecapekan kali ya, semalam gua tidurnya telat banget,” aku berkilah.

“Beneran lu nggak apa-apa?”

“Beneran, Sa! Gua kecapekan aja. Lu ada minuman energi nggak?”

“Lu masa minuman yang begitu?!! Nih gua kasih cokelat aja! Kalo itu ada satu kantong gua,” Isa sibuk merogoh-rogoh tasnya dan mencarikan cokelat. Setengah hati aku menerima pemberian cokelat dari Isa. Kayaknya mau segentong cokelat diberikan juga, nggak akan  bisa mengurangi rasa sakit yang aku rasakan sekarang.

Belum pernah ditolak tanpa benar-benar menyatakan sebelumnya.

Malamnya

“Ya Tuhan, jadi begini ya, kan ceritanya saya ngecengin cowok nih, namanya Yoga, pokoknya pria idaman banget deh. Nah, ternyata, sebelum saya sempat memberikan sinyal apapun, baru banget kenalan loh tadi pagi, saya udah ditolak. Ternyata saya bukan tipe dia. Nah, masalahnya gini Ya Tuhanku yang Maha Mengerti semua masalah, kan sepertinya dia mau membantu saya meningkatkan kemampuan foto, dan kalau misalnya tiba-tiba saya menunjukkan kalau saya menjauh, kayaknya bakalan aneh deh. Jadi, sekarang saya jadi masochist begini. Nggak tahu deh Ya Tuhan, kayaknya saya emang gila. Padahal sah-sah aja kan saya menjauh, toh baru pertama ketemu juga. Anggap aja saya lupa, nggak ingat, dan sebagainya. Tapi dasar saya emang suka menyakiti diri sendiri, malah saya lakukan juga. Jadi, kesimpulan saya ngomong panjang lebar begini, tolong Ya Tuhan, tolong maafkan saya karena saya norak begini. Tolong kasih saya kekuatan sedikit saja untuk menerima bahwa saya nggak akan mungkin dilirik sama orang yang saya kecengin ini. Dan tolong sekali, tolong kalau saya diizinkan punya pasangan, pasangannya segera didatangkan dan dimudahkan jalannya. Kalau saya nggak diizinkan punya pasangan, tolong lapangkan hati saya yang sempit ini. Terima kasih Ya Tuhan.”

ps: penjelasan istilah fotografinya menyusul ya, maaf banget nih

Advertisements

6 thoughts on “Aku dan Kamu (4)

  1. arrrrgggghhh lempar aja yoga-nya pk monyet arrrrgggghhhh biar dicakar-cakar lidah sok taunya itu…. gggrrrrrrraaaaaaaaaaa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s