Novel

Aku dan Kamu (3)

3

Yoga

Sabtu pagi yang ditunggu sudah tiba. Setelah memastikan sekali lagi bahwa semua perlengkapanku sudah aman di dalam tas kamera, aku membawa semuanya ke dalam mobil. Jam lima lebih tiga puluh menit aku sudah melajukan kendaraanku ke arah kampus. Sesuai perjanjian, kami akan bertemu di kampus pukul enam pagi, dan paling lambat pukul enam tiga puluh berangkat ke curug cimahi.

Untunglah jalanan Bandung di Sabtu pagi nggak macet (ya iyalah, siapa juga yang subuh-subuh buta begini keluar rumah?), jadi dalam waktu tiga puluh menit aku sudah sampai di gerbang depan kampus. Sudah menungguku di tukang bubur adalah Dani dan dua orang gadis yang kucurigai sebagai adik sepupu dan teman adik sepupunya. Aku memarkir mobil dan menghampiri mereka.

“Oi, Cuma seginian nih?” tanyaku pada Dani.

“Ada empat orang lagi, Ga. Masih di daerah dago mereka, bentar lagi sampe. Lu udah sarapan?”

“Udah, makan roti di rumah.”

“Ini adek sepupu gua, Zen. Yang itu temennya, Frida,” Dani mengenalkan kedua gadis itu padaku. Aku bersalaman dengan mereka berdua. Zen berambut pendek sebahu dan badannya berisi, dan sepertinya tomboy. Kalau Frida, terlepas dari kerudung yang dia pakai, penampilannya amat sangat meneriakkan “Gua tomboy!” Telapak tanganya kasar, celana jinsnya model pipa, kemejanya aku yakin kemeja pria, dan bawaannya se-Indonesia Raya. Aku sampai heran, anak ini mau hunting foto apa mau pindah rumah?

“Yoga,” aku memperkenalkan diri, “Kalian tingkat berapa?”

“Menurut lu kami tingkat berapa?” Frida balik bertanya. Paling sebel aku kalau ada balasan seperti ini. Nanti kalau dijawab lebih tua, ngamuk. Heran.

“Jawab aja, nggak akan ada yang marah kok,” desak Frida dengan wajahnya yang sumringah.

“Tingkat tiga?” aku menjawab dengan ragu-ragu. Lucunya mereka berdua langsung bersorak-sorak kegirangan, pakai acara tos tangan lagi.

“Bisa-bisanya lu ketipu sama mereka, Ga! Ini dua krucil-krucil nggak berguna ini lagi S2 juga sama kayak kita. Dan mereka empat tahun lebih muda. Tingkat tiga apaan? Muka udah tua semua kayak begitu!” Dani bersungut-sungut tidak jelas sambil terus menyantap bubur ayamnya.

“Yey, biarin aja kali Dan! Dari jaman dulu selalu disangka lebih tua, pas giliran udah tua disangka muda siapa yang nggak seneng,” Zen menimpali dengan sengit.

“Itu artinya bukan lu yang jadi muda, tapi makin tambah usia makin kayak anak-anak!” balas Dani.

Gelut geluuutt…. Gelut geluuutt,” Frida bertepuk tangan dan bersenandung memprovokasi (gelut = berantem –Sunda-). Aku mendelik tajam pada Frida. Temannya berantem malah dipanas-panasin.

“Berisik!!” Dani dan Zen sama-sama memarahi Frida yang hanya menanggapinya dengan tertawa terbahak-bahak. Lalu tak lama kemudian, ketiganya jadi terbahak-bahak juga. Belum pernah aku melihat Dani seperti ini, jangan-jangan mereka bertiga emang selalu begini ya? Agak-agak sakit jiwa rupanya.

“Isa ikut nggak, Dan?” aku mengubah topik pembicaraan.

“Ikut, ikut. Dia ikut mobil yang satu lagi,” jawab Dani santai.

“Tumben dia bisa bangun pagi,” kataku acuh tak acuh.

“Ada rahasianya itu biar dia bisa bangun pagi.”

“Apa tuh?”

“Ada lah, entar gua kasih tau. Nah itu mobilnya. Yuk yuk, masuk mobil semuanya. Gua bayar dulu buburnya.

“Jangan lupa, Dan, tadi buburnya dua mangkok!!” Frida berseru sambil tertawa lagi.

Pagi-pagi udah ketemu tiga orang nggak waras, ditambah satu mobil lagi yang isinya lebih nggak waras, mau jadi apalah hari ini.

Frida

Makjang!! Ganteng banget! Banget! Banget! Banget! Jadi ini temennya Dani, abang sepupunya Zen? Astaga, ini mah kayak mimpi jadi kenyataan. Maksudnya tipe cowok yang dikeceng bener-bener ada di depan mata, bener-bener bisa kenalan, dan bakalan bisa ngobrol seharian (eh yah setidaknya nggak mungkin seharian diam membisu kan?). Soalnya dari jaman dahulu kala, aku nggak pernah ketemu sama cowok yang sesuai tipe, lalu berani berkenalan, dan akhirnya ngobrol. Yang terjadi adalah, aku ketemu cowok yang sesuai tipe, aku melongo-longo kayak sapi baru bangun tidur, karena nggak berani kenalan, jadinya curi-curi pandang tapi lebih terlihat seperti tampang orang mau nyopet, dan ternyata cowok yang dikeceng lagi bawa gandengan. Sial banget kan?

Jadi pagi ini ibarat ketiban durian runtuh. Eh, mungkin tepatnya ketiban orang ganteng (meskipun tidak secara harfiah tentunya). Meskipun, seperti yang sudah-sudah aku nggak akan berani untuk sok kenal sok dekat dengan Yoga, tapi mendengar suaranya aja udah cukup deh. Iya iya, kampung bener emang, tapi mau gimana lagi? Udah lama banget aku nggak ngeceng, di kampus meskipun mataku jelalatan melihat dedek-dedek ganteng, tapi tetap saja, hanya cuci mata. Kalau yang ini, ini sih…

Astaga, aku sudah gila!!

Sepanjang perjalanan aku hanya diam, sesekali ngobrol dengan Zen, atau menjawab pertanyaan Dani. Dan karena perjalanannya itu cukup jauh, ditambah lagi semalam aku tidur larut, yang terjadi kemudian adalah aku tertidur. Dengan pulasnya.

Yoga

Meskipun Curug Cimahi ini cukup jauh dari kampus, tapi karena jalanan tidak terlalu ramai, aku bisa melajukan kendaraan dengan cukup cepat. Pembicaraan di mobil didominasi olehku dan Dani, sesekali ditimpali Zen atau Frida yang anehnya berubah jadi pendiam selama perjalanan.

“Yaelah, dia tidur!” Zen tiba-tiba menggerutu.

Aku melirik ke kaca spion tengah dan benar saja, ternyata Frida tidur dengan pulasnya. Kepalanya bersandar di kaca mobil, agak menengadah, dan astaga, mulutnya menganga! Aku mengembalikan pandangan ke jalan yang ada di hadapanku, tapi apa yang kulihat barusan tetap terpatri dalam ingatanku.

Perempuan, tidur, mulut ternganga!

Astaga! Kalau aku ngecengin dia, sudah pasti aku mundur seketika. Tidur dengan mulut ternganga!! Harus ada yang member tahu gadis yang satu ini bahwa tidur dengan mulut ternganga, bukan di kamar sendiri, adalah hal yang sangat tidak boleh dilakukan.

Untunglah aku nggak ngecengin anak ini. Gadis yang akan kutaksir nggak mungkin melakukan hal seperti itu. Kalau tidur, akan tidur dengan anggun, bukan seperti… ah sudahlah. Bukan urusanku juga.

Frida

“Fri, lu tadi malu-maluin banget deh!” bisik Zen saat kami menuruni tangga setelah tiba di Curug Cimahi.

“Malu-maluin kenapa,” tanyaku masih mengumpulkan nyawa setelah tidur dengan pulasnya tadi.

“Lu tadi tidur dengan mulut terbuka!” Zen menggandeng lenganku dan menjepitnya dengan keras sangking kesalnya dia.

HAA?!!!

Aku menelan ludah dan tiba-tiba rasanya tidak ada udara yang masuk ke paru-paruku. Astaghfirullah. Matilah. Tidur dengan mulut ternganga di depan (eh di belakang sih tadi posisinya) kecengan sama seperti kentut di hadapan orang itu.

Preeeeet!!!

“Kenapa lu nggak bangunin gua tadi??” tanyaku dari balik gigi yang kurapatkan.

“Gimana cara ngebanguninnya coba? Udah gua toel-toel, nggak bangun-bangun lu! Kenapa sih pake tidur segala?”

“Semalam gua tidur jam satu euy. Ngedit foto hunting minggu kemaren,” jawabku lemas.

“Untung nggak pada ngeledekin lu. Kayaknya pada maklum karena kita berangkat pagi-pagi. Lain kali kalo mau tidur, bilang-bilang, biar bisa gua ingetin,” Zen.

Aku mengangguk lemah, badanku terasa lemas. Yoga pasti lihat, dan meskipun dia nggak terpikir untuk ngecengin aku, sudah pasti nilaiku berkurang jadi minus dua ratus di mata dia. Nasib nasib, kenapa ya sial melulu kalau sudah soal beginian?

Yoga

Udara masih dingin di sini, dan segar. Bebas polusi, yah kalaupun ada polusi, tapi tidak sebanyak di kota. Aku menghirup dalam-dalam udara bersih yang bercampur dengan aroma tanah lembab dan embun pagi. Selalu senang kalau hunting foto di alam terbuka seperti ini. Entah kenapa kepenatan selalu hilang seketika. Minimal berkurang.

Aku mengeluarkan kamera dan mulai mengatur setting kamera. Di sekitarku, yang lain juga mulai melakukan hal yang sama. Dari sudut mataku, aku melihat Isa pelan-pelan mendekati Zen, dan cengar-cengir nggak jelas.

“Jangan diliatin,” kata Dani yang tiba-tiba ada di sampingku.

“Lu nyodorin adek sepupu sendiri supaya si Isa nggak datang terlambat??” aku menggeram.

“Isa emang udah lama naksir sama Zen, tapi dia nggak bilang-bilang. Kemaren gua bilang, Zen bakalan ikut, dan Zen paling nggak suka sama orang yang terlambat,” Dani menjelaskan.

“Dan Isa akan melakukan apapun untuk Zen?” tebakku.

“Betul sekali. Plus, Isa juga jadi bisa pedekate kan sama Zen? Gua udah berbaik hati loh,” Dani membusungkan dada.

“Baik hati gundulmu itu! Udah ah, gua jalan duluan, entar kumpul dimana gitu, gua ikut aja. Yuk ah,” kataku lalu berjalan menjauh. Setiap hunting foto begini, aku pasti memilih menyendiri. Karena aneh juga kalau bersama-sama memotret satu objek. Bukan gayaku, itu saja.

Sambil aku berjalan dan sesekali memotret, aku melihat Frida sudah ada di depanku. Cepet amat anak itu? Aku berjalan mendekati Frida yang sedang asyik memfoto bunga.

“Cepet amat, udah ada di sini,” kataku berhenti di belakangnya.

“WHOAAAA!!!” Frida menjerit kaget hingga terlompat dan hampir jatuh.

“Kalo mau nyapa orang, kasih pengumuman dulu kek! Jangan mengendap-ngendap gitu, kenapa?!!” Frida berseru kaget bercampur marah.

“Maaf, maaf. Gua kira lu denger atau liat gua jalan ke sini,” kataku menenangkan. Baru kali ini aku melihat ada orang bisa sekaget ini.

“Gua mau foto bunga, bukan mau foto orang jalan!” Frida bersungut-sungut dan berusaha menenangkan diri.

“Maaf, Fri. Asik banget kayaknya lu motret,” aku mencoba bicara santai.

“Gua lagi nyobain fokus manual. Biasanya kan pakai autofokus,” Frida menjelaskan lalu mengangkat bahu, tak yakin.

“Susah?”

“Lumayan susah sih, soalnya perasaan udah pas, pas diliat di layar, ternyata masih agak goyang.”

“Coba aja terus, harus terbiasa sih itu. Ngomong-ngomong lu pake f-stop berapa?”

“Yang paling rendah. Biar DOF (Depth of field) nya sempit, jadi ada efek bokehnya juga,” Frida melirik ragu padaku.

“Gua baca di artikel-artikel sih gitu,” tambahnya lagi, ragu.

Aku tersenyum, “Bener kok. Lu serius banget kayaknya belajar fotografi. Baru?”

“Baru, dan emang mau serius banget,” jawab Frida dengan mantap.

“Ya udah, moto lagi sana. Nanti kita liat hasilnya.”

“Seriusan? Mau bantuin nilai hasil foto gua?” Frida bertanya dengan mata berbinar-binar.

“Kenapa nggak? Gua suka semangat lu belajar. Gua jalan lagi.”

“Oke!”

Frida

Yoga mau bantuin aku belajar fotografi!!! Rasanya ingin menusuk diri dengan duri deh. Sayangnya nggak ada mawar di sini, jadi nggak bisa pura-pura ketusuk duri! Aku mencubit lenganku kuat-kuat. SAKIT! Ya ampun, bukan mimpi.

Baiklah, aku akan belajar sekuat tenaga! Dia akan terkaget-kaget melihat hasil fotoku nanti. Aku kembali menekuni bunga yang sedang kufoto tadi, dan mencoba memfotonya lagi. Ah tak sabar hingga Yoga melihat hasil foto-fotoku.

Advertisements

8 thoughts on “Aku dan Kamu (3)

  1. emang kalo perempuan tidur mangap tu ga enak dilihat ya? *garuk2 kepala*
    emang kalo laki-laki tidurnya ga mangap ya? *garuk2 leher*
    emang….. *garuk2 bisul*

    oiya, gimana kalo dikasih keterangan tentang istilah2 yang dipake?? karena mungkin ga semua orang yang baca ini ngerti soal fotografi.. jadi selain bikin novel 30 hari menulis, selain share pengetahuan juga.. kalo perlu sekalian bikin kondisi karakternya sakit dan harus minum obat tertentu, terus sebut nama obatnya apa.. hehehe.. saran iseng..

    1. biasanya sih gak enak diliat, apalagi sama cowo. suka bikin ilpil :p laki2 tidur mangap jg suka gak enak diliat kok 😀 (mau dikasih obat bisul, pit? :p) oh ya, emg rencananya begitu sih, kemaren karna cepet2 ingin dipublish,jadinya ndak sempet membuat footnote. nanti akan diedit dan ditambah penjelasan istilah2 fotografinya juga.. Oh boleh nanti idibikin deh kondisi karakternya sakit, atau yg keluarganya sakit, jadi sekalian menjelaskan tentang penyakit dan obatnya, hihihi 😀 makasih loh sarannya ipit ^^

  2. Hi writers:). We like the way you set your point of view, by creating a tittle for Frida or Yoga. It makes easier for us to understand about what going on. Also this duo main character was very fun to see, man and women interact indirectly with their own thought:). We hope there will be more unprecedented conflict, love, problems or anythings that you want in this novel.

    Keep it up your good works. Can’t wait to read the next part

    1. Thank you so much for the comment, the suggestion ^^ We’ll see what mess this duo will do in the future time, sometimes they confuse me too with their attitude :p ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s