Novel

Aku dan Kamu (2)

*Lanjutan cerita sebelumnya, dalam rangka 30 Hari Menulis, tantangan bulan ini adalah menulis Novel dengan 50.000 kata (info lebih lengkap, silahkan lihat di sini ).  Ditunggu komentar, kritik, dan sarannya ^ Selamat membaca *

2

Frida

Bandung hari ini panas betul. Padahal baru jam sepuluh pagi, tapi sinar mataharinya begitu terik dan panasnya menyengat kulit. Betul! Aku kan kemana-mana mengendarai motor, dan hari ini, karena melihat cuaca yang panas, aku tidak pakai jaket dari rumah. Alhasil, begitu sampai kampus, pergelangan tanganku yang tidak tertutup baju langsung memerah dan bisa dipastikan dalam waktu beberapa jam akan berubah jadi hitam. Sudah kulitku hitam, tambah hitam pula. Aduh!

Setelah mengunci ganda sepeda motorku, aku berjalan dengan santai sambil mendengarkan lagu lewat earphone ke gedung jurusanku yang tidak terlalu jauh dari lapangan parkir.

BRAK!

Karena aku terlalu konsentrasi memilih lagu dari ponselku, tak sengaja aku menabrak seseorang.

“Maaf, Mas!” aku langsung minta maaf. Iyalah, salahku juga sih.

“Nggak apa-apa, Mbak,” kata mas yang aku tabrak sambil menyunggingkan senyum. Sekali lagi aku meminta maaf lalu melanjutkan jalan dan tersenyum sendiri. Kayaknya hari ini Tuhan sedang baik padaku. Sebagai kompensasi kulit yang gosong terbakar matahari (bukannya aku takut kulitku gosong, tapi kalau jadi belang-belang kayak zebra begini kan sungguh tidak enak dilihat), Dia memberikan pemandangan yang sangat indah buatku. Tak lain dan tak bukan adalah dedek-dedek ganteng. Aku yakin sekali, yang kutabrak dengan tidak sengaja barusan lebih muda setidaknya tiga tahun dari usiaku. Pertama, karena wajahnya masih memancarkan kepolosan dan idealisme anak muda yang belum melihat realitas dunia. Kedua, dia memakai jaket himpunan yang warnanya masih cerah (alias belum bladus), yang amat sangat meneriakkan kemudaannya.

Ini juga yang membuatku tidak terlalu menyesali keputusanku melanjutkan kuliah. Bisa ngecengin dedek-dedek ganteng di seantero kampus, yang meskipun tidak segagah pria-pria jaman dahulu kala (setidaknya jaman dahulu kala itu adalah senior-senior empat tahun di atasku waktu aku baru masuk kuliah dulu), tapi wajahnya amat sangat enak dipandang.

“Frida!!” aku seketika berhenti berjalan saat mendengar seseorang memanggilku.

Toleh kiri, toleh kanan, tengok belakang, eh temanku ternyata!

“Oi, Zen!” sapaku.

“Udah diteriakin berkali-kali tetep aja nggak denger! Makanya itu volume lagunya jangan kenceng-kenceng amat, Mbak!” Zen (nama panjangnya Zenitha, tapi berkeras dipanggil Zen) memukul lengan atasku.

“Ya maaf deh. Ngapain lu datang jam segini ke kampus?”

“Jiah, gua kan asistensi barengan lu. Kan nyiapin pereaksinya dulu, ceceu!

“Eh iya ya. Lupa gua. Maklumlah, udah lanjut usia,”candaku.

“Lanjut usia apaan? Paling juga lu lagi tersipu-sipu habis nabrak dedek-dedek ganteng kan?”

“Loh, kok lu tau, Zen? Lu ngintilin gua ya dari tadi?!”

“Orang gua dari tadi di belakang lu, Fri.  Gua jadi saksi hidup kejadian tadi. Tapi emang ganteng sih si dedek-dedek tadi,” Zen.

“Tuh kan, nggak salah kan gua keleyer-keleyer ngeliat dia? Lesung pipinya itu loh! Aduuh, mau nggak dek, jadi pacar tante??” aku menengadahkan kepala dengan dramatis dan bicara dengan langit seolah-olah si dedek ganteng ada di langit.

“Lu mah tante-tante nggak tahu diri, Fri! Harusnya diajak kenalan tuh tadi. Salah lu mah, malah Cuma minta maaf aja.”

“Habisnya gua kan segan juga, Zen. Masa gua ngajak kenalan. Dikira tante-tante kegatelan lagi entar. Emang agak-agak kegatelan sih, tapi kan nggak boleh ada yang tau,” aku membela diri. Zen hanya mencibir mendengar alasanku yang sangat nggak banget itu.

“Eh, kebayang nggak sih kalau gua tiba-tiba bilang, ‘Dek, garukin tante dong, gatel nih,’ bakalan jadi apa ya?” tiba-tiba aku bertanya-tanya sendiri sambil cekikikan.

“Jadi najis tau!! Yang ada dedek-dedeknya langsung mandi tujuh kali, yang sekali pake tanah!” Zen membalas sambil tertawa terbahak-bahak.

“Emangnya gua anjing?!!” kami terus terbahak-bahak sampai masuk ke ruang kecil di laboratorium tempat kami ‘nongkrong’ alias tempat kami menyimpan tas, mengerjakan tugas, dan lain sebagainya.

Aku membuka jendela-jendela di ruang kecil yang ada di lab dan duduk di salah satu kursi yang bersandar ke dinding. Zen sendiri sudah mengambil posisi saktinya di meja yang dekat dengan stok kontak dan sudah menyalakan netbooknya. Anak ini emang keranjingan internet dan mengunduh film. Herannya, tetap saja nilainya bagus-bagus, tidak pernah sekalipun nilai ujiannya jelek.

“Fri, tapi gua serius tadi. Kenapa nggak lu ajak kenalan sih? Kan lumayan tuh,” tanya Zen heran.

Aku menghela napas dalam, dan mengubah posisi duduk, “Buat apa juga, Zen?”

“Yaelah, kan lu mau cari pasangan juga. Siapa tau dia sukanya sama yang lebih tua?”

“Otak lu kudu diperiksa, tau nggak? Mana ada Cuma lihat sekilas begitu bisa naksir? Nggak ada itu cinta pada tabrakan pertama,” kataku sinis yang dibalas dengan cengiran lebar Zen.

“Tapi dia tadi abis tabrakan sama lu, nengok lagi ke belakang loh.”

“Ya palingan juga mikir, ‘Ini mbak-mbak, masih pagi kok udah teller. Mabok apa ya,” jawabku cemberut.

“Lu mah kebiasaan deh mikirnya yang aneh-aneh. Gimana sih, katanya pengen cari pasangan, tapi kira-kira ada kesempatan, langsung kabur, bikin alasan. Serius nggak sih?”

“Gak ngerti deh. Gua sendiri nggak yakin tentang punya pasangan hidup ini. Maksudnya gua sudah sampe tahap bener-bener ingin punya pasangan, tapi kan yang kebayang sama gua Cuma yang agak senang-senangnya saja. Nikah kan nggak kayak main ke Dufan, bayar tiket terusan, main sampe puas, pulang terus tidur nyenyak. Gua bahkan nggak yakin gua bener-bener siap untuk jadi istri. Kalau jadi ibu sih, kayaknya gua siap. Malah kalau bisa, gua nggak punya suami, tapi punya anak aja gimana ya?”

“Udah nggak waras lu ya!” Zen menggelengkan kepalanya tak percaya.

“Ya sekarang liat aja deh, emang siapa yang mau suka sama gua? Di kampus sisanya brondong-brondong yang kapan juga gua berinteraksi sama mereka? Terus lu tau ibu dan bapak gua kayak apa. Baru mau pergi hunting foto sama lu aja, interogasinya udah kayak yang mau berangkat ke luar kota sendiri. Pake acara pesan sponsor jangan kenalan sama orang lah. Gimana mau dilirik orang kalau begitu caranya?! Lagian gua kan suka ketakutan, Zen, kalau kira-kira ada yang mau ngedeketin. Baru diliatin aja, gua udah ngerasa bakalan diculik. Padahal mungkin aja gua diliatin gara-gara ada cabe nyelip di gigi,” keluhku.

Zen menghela napas panjang. Padahal harusnya aku yang begitu. Keluhanku ini adalah keluhan basi yang dari dulu ya begitu-begitu saja. Tentang aku yang dahulu kala begitu agresif mengejar tapi begitu ada orang yang kira-kira menunjukkan ketertarikan padaku, aku kabur terbirit-birit. Tentang kedua orangtuaku yang nggak realistis sama sekali. Ingin anaknya menikah, tapi anaknya kenalan sama orang baru nggak boleh; baru mau pergi sebentar di akhir pekan, udah diwanti-wanti “hati-hati diperkosa.” Basi banget.

“Susah ya jadi lu. Kayaknya harus cowok yang benar-benar tepat setepat-tepatnya yang bisa buka jalan. Ngomong-ngomong soal kontradiksi, kenapa sih lu bisa berubah banget dari tipe pengejar jadi super pasif begini?”

“Ya, karena perempuan itu tidak mengejar, Zen. Karena permainan kejar-daku-kau-kutangkap itu adalah permainannya laki-laki. Masalahnya kalau dulu, gua yang jadi pengejar, trik-triknya banyak lah. Malah gua pikir-pikir, gua lebih gentle ketimbang laki-laki sendiri. Dan dari pengalaman gua mengejar, kok kayaknya gua mengejar orang yang salah melulu ya? Sekarang, gua serahkan saja sama Tuhan. Siapa yang dikasih, itu yang gua terima, dan gua nggak akan mengejar. Masalahnya, gua nggak tau gimana aturan main jadi orang yang dikejar. Jadinya pasif begini, deh gua. Kayak kata gua tadi, baru dilirik aja udah keringet dingin gua,” aku menjelaskan panjang lebar.

“Yang sabar ya Fri, jangan depresi terus gantung diri,” timpal Zen jahil.

“Tenang aja Zen, sebelum gua gantung diri, gua gantung lu dulu! Udah ah, gua mau cek persiapan di lab. Lu jangan internetan mulu, tadi katanya mau liat persiapan praktikum. Buruan ke lab bareng gua!”aku bangkit dari duduk dan berjalan ke luar ruangan.

“Lima menit lagi ya, lagi cari link buat download film!” seru Zen.

Ah, pagi-pagi udah ngomongin pasangan lagi, pasangan lagi. Obrolan pagi itu harusnya adalah agenda bersenang-senang apa yang akan dilakukan hari ini. Awas si Zen, nanti sore kupaksa dia makan bakso malang denganku.

Yoga

 Melanjutkan sekolah sebenarnya bukan keputusan yang kuambil secara suka rela. Karena aku tidak suka, dan sama sekali tidak rela untuk sekolah lagi. Cukup empat tahun kuhabiskan di kampus untuk mendapatkan gelar sarjana. Aku sama sekali nggak ada niat untuk kuliah lagi dari dulu sampai sekarang (bahkan sampai masa yang akan datang sepertinya). Tapi, apa daya, bos besar menyuruhku mengambil gelar master untuk memperdalam dan sekaligus meneliti permasalahan yang nantinya harus kuimplementasikan di perusahaan. Padahal aku sudah berdoa siang dan malam supaya jangan aku yang terpilih untuk ditendang kembali ke kampus ini, eh malah aku yang harus kuliah lagi.

Awalnya aku benar-benar tidak bersemangat kuliah lagi. Duduk di kelas selama dua jam penuh, dengan jam kuliah yang kadang tidak manusiawi, lapangan parkir kampus yang makin lama makin penuh sesak (yang membuatku harus datang ke kampus pagi-pagi sekali, atau terpaksa parkir di pinggir jalan), kantin yang selalu penuh dengan anak-anak muda yang merasa dirinya paling hebat sedunia padahal belum ada apa-apanya, aduh! Tapi, setelah beberapa minggu, aku baru menyadari bahwa junior-juniorku di kampus (baik dari jurusan yang sama maupun dari jurusan yang berbeda) ternyata semakin cantik. Benar. Jamanku dulu, wanita cantik di kampus, yang dandanannya modis bisa dihitung dengan jari, itupun Cuma sebelah tangan lagi. Sekarang, wanita cantik berserakan di kampus. Muda, cantik, feminin, gaya.

Kata orang bijak, “Everything happens for a reason,” jangan-jangan bos besar menyuruhku kuliah lagi ini sebenarnya merupakan salah satu jalan untukku mencari calon pasangan hidup. Loh, iya kan? Di lokasi kerjaku, yang semuanya pria, mana ada ketemu wanita. Jangankan yang cantik, yang jenis kelaminnya perempuan saja, super sedikit. Itupun tukang masak yang suaminya juga kerja di perusahaan. Kalau aku sedang cuti, pulang ke Bandung, jalan-jalan, nggak cukup waktu untuk mencari dan menyortir calon-calon yang ada. Sekarang dikasih kesempatan dua tahun untuk mencari dan menyortir!

Wah, nggak jadi aku mengeluhnya, Tuhan. Terima kasih atas kesempatannya, kalau begini aku siap meluncurkan jurus-jurusku mencari wanita idaman. Masa sih nggak ada satupun yang sesuai keinginanku di sini? Pasti ada.

Sejak jaman kuliah dulu aku punya hobi fotografi. Jaman dimana kamera yang ada hanyalah kamera analog, yang untuk membeli filmnya saja aku dulu harus menabung uang jajan, belum lagi untuk mencuci-cetaknya. Dulu, setiap akhir pekan, aku dan teman-teman sejurusan yang sama-sama menyukai fotografi akan pergi hunting foto. Kemana saja. Ke pasar, ke stasiun kereta, ke terminal bis, dan ke tempat wisata (yang dulu tidak terlalu diurus seperti sekarang). Kalau ada acara-acara besar entah itu di kampus atau di seputaran kota, kami pasti pergi rame-rame dan hunting  foto di sana. Lalu nanti kami saling membandingkan hasil foto kami. Aku bahkan sempat mencoba beberapa kali mencuci cetak senditi foto-fotoku di kamar gelap yang ada di rumah temanku. Dulu nggak terpikir untuk membuat kamar gelap sendiri di rumah, tapi kamar gelap punya temanku itu cukup berguna untuk belajar.

Setelah kerja, aku masih melanjutkan hobi fotografiku. Meskipun ada di dunia antah berantah, tapi banyak objek foto yang menarik untuk diabadikan. Dan terima kasih pada kemajuan teknologi, dengan adanya kamera digital, semuanya jadi lebih mudah. Sekarang dengan banyaknya waktu luang, aku kembali menekuni hobi fotografiku. Kebetulan sekarang ada teman seangkatanku yang sama-sama sedang kuliah lagi, jadi kami sering hunting foto berdua. Atau ramai-ramai dengan komunitas fotografi lokal. Jadi, bisa dibilang kuliah lagi selain memberikan kesempatan untuk mencari calon istri, tapi juga mengasah dan mempertajam kemampuanku dalam fotografi,

Siang ini, sambil makan siang di kantin, Dani, temanku mengajak hunting foto lagi akhir pekan ini.

“Ga, mau hunting ke Curug Cimahi nggak?” Tanya Dani.

“Kapan? Sabtu ini?”

“Sabtu, Minggu, terserah lu aja kapan bisanya. Gua sih bisa kapan aja. Mau nggak?”

“Gua nggak hapal jalan kesana. Lu inget?”

“Inget, inget. Entar barengan sama temen-temen yang lain juga kok. Yuk.”

“Ayo aja gua, daripada suntuk di rumah juga, nggak ada kerjaan. Sabtu aja kalau gitu. Minggu gua mau istirahat aja di rumah.”

“Cih, istirahat, kayak kakek-kakek aja lu.”

“Berisik. Sabtu aja dah. Kumpul dimana? Mau pake mobil gua?”

“Gua sih yang jelas nebeng sama mobil lu. Yang lain entah. Nanti gua kabar-kabari lagi. Pagi-pagi ya, seperti biasa.”

“Si Isa ikut nggak? Kalo dia ikut, bisa telat kita. Dia kan kebluk banget. Tidur kayak kebo. Kalau dia ikut, jangan ikut mobil gua. Aslinya bakalan gua tinggal tu anak kalo telat lagi.”

“Nggak tau dia ikutan apa nggak. Iyalah dia mah tinggalin aja kalau telat lagi. Ganggu agenda orang aja. Suruh ngangkot aja ke sana. Nanti gua kasih tau anak-anak deh. Bawa baju ganti juga.”

“Sip. Eh, tugasnya Pak Sam udah ngerjain?”

“Belum, baru gua mau nanya lu.”

“Semprul!” makiku. Lalu kami sibuk membahas tugas yang belum sempat kami kerjakan dan susahnya minta ampun itu.

Frida

“Fri, Sabtu ini hunting foto lagi yuk!” ajak Zen. Kami baru saja selesai diskusi dengan praktikan dan sedang mengawasi mereka membereskan sisa-sisa pekerjaan mereka.

“Hunting kemana?” tanyaku. Kalau soal fotografi, aku pasti sangat bersemangat sekali. Sudah lama aku suka dengan fotografi, tapi baru setahun terakhir ini aku benar-benar serius menekuni hobiku yang satu ini. Sangking seriusnya, aku sampai meminjam buku fotografi (yang aneh tapi nyata, ternyata ada di perpustakaan kampusku hahaha), searching di internet tentang teori-teori dasar fotografi, bahkan membuat akun di sebuah situs berbagi foto. Pokoknya aku akan melakukan usaha yang terbaik supaya kemampuanku meningkat.

“Ke Curug Cimahi, mau nggak? Sama abang sepupu gua.”

“Buset dah, itu kan jauh banget! Gua pernah tuh ngelewatin curug itu. Naik apa kesananya?”

“Naik mobil temennya. Nanti rame-rame, sama komunitas fotografi tempat dia gabung juga. Mau nggak? Barusan banget si Bang Dani ngajakinnya.”

“Mau lah, gila! Kapan? Jam berapa kumpulnya? Dimana?” tanyaku bersemangat.

“Sabtu, kumpul jam enam di gerbang depan. Jangan telat, kalo telat ditinggalin entar,” wanti-wanti Zen.

“Asik! Sip sip, gua akan datang tepat waktu. Bawa apa aja nih?”

“Bawa kamera lah!”

“Itu mah nggak usah ditanya, Neng! Maksud gua bawa apa lagi selain kamera dan perlengkapannya?”

“Bawa baju ganti aja. Itu ka nada air terjunnya, mana tau abis  capek foto-foto kita main air.”

“Asik, asik! Nggak sabar hari Sabtu!!!” aku meloncat-loncat kegirangan.

“Heh, malu diliat praktikan,” tegur Zen.

“Bodo amat! Bweeek,” aku menjulurkan lidah mengejek Zen.

Advertisements

4 thoughts on “Aku dan Kamu (2)

  1. wah.. motong cerita di part 2 nya ga asik nih.. bikin orang penasaran.. apa yang terjadi di curug cimahi yang notebenenya dekat rumah saya.. =D

    penasaran sama perkembangan karakter yoga nanti jadinya seperti apa.. kalo fridanya sih, kayak ngelihat teh muthe.. kekekeke..

    1. justru itu sengaja dipotong di situ,krn di chapter berikutnya adalah ttg rendevouznya mereka berdua 😀

      adyuh adyuh ketauan (padahal mah tiap gw bikin novel, karakter wanitanya selalu mirip gw =)) :p ayoo kita liat aja seperti apa Yoga, gw jg penasaran sama Yoga ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s