Novel

Aku dan Kamu (1)

1

Frida

 “Kamu itu cantik, banyak yang suka.” Aku sudah bosan, super bosan mendengar kalimat ini. Entah itu ibuku yang bilang, temanku, temanku yang amat sangat jarang ketemu (yang ngomong-ngomong, entah darimana dia tahu kalau banyak yang suka padaku ya?), bahkan dosenku pun mengatakan hal yang sama! Reaksiku selalu sama, setiap kali mendengar  kalimat ini. Aku selalu ingin mengantuk-antukkan kepala ke dinding, lalu berteriak, “Mana?!! Mana itu yang suka sama saya?!!” Malah, aku sudah melakukan yang kedua, bertanya langsung pada yang mengeluarkan kalimat terkutuk itu.

Karena memang tidak ada yang suka. Lebih tepatnya kalau dibilang, tidak ada yang benar-benar menampakkan batang hidungnya di depanku dan bilang, “Frida, saya suka sama kamu.” Jadi kurasa semua orang itu pembohong. Bohong itu kalau bilang ada yang suka padaku. Bohong itu kalau bilang aku cantik. Mungkin cantik di kalangan primata non manusia, bukan di kalangan homo sapiens.

Tadinya aku tidak terlalu peduli sih dengan persoalan siapa menyukai siapa, dan sebagainya ini. Bahkan tadinya aku tidak mau menikah, dengan alasan yang sangat praktis dan agak sedikit feminis. Aku masih mau bersenang-senang sendirian, dan tidak mau dikekang oleh pasangan. Cukup dengan melihat apa yang terjadi pada pasangan suami istri di sekitarku, dimana para istri terbatas pergerakannya setelah menikah, membuatku ogah amit-amit jabang setan menikah. Lagipula aku punya teman-teman, masih bisa kumpul sana-sini, ketawa terbahak-bahak, ngobrol ngalor ngidul dan bahagia. Buat apa pasangan? Bikin repot saja. Usaha yang ditempuh tidak sebanding dengan hasil yang didapat. Apalagi setelah pengalamanku pacaran waktu itu. Persis seperti lagu dangdut, “cukup sekali aku merasaaaa… kegagalan cintaaaa.”

Ogah amit-amit jabang setan!

Tapi, waktu berjalan terus, keadaan berubah. Teman masih ada. Teman yang diajak bicara ngalor-ngidul juga ada. Sahabat untuk berbagi suka duka, selalu ada dan selalu ngobrol bersama. Yang tidak ada adalah teman untuk bermanja-manja. Yang tidak ada adalah teman untuk bersandar selepas hari yang panjang, hanya untuk bersandar saja, secara harfiah. Pinjam bahu, menyandarkan kepala di sana. Yang tidak ada adalah teman untuk berbagi mimpi, yang mau menemani meraih mimpi itu.

Mungkin… usaha yang dilakukan sebenarnya akan sebanding dengan hasil yang didapat. Sepertinya “ogah amit-amit jabang setan”nya harus kutarik lagi. Mungkin sudah saatnya berpikir untuk mencari teman itu. Teman yang mau dewasa bersama denganku, mau berbagi mimpi denganku, mau ngobrol ngalor-ngidul, mau berantem,mau berbaikan, mau tertawa bersama.

Karena itulah aku benci sekali kalau ada yang bilang bahwa banyak yang suka padaku. Karena pada kenyataannya tidak ada. Kalaupun ada, tidak ada yang dating ke hadapanku dan mengatakannya secara langsung. Aku kan bukan cenayang, tahu isi pikiran semua orang. Sekarang ini aku serius mempertimbangkan niatku untuk memiliki teman hidup, permanen, dengan segala usahanya yang mungkin tidak terlalu menyenangkan itu.

Dan tidak ada! Tidak ada satupun kandidat. Ya karena aku juga masih ragu-ragu mencarinya. Ditambah kondisi lain yang tidak terlalu mendukungku untuk mencari si calon teman hidup permanen ini. Kalau tidak ada, wajar. Tapi kan sebal sekali kalau tiba-tiba ada yang melempar kata-kata itu ke depan mukaku. Banyak yang suka dari sebelah mana?? Kalau memang banyak yang suka, sudah ngantri di depan rumah. Kalau memang banyak yang suka, sudah berisik telepon tidak berhenti berdering.

Ah sudahlah, tak usah dipikirkan lagi kalimat terkutuk itu. Bisa botak lama-lama kalau memikirkannya terus. Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti. Tapi, kalau ada yang sekali lagi mengatakan itu padaku, mungkin akan kutonjok orang itu, atau benar-benar kuteriaki pakai toa.

Yoga

Buru-buru menikah karena umur sudah mendesak tidak parah. Yang parah adalah, sudah dikejar umur, dikejar keluarga juga. Lama-lama gendang telingaku bisa pecah kalau nyaris setiap hari mendengar pertanyaan, “Kapan kamu akan menikah? Usia sudah cukup, finasial sudah mapan, mau apa lagi?” Kalimat yang serupa, dengan kombinasi pertanyaan yang agak sedikit bervariasi, yang terus diulang-ulang seperti kaset rusak.

Ada apa sih dengan orang-orang ini? Dipikir menikah itu sederhana apa? Maaf-maaf ya, tapi aku juga punya kriteria wanita idamanku sendiri, yang hingga saat ini belum ketemu. Tepatnya sih, kalau pun ketemu, seringnya wanita itu sudah keburu jadi milik orang. Atau sebelum aku sempat pedekate, sudah keburu ada orang lain yang pedekate sama dia.

Hah, susah betul cari calon istri. Giliran belum siap menikah, calonnya ada dan buru-buru minta nikah. Giliran udah siap nikah, malah susah banget nyari calon yang sesuai criteria. Coba deh Tuhan, tolong berikan petunjukMu! Bukan hanya karena aku sudah nggak tahan lagi melajang, tapi ini demi kesehatan telingaku (yang diragukan apakah masih akan berfungsi dengan baik kalau terus-terusan mendengar pertanyaan itu lagi itu lagi). Kriteria wanita idamanku nggak susah kok, Tuhan. Hanya yang lembut, keibuan, bisa memahamiku, dan bisa menjadi istri yang baik dan shalehah.

Padahal populasi wanita di dunia lebih banyak dibanding laki-laki. Kok nyari satu saja susah bener ya?

 —

ps: I am trying to make novel a a part of 30 days of writing (30 hari menulis) , which the challenge of this month is writing 50.000 words novel. Here’s the part one of the novel.

Advertisements

12 thoughts on “Aku dan Kamu (1)

    1. Betul sekali Ru ^^ -emang kita2 ini tipe yang super mandiri kayaknya, sampe bisa bikin frustasi pasangan –> dulu sih mantan2 gw gitu, sangking gw ndak “bergantung” :))-

  1. baca ini aku jadi kasian sama si setan.. masih jabang tapi udah diamit-amitin.. :p tata bahasanya sederhana, bisa masuk kalangan remaja nanggung mau dewasa nih kayaknya.. masalah yang jadi sorotan juga Indonesia banget.. kayaknya cuma di negara2 kayak kita aja masalah nikah bisa dibawa ke rapat keluarga besar.. udah macam disidang aja rapatnya tu.. (pengalaman pribadi =D)

    di luar itu, penasaran part 2 nya kayak apa.. jadi komen selanjutnya di part 2 aja yaaaa… hehehehe

    1. asiiiikk… makasih ya ipiit. seneng deh dapet feedback. iya nih keknya di negara kita (secara umum di negara2 timur emang tentang nikah2 ini bisa jadi konferensi tingkat keluarga sih :p) yg dibahas begitu alot soal nikah2 ini. selamat membaca bagian selanjutnya ^^

  2. cerita khas muthe banget, menceritakan seorang perempuan yg agak-agak sensi sama yang namanya pernikahan :p

    *lanjut baca postingan berikutnya :D*

    1. rimaaa.. di cerita yang ini mah justru ndak sensi sama nikah :p justru pengen nikah, tp ndak mau sama sembarang orang 😀 *eh orangnya jg ndak ada buwahahaha*

    1. hihihi… iya ya tisha dan kamal 😀 ini ndak tau akan sampe part 30 atau ndak, cuma emg targetnya dalam 30 hari sudah sampe 50 rebu kata. so far, baru 6 rb saja 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s