Life · Thoughts

Kill the God, then!

Kira-kira beberapa hari yang lalu, gw membaca status seorang kenalan yang bunyinya begini : “It’s been 20 years of darkness since I was only 5, and sure I blame you god for making this life so damned unfair.”

Sebelum gw berkomentar tentang statusnya (anyway, gw balas status dia gini : quote dari film Hannah Montana => life is never fair, suck it up dude!), si kenalan gw ini adalah penderita SLE atau lebih dikenal dengan penyakit lupus, sejak usia dia 22 atau 23 tahun lah.

Gw bukan orang taat beragama. Gw juga bukan orang yang sepanjang hidup gw bahagia. Hell, I had through the depression time, time when I blamed my parents for everything *well I still do for some reasons*, I blamed God for the unfairness of my life, I blamed myself, even I wondered why I was born into this very suck world. Untuk menambah informasi, gw bahkan nggak tau kehidupan seperti apa yang dijalani oleh kenalan gw ini. Yang jelas, kalo orang gak kenal2 dia amat, terus baca statusnya, pasti mikir : dia itu, punya pacar yang sepertinya sayang banget sama dia, punya kerjaan yang bagus, anaknya manis dan cerdas, mau apa lagi sih dalam hidup??

But, there’s a proverb “don’t judge a book by it’s cover”, hal ini berlaku sama dia. Sekali lagi, gw nggak tau kehidupan yang dia jalani kayak apa, keluarga dia macam apa, jenis orang macam apa yang jadi teman/sahabat dia, tapi gw tetep merasa geram sama dia.

Pertama, jelas dia udah tau kalau dia nggak akan pernah menang dengan menggugat Tuhan *dia bilang sendiri di komentar balasannya*, bukannya harusnya dia mikir bahwa saat dia tidak menang, dia harusnya berhenti menggugat dan melihat celah untuk kompromi? Atau menerima kalah. Terus menggugat bukan berarti teguh pendirian, tapi bodoh.

Kedua, semua jawaban pertanyaan dalam hidup kita, pasti akan ada jawabannya. Mungkin bukan saat ini, mungkin bukan minggu depan, mungkin datangnya pas kita mau mati, tapi pasti ada jawabannya. Jadi, carilah jawaban itu dan bersabar serta yakin, jawaban itu akan datang. Plus, lu berdoa, berharap supaya dikasih jawabannya.

Ketiga, saat lu mikir Tuhan nggak adil, ya sudah Tuhan tidak akan adil sama lu. Saat lu yakin bahwa Dia adil, dan punya rencana besar terhadap hidup lu, bahkan di saat tergelap dalam hidup lu, entah bagaimana pasti keadaan hidup lu akan membaik. Pertolongan yang lu harapkan itu akan datang.

Keempat, if you’re so angry with God, if you keep blaming Him, isn’t it easier if you stop believe Him? Why waste your energy on hatred Him? Isn’t it better if you just don’t believe Him and just focus on controlling your life?

Mungkin dia hanya pengecut. Karena dia tau dia nggak akan bisa mengatur hidupnya sebaik Tuhan mengatur hidup dia. Mungkin dia hanya lemah karena dia nggak berani mengakui pada diri sendiri bahwa dia adalah si manusia negatif, yang kerjanya mencari-cari kesalahan orang untuk sesuatu yang belum tentu kesalahan orang.

Dia bilang hidup orang lain gak sesusah dia? Well, hak preogratif dia untuk mengatakan hal itu, setiap orang berhak menyatakan bahwa masalah yang sedang diembannya adalah masalah paling berat sedunia. Tapi, seperti suatu kata bijak yang pernah gw denger, di atas langit masih ada langit. Di atas masalah paling berat yang dia alami, masih ada masalah lain yg jauh lebih berat yang dialami oleh orang lain. Dan orang lain itu berjuang untuk tetap bahagia dan dia berhasil.

Advertisements

4 thoughts on “Kill the God, then!

  1. Hehe, gw tau rasanya ngadepin orang emo kek gitu. Gak pernah liat ke bawah dan selalu mengasihani diri sendiri.

    Well, kalo gw pikir sih, itu semua terjadi karena dia sendiri pengen itu meski tanpa sadar (inget Muth, gw penganut ‘The Secret’ XD) Dan gw setuju dengan poin ketiga lu. Tuhan menyediakan dirinya di dalam setiap manusia, dan saat manusia itu mulai menyalahkan Tuhan, maka dirinya akan terus ketiban kenegatifan, because the GOD within him/her will grants it for good.

    Dan kenegatifan menular, so, better not too close.

    1. terleps dari the secret itu sahih apa ndak, bingung gw soalnya, gw juga penganut the secret. intinya, saat lu berpikir baik, hal baik akan datang. saat lu benar2 menginginkan sesuatu, berpikir tentang sesuatu itu, ya akan datang juga.

      karena kenegatifan menular, salah seorang teman yg juga berkenalan dengan orang yg gw sebut di post ini, sampe menghapus si orang ini dari facebooknya. wkwkwkw.

      terlalu negatif sampe menyesakkan.

  2. nice post..
    thank you – you and hacques for the comment..

    masukan yg baik. well, selama ini gw terus berada diatas, kadang pura2 lupa kalau sedang ada di bawah.. tapi kan namanya manusia, ada saatnya down bukan?

    gw percaya prinsip karma, tapi bukan brati gw percaya reinkarnasi. so, selama kita terus menjalankan hal dengan positif, pasti balasannya positif.. well.. buat nge-keep semuanya untuk jadi positif mang PR yang berat jadinya kl terus nutup diri ya..

    semoga jalan terang itu selalu terbuka buat siapapun manusia yang mau berdoa dan berusaha untuk mengubah hidupnya jadi lebih baik.. 🙂

    1. saya suka sama kalimat terakhirnya chacha… kata kuncinya adalah mau berdoa dan berusaha untuk mengubah hidup jadi lebih baik.

      sesederhana itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s