Resensi

Review “Vampire Academy” – Richelle Mead

Sebenarnya, waktu novel ini “akhirnya datang juga” di Pitimoss Fun Library, rasanya gw pernah ditawarin untuk meminjamnya. Tapi, karena waktu itu gw masih cukup muak dengan ide tentang vampire “di masa kini” *thanks a lot to the disgusting twilight <_<*, gw menolak untuk meminjam novel ini. Beberapa hari yang lalu, saat gw nggak menemukan cerita-cerita romantis untuk gw baca, akhirnya gw pikir, “Well, why not reading this book?” Jadilah gw meminjam novel ini.

Novel ini ternyata bagus bo!! Sangat berbeda dari kisah romantis picisan ala Twilight Saga *bahkan menurut gw, kisah-kisah fantasi roman ala harlequin -yang juga melibatkan vampire- jauh lebih bagus dibanding seri yang satu itu*. Di buku pertama dari seri “Vampire Academy” ini, diceritakan kisah pendahuluan tentang Rosemary Hathaway atau biasa dipanggil Rose, seorang dhampir *setengah manusia-setengah vampir* yang menjadi pengawal Vasilisa Dragomir, seorang Moir *vampire tulen*.

Adegan pembuka cerita adalah tatkala Rose dan Lissa ditangkap oleh pengawal Akademi St.Vladimir di tempat pelarian mereka. Dua tahun sebelumnya mereka berdua melarikan diri dari kampus, karena Rose mengkhawatirkan keselamatan Lissa. Setelah mereka ditangkap dan dikembalikan ke akademi, mereka menjalani kehidupan ala murid-murid akademi pada umumnya. Untuk Rose, karena dianggap menjadi biang kerok pelarian mereka, ia mendapatkan hukuman pelatihan tambahan untuk menjadi pengawal yang diberikan oleh Dimitri Belikov, pengawal sekolah yang menangkapnya yang sekaligus menjadi pengawal tambahan untuk Lissa.

Akademi St.Vladimir dibagi menjadi dua bagian, tempat belajar kaum Moroi, baik bangsawan maupun bukan, dan tempat belajar sekaligus pelatihan bagi dhampir. Layaknya akademi berasrama lainnya, ada intrik-intrik di antara murid-muridnya. Lissa dan Rose harus menghadapi semua itu, mulai dari bisikan-bisikan spekulasi mengapa mereka kabur dua tahun yang lalu, tuduhan-tuduhan tidak beralasan, hingga fitnah yang membuat hidup mereka sulit selama menjalani akademi.

Ternyata bukan hanya itu yang harus mereka hadapi. Ada hal lain yang lebih kelam yang mengancam keselamatan Lissa. Dan karena Rose adalah calon pengawal yang baik, ia berusaha sebaik mungkin untuk menjaga Lissa.

Gw merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Memang nggak terlalu banyak pertempuran heboh di buku pertama ini, lebih banyak intrik-intrik menyebalkan ala anak SMA *tentu saja meskipun labelnya Akademi, sebenernya itu sekolah sama aja dengan SMA*. Ada juga kisah romantis Lissa dan Rose *emm..masing-masing maksudnya*, tapi nggak terlalu mendetil dan nggak menjijikkan ala novel yang sudah gw sebut sebelumnya *gw benci banget sama seri yang satu itu*.

Novel Vampire Academy ini mengingatkan gw akan Harry Potter sebenernya. Dengan nuansa akademi, bangunan akademi yang gothik *meskipun ada di pegunungan Montana*, minus seragam dan pelajaran-pelajaran sihirnya. Mudah-mudahan sekuel-sekuel selanjutnya nggak akan terlalu mengecewakan *klo nggak salah udah diterbitkan,dan akan segera gw pinjem :D*.

So, here’s the review for the day.. enjoy your day fellas!

Advertisements

One thought on “Review “Vampire Academy” – Richelle Mead

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s