Short stories

Sampah-sampah Busuk -2-

Sabila
-Sampah 2-

Seringkali orang harus diingatkan akan pelajaran yang sudah ia dapat. Begitu pula dengan gw. Kali ini, gw diingatkan tentang pelajaran yang pernah gw dapat melalui Sampah Dua. Sampah Dua punya status yang sedikit lebih baik daripada Sampah Satu. Setidaknya Sampah Dua bisa dimasukkan ke dalam kategori Sampah yang Bisa Didaur Ulang. Sampah Satu sih bener-bener sampah sesampah-sampahnya, baik secara harfiah,fisik,maupun non fisik. Gw biasanya menyebut dia Sampah Genetik. Temen gw biasanya menyebut dia Penyerap Kebahagiaan dalam Sehari.

Kembali ke Sampah Dua.

Sampah Dua –setelah diingat-ingat lagi –ternyata adalah Musuh Masyarakat juga. Kalau dihitung-hitung, jumlah orang yang menyukai dia pasti jauh lebih sedikit dibanding orang yang menganggap dia virus atau benalu. Lagi-lagi, gw tertarik dengan pria macam ini. Bedanya dengan kasus pertama, teman-teman terdekat gw nggak protes-protes amat waktu gw jadian dengan dia.

Proses jadian dengan Sampah Dua juga nggak beda dengan Sampah Satu. Gw mengejar. Kami jadi dekat. Gw nanya kemana arah hubungan kami. Gw emang nggak sabaran *menghela napas super panjang*. Waktu itu, salah seorang teman dekat gw cukup mengkhawatirkan hal ini. Menurut dia, kami belum cukup dewasa untuk jadian saat itu. Layaknya pemberontak, gw nggak mendengarkan sama sekali kekhawatiran dia. Menurut gw, untuk apa menunggu “nanti” yang tidak jelas? Lebih baik melakukannya sekarang.

Kejadian yang sama terulang lagi. It’s same old story, with new scene.

Lagi-lagi gw menjadi submissive girlfriend. Bukan salah Sampah Dua sepenuhnya sih, gw juga punya andil dalam menciptakan kondisi ini. Gw inget banget, seminggu setelah gw jadian, karena suatu hal yang membuat dia marah, gw melepaskan jabatan sebagai moderator di forum intranet kampus. Sebenarnya gw sedih banget dan marah waktu itu, karena gw sangat menghargai jabatan itu, dan gw ingin berbuat sesuatu dengan jabatan itu di komunitas intranet kampus. Setelah itu, banyak lagi “penyesuaian” yang gw lakukan. Gw jadi jarang kumpul-kumpul dengan teman-teman gw yang lain *terutama yang pria*, karena Sampah Dua nggak suka melihat gw bersama pria-pria lain *kecuali ada dia di situ*. Dia melarang gw dandan, mendikte gw tentang cara berpakaian tertentu. Bahkan suatu kali, dia pernah berteriak pada gw di depan rekan-rekan di suatu kepanitiaan, hanya karena gw pulang malam.

Seperti yg gw bilang sebelumnya, gw berpikir, perempuan itu harus nurut. Bertengkar itu menyebalkan. Argumen itu bikin sakit kepala. Intinya, gw menjadi penurut,meskipun beberapa kali bertengkar. Gw melakukan banyak sekali kompromi *mungkin dia juga merasa dia melakukan banyak kompromi dengan gw, entahlah*. Teman-teman gw pun sangat heran dengan gw. Bukan karena perubahannya, tapi karena gw dengan sukarela berubah, bahkan gw membela Sampah Dua.

Lucunya, yang membuat gw akhirnya bener-bener putus dengan Sampah Dua bukan karena kebodohan-kebodohan yang gw lakukan. Bukan karena gw nyaris kehilangan semua teman ngumpul gw yang berjenis kelamin pria karena Sampah Dua melarang gw deket-deket dengan pria manapun selain dia. Bukan karena gw nyaris nggak bisa menikmati eksistensi gw sebagai wanita karena gw dilarang berdandan. Bukan!!

Gw putus sama Sampah Dua atas alasan…yah sebaiknya gw nggak mengatakannya lah. Intinya it’s so naive and disgusting. Gw masih inget tuh kejadian setelah putus itu. Gw nangis dua minggu, tapi hanya di hari Sabtu dan Minggu. Mohon maaf ya, tapi bagaimanapun patah hatinya gw, gw nggak mau orang-orang tahu gw patah hati. Lalu gw sampai pada masa dimana gw bisa menerima semua keputusan yang sudah dibuat.

EH… gw baru tau kalau Sampah Dua punya maksud lain di balik putusnya itu.

Gw dibohongi.
Gw nggak terima.
Gw marah.
Jadilah kami musuh.

Lama, setelah itu, gw berpikir… harusnya dari duluu sekali gw putus sama dia. Karena pada saat masih jadian pun gw sudah merasa ada yang aneh. Masa nggak boleh dandan? Masa harus membuang semua teman pria?? Masa gw diubah seenak jidat dia?

Dan gw sukarela melakukan itu semua?!

Ya Tuhan, gw sudah gila! Gw yakin gw gila saat itu. Atas nama cinta?? Atas nama kegoblokan gw rasa. Kali ini, pelajaran yang pernah gw lupakan dengan begitu mudah, bener-bener nemplok di otak gw. Yang pertama kali gw catat dalam hati, gw pahat di otak, adalah gw nggak mau direndahkan lagi oleh pria, gw nggak mau disetir lagi. No compromise, thank you!

Intinya gw benci banget sama dia. Gw lebih benci lagi pada diri gw karena menjadi begitu bodoh. Tapi, pada akhirnya gw harus mengakui, bahwa bagaimanapun juga, he was my first love, damn it! Gw bahkan agak sedikit berterima kasih pada dia… karena selain waktu-waktu menyenangkan yang gw pernah alami *hey gw juga punya waktu-waktu menyenangkan*, dia membuat gw kembali mengingat pelajaran yang pernah gw lupakan.

Dan kali ini gw berusaha sekuat tenaga, gak mau lagi jadi keledai yang jatuh di lubang yang sama untuk ketiga kalinya.

—-
to be continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s