Resensi

Review “Don’t Tell” – Karen Rose

Another review from me šŸ˜€ So, I was lucky that when Pitimoss finally had this novel, I was the first one that borrowed it *was I?*. So, here’s the very fresh review from me šŸ˜€

Tidak seperti novel-novel Karen Rose lainnya yang kisah utamanya menceritakan tentang pembunuhan atau pembunuh berseri *serial killler*, novel ini justru menceritakan tentang KDRT *Kekerasan Dalam Rumah Tangga*, yang dibumbui dengan beberapa pembunuhan *namun tidak diekspos*. Mary Grace Winters adalah korban KDRT yang berkali-kali mengalami penyiksaan oleh suaminya hingga hampir tewas. Kali terakhir ia dianiaya oleh sang suami, ia memutuskan untuk menyelamatkan diri dari sang suami dengan jalan melarikan diri bersama dengan anaknya yang masih kecil. Butuh waktu dua tahun agar ia pulih dari kondisinya yang nyaris cacat permanen hingga akhirnya ia berhasil melarikan diri. Ia menyusun rencana agar tidak ada yang menduga ia melarikan diri.

Tujuh tahun setelah ia berhasil melepaskan dirinya dari cengkeraman suaminya, Mary Grace mengubah identitasnya menjadi Caroline Stewart dan perlahan ia berusaha lepas dari masa lalunya yang suram. Ia bekerja sebagai sekretaris untuk Kepala Departemen Sejarah di Carrington College, sambil berusaha menyelesaikan sekolah hukumnya. Saat itulah ia bertemu Max Hunter, profesor sejarah yang menjadi atasan barunya, dan pada saat itu pula ia tertarik pada profesor mantan pemain NBA itu. Perasaannya bukan perasaan searah, karena Max Hunter juga memiliki perasaan serupa. Max sendiri memiliki masa lalu yang harus ia hadapi, sama seperti Caroline. Mereka menjalani hubungan sambil berusaha untuk saling jujur tentang masa lalu mereka dan mengatasi hambatan-hambatan di antara mereka.

Saat hubungan asmara mereka semakin serius, suami Caroline, Rob Winters menemukan jejak Caroline dan mengancam kedamaian hidupnya. Ia berusaha melakukan apapun untuk membalas dendam pada Caroline dan merebut kembali anaknya, Robbie *atau Tom setelah berganti nama*. Caroline harus berjuang untuk mempertahankan hidupnya yang telah ia bangun kembali, dan berjuang untuk menyelamatkan anaknya dari ancaman pria yang jahat dan pernah menghancurkan kehidupannya ini.

—-

Gw sangat terharu dengan novel ini. Terharu dengan perjuangan Caroline untuk bisa menata hidupnya, karena ia berniat mengakhiri penyiksaan dari suaminya. Gw juga terharu karena Max mau berusaha agar tidak terjebak dengan masa lalunya. Dengan keluarga Max yang selalu siap menerima dirinya apa adanya, juga menerima Caroline dan Tom dengan tangan terbuka. Novel ini mengajarkan banyak tentang KDRT. Bagaimana dari semua korban KDRT hanya sedikit yang berani melepaskan diri dari kondisi semacam itu, banyak yang pura-pura menutup mata, dan banyak yang enggan membantu.

yah, sebaiknya novel ini dibaca sendiri, karena semua kespesialan novel ini hanya bisa dirasakan setelah dibaca… selamat membaca teman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s