Resensi

Review “Splendid” – Julia Quinn

Fuh, nyesel juga waktu minjem bukunya nggak langsung dibikin reviewnya, jadi sekarang lupa-lupa inget deh. Mudah-mudahan sebagian memori bisa gw recall dengan baik ya. Sebagian dari temen-temen mungkin sudah membaca novel ini, sebagian lagi belum. Well, gw akan tetap menulis reviewnya, supaya di masa depan gw inget pernah baca novel apa aja :D.

“Splendid” merupakan novel pertama dalam trilogi yang gw lupa nama triloginya *ampun!*. Dalam kisah pertama ini, Emma Dunster, seorang gadis Amerika keturunan Inggris, dikirim oleh Ayahnya ke London pada musim perjodohan untuk mencari suami. Emma berangkat dengan kurang semangat, meskipun ia sangat senang akan tinggal bersama dengan sepupunya.

Pada suatu hari, karena terlalu bosan disuruh ini dan itu untuk mempersiapkan pesta perkenalannya ke kalangan bangsawan London, Emma dan sepupunya *yg gw lupa namanya,mohon maaf sekali* memaksa koki dapur mereka untuk ‘mempekerjakan’ mereka. Tanpa diduga, muncullah sebuah situasi dimana akhirnya Emma menyamar menjadi pelayan dan harus pergi ke pasar.

Di pasar, ia menyelamatkan seorang anak kecil, yang ternyata keponakan bangsawan tampan dan terkenal, Alexander Ridgely, Duke of Ashbourne dari sebuah tabrakan. Well, gak perlu berpanjang lebar lagi, bisa diduga ada cinta pada pandangan pertama terlibat setelah itu. Alex terkesima dengan mata ungu milik Emma. Sementara Emma, siapa yang bisa menahan godaan pria tampan seperti Alex?

Tak disangka oleh Emma, di malam harinya ia bertemu kembali dengan Alex di pestanya. Alex merasa ditipu, pada awalnya, oleh Emma. Namun, Emma bisa menjelaskan dengan baik alasan ia mengaku sebagai pelayan. Sejak itu, Alex selalu mengejar Emma, meskipun pada saat itu ia tidak berniat untuk menikahi Emma. Tanpa mereka sadari, mereka berdua sudah saling jatuh cinta.

Tentu saja, sebelum sebuah kisah berakhir dengan “mereka bahagia untuk selama-lamanya”, kisah tersebut perlu dibumbui dengan konflik dulu. Perasaan Emma dan Alex saling diuji dengan berbagai konflik yang melibatkan keluarga mereka *tapi bukan seperti cerita mertua dan menantu ya, konfliknya beda*. Meskipun pada akhirnya, mereka berdua menyadari kebodohan-kebodohan dan kesalahpahaman yang mereka buat sendiri.

Novel ini amat sangat layak dan harus untuk di baca. Selain romantis, ceritanya juga lucu *beberapa kali gw ngakak2 baca ini*. Karakter favorit gw adalah Eugenia, Ibunya Alex, yang cantik-cantik tapi “binal”. Bayangin aja, ada seorang Ibu berusaha menciptakan kondisi2 supaya anaknya tertangkap basah melakukan hal2 tak senonoh dengan calon mantunya *malah pake berdoa lagi*. Gw langsung suka sama Ibu-kalem-tapi-genit yang satu ini 😀

Mungkin teman-teman baru bisa baca nanti-nanti, yang jelas jangan sampe nggak baca novel yang satu ini 😀

ps : thanks to Pitimoss Fun Library, tempat gw minjem novel ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s