Resensi · Thoughts

Dari “The Lost Symbol”

Beberapa bulan yang lalu, waktu buku ini pertama kali keluar, semua orang heboh mencari. Yang punya uang lebih langsung berbondong-bondong ke toko buku untuk membeli buku ini. Yang punya yang pas-pasan, minjem ke toko buku. Yang uangnya minim banget, nungguin temen yang punya buku selesai baca, baru minjem 😀

Gw termasuk kategori kedua sebenarnya. Tadinya mau minjem ke taman bacaan. Tapi, karena buku ini laris banget, semua orang sepertinya meminjam buku ini, jadinya gw sering nggak kebagian minjem. Untungnya, temen gw ternyata punya buku ini, dan sejak dia diberikan buku ini, ini buku gak selesai-selesai dibaca 😀 Jadi, karena gw nganggur, selama puasa nggak kemana-mana, akhirnya gw merayu temen gw ini untuk meminjamkan bukunya. Untung dia baik, dipinjemin deh.

Gw nggak akan bercerita tentang isi buku ini. Karena sebagian besar orang sudah tau, sebagian lagi sepertinya memilih untuk penasaran mengenai isi buku ini, jadi pasti akan ngamuk-ngamuk ngelempar sendal kalo gw membocorkan isi buku 😀 *tapi nanti juga bakalan kebocorin kok, pada paragraf selanjutnya, jadi.. klo yang nggak mau tau, STOP di sini, jangan lanjut baca!!*

Dari judulnya, gw udah mengira ini nggak bakalan jauh dari The Da Vinci Code yang booming banget beberapa tahun yang lalu. Pasti tentang simbol-simbol rahasia, organisasi rahasia, dan apalagi kalau bukan tentang keagamaan. Kalau Bapak gw tau gw baca buku ini, kayaknya gw dirajam atau langsung disepak keluar dari rumah *karena menurut Bapak, buku ini akan menyesatkan iman seseorang. Berhubung gw pada dasarnya udah sesat, dibelokin sepuluh derajat lagi nggak akan banyak berpengaruh*. Gw rada-rada gereget sama gaya penceritaan Dan Brown sebenernya, karena dia suka motong-motong adegan dan seenaknya pindah ke adegan lain, justru di saat adegan yang pertama lagi seru-serunya dan menegangkan. Sebenernya justru karena itu, bukunya laris manis, orang jadi kepaksa melanjutkan membaca karena penasaran. Apalagi potongan-potongan babnya itu merepresentasikan tokoh yang sedang disorot. Meskipun seenak udelnya dipotong, kita nggak akan bingung bacanya, kecuali dibaca sebelum tidur, terus ketiduran, terus pas bangun lupa deh tadi baca apa sebelum tidur.

Waktu baca bagian-bagian pertama buku ini, gw emang agak sedikit kaget-kaget, karena ada ide-ide yang bahkan nggak keterima di otak gw yang sesat ini. Seperti misalnya bahwa manusia itu memiliki sifat-sifat Tuhan, atau bahkan lebih ekstrim lagi dinyatakan bahwa manusia dengan suatu kebijakan tertentu bisa menjadi tuhan. Atau bahwa pikiran manusia bisa mengendalikan alam sekitarnya *persis dengan ide The Secret* dan bila pikiran tersebut bersifat jamak *semakin banyak orang berpikiran sama, dengan gelombang emosional yang sama*, maka kemungkinan kejadian tersebut akan terjadi menjadi lebih tinggi, karena energinya akan lebih tinggi.

Gw kutip salah satu paragrafnya ya *gw tulis ulang mentah-mentah*

“…Aforisme Hermetik terkenal –Tidak tahukah kalian bahwa kalian adalah tuhan? –adalah salah satu pilar Misteri Kuno. Seperti yang di atas, demikian juga yang di bawah… . Manusia diciptakan menurut gambaran Allah… . Apotheosis. Pesan terus menerus mengenai ketuhanan manusia itu sendiri –mengenai potensi tersembunyi mereka –merupakan tema yang berulang dalam teks-teks kuno dari tradisi yang tak terhitung banyaknya. Bahkan, Alkitab menyatakan dalam Mazmur 82:6: Kamu adalah Allah!” (hal.436)

“Buddha mengatakan, ;Kau sendiri adalah Tuhan.’ Yesus mengajarkan bahwa ‘kerajaan Allah ada di antara kamu’ dan bahkan berjanji kepada kita, ‘ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan…dan lebih besar daripada itu.’ Bahkan anti-Paus pertama –Hippolytus dari Roma –menguto pesan yang sama, yang pertama kali diucapkan oleh guru gnostik Monoimus: ‘Tinggalkan pencarian akan Tuhan… dan jadikan dirimu sebagai tempat awalnya.’” (hal. 682)

Lalu ada juga kutipan pernyataan Einstein, “Sesuatu yang tidak mampu kita pahami benar-benar ada. Di balik rahasia-rahasia alam, masih terdapat sesuatu yang subtil, tak teraba, dan tak terjelaskan. Penghormatan terhaap kekuatan melebihi segala yang bisa kita pahami ini adalah agamaku.’” Einstein juga meramalkan, “Agama masa depan adalah agama kosmis. Agama itu akan melampaui Tuhan pribadi dan mengindari dogma dan teologi.” (hal.436)

Buat gw yang beragama Islam, ide seperti ini gak keterima di akal. Orang jelas-jelas perintah pertama untuk orang muslim adalah bersyahadat bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul utusan-Nya. Kalo gw semodel sama Bapak gw, udah gw bakar buku ini dari kapan-kapan, tapi karena seperti gw bilang tadi, gw sesat, gw tetep lanjut baca buku ini.

Nah, di bagian-bagian yang deket-deket klimaksnya buku ini, gw mendapat informasi lain. Gw udah tau kalau ilmuwan-ilmuwan dan orang-orang besar di dunia ini semuanya orang saleh dan taat beragama *gw jadi mengerti kenapa gw nggak jadi orang besar -_-!*, nah ternyata gw juga baru tahu kalau para bapak pendiri bangsa Amerika juga orang yang religius. Bahkan *gw sih emang baru tau loh ya*, tulisan yang dibuat di puncak Monumen Washington adalah “Laus Deo” yang artinya “Terpujilah Tuhan”. Cuma orang religius yang inget untuk memuji Tuhan di setiap langkahnya.

Ada bagian yang menyatakan bahwa sebenarnya semua manusia memiliki konsep mimpi yang sama, terjadinya apotheosis manusia, yaitu datangnya perubahan pikiran manusia menjadi kemampuan potensial sejatinya (hal.566-567). Lalu di bagian akhir, dimana Peter Solomon menjelaskan tentang si sumber “masalah” di novel ini, gw juga menemukan ide-ide pikiran lain, seperti alkitab tidak ditulis secara gamblang, tapi menyimpan misteri-misteri dan rahasia-rahasia serta kata-kata yang bersandi. Karena hanya orang yang sudah “siap” yang bisa membuka makna sejati dari kalimat-kalimat tersebut, serta mencegah rahasia-rahasia penting yg tersembunyi diketahui oleh orang yang salah (hal.680).

Banyak lagi lah bagian-bagian yang bener-bener harus dibaca dan juga direnungi dari novel ini. Ceritanya emang fiksi, tapi kalau kita berpikiran terbuka, kita akan menemukan pesan-pesan penting di dalamnya. Pada membaca buku ini, gw mendadak ingat suatu ucapan *nah, gw gak tau ini ayat Qur’an atau hadis atau ucapan sahabat atau sufi* yang intinya bilang gini : Kenalilah dirimu, maka kamu akan mengenali Tuhanmu. Gw juga terngiang sebuah ayat (jangan tanya di surat apa ayat berapa) dimana Allah berfirman “Aku tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum tersebut mengubah keadaannya sendiri.” Dan ada beberapa ayat lain yang gw ingat saat membaca novel ini. Saat gw membaca bagian dimana Katherine menjelaskan tentang kesadaran universal yang berpotensi mengubah dunia, gw tiba-tiba teringat tentang anjuran shalat berjamaah dan berkumpul dalam majelis-majelis *bukan Cuma untuk mengaji, tapi berdiskusi dsb*. Gw juga jadi teringat suatu hari Ibu gw pernah mendengar jawaban dari seorang Ustadz kenapa dalam beberapa ayat Qur’an Allah menyebut dirinya dengan kata pengganti “Kami,” meskipun gw lupa apa jawabannya dan gw tetep gak berani mereka-reka jawabannya, bisi salah *nanti bukan sesat sepuluh derajat lagi, bisa seratus delapan puluh derajat*.

Hoeks, tulisan gw panjang banget yak. Tepatnya kebanyakan mengutip isi novel, wakakak *berhubung bukunya mau dibalikin, jadi klo pengen inget-inget isi buku, gw baca aja ini review :D*. Gw juga gak bermaksud sok-sok religius waktu gw teringat-ingat beberapa ayat Quran, gak bermaksud mengait-ngaitkan isi novel dengan agama yang gw anut, gak juga bermaksud mengingatkan temans semua, gak juga bermaksud untuk menggurui. Pokoknya setelah gw selesai membaca novel ini, gw jadi berpikir tentang Tuhan, tentang agama, tentang menemukan jawaban-jawaban. Pesan yang bisa gw ambil adalah, salah besar kalau suatu saat gw meninggalkan Tuhan gw, karena dari Dia lah semua jawaban itu datang.

Udah ah, takut gw kebanyakan nulis tentang agama, sekalinya perilaku gw nggak sesuai dengan omongan, bisa dimakan sama buaya nanti -_-! oh ini ada satu quote yang bagus dari novel yang sama. akhir kata, semoga teman selalu bahagia yak

“Sesuatu yang kita lakukan hanya untuk diri kita sendiri akan mati bersama kita; sesuatu yang kita lakukan untuk orang lain dan dunia akan bertahan dan abadi.” –Albert Pike

Advertisements

2 thoughts on “Dari “The Lost Symbol”

    1. Gw sih gak berani judge, soalnya gw nggak pernah bener2 tahu aliran Mason itu kayak apa. Selama ini hanya tahu dari cerita-cerita, atau kata orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s