Resensi

Resensi “As Good As Dead” – Beverly Barton

Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya gw bisa juga meminjam As Good As Dead, karya Beverly Barton *oops, sebelumnya, (pada saat saya menulis ini) untuk member pitimoss lainnya, bukan maksud hati bukunya mau ditahan2, tapi saya sakit, jadi ndak bisa ngembaliin dulu ke pitimoss. Maap yak*

Novel ini adalah novel terakhir yang menutup cerita-cerita berlatar belakang Cherokee Pointee. Kali ini, nggak perlu pake tebak-tebak buah semangka lagi, kisahnya bercerita tentang Reve Sorrel dan Jazzy Talbot yang berusaha mengungkap masa lalu mereka berdua. Mereka akhirnya sepakat untuk melakukan tes DNA untuk membuktikan apakah mereka memang saudara kembar atau bukan. Di saat yang sama, lagi-lagi terjadi pembunuhan di Cherokee Pointee, kali ini korbannya adalah dua orang wanita berambut merah, yang dibunuh dengan cara dicekik lalu dibuang di sungai.

Jacob Butler sekali lagi harus berusaha menemukan si pembunuh yang mengganggu kedamaian wilayah pimpinannya (sekarang sudah tiga kali terjadi pembunuhan di wilayahnya padahal ia baru 1 tahun menjabat sebagai sheriff). Di tengah kericuhan ini, Jacob Butler bertemu kembali dengan si judes Reve Sorrel, dan seperti biasa mereka berdua klo nggak saling judes-judesan, pasti saling marah-marahan. Nah, ternyata di balik judes-judesan/marah-marahan ini, keduanya menyimpan gairah satu sama lain *beuh gairah, eta rek kamana atuh gairah!!*. Bisakah keduanya mengulur benang kusut di antara mereka berdua sementara nyawa Reve Sorrel dan Jazzy Talbot sedang terancam?

Seperti resensi/review gw tentang novelnya Beverly Barton yang sebelumnya “The Last to Die”, novel yang ini juga kurang berasa gregetnya. Entah karena gak setebel novel-novel yang lain, jadi kurang keeksplor kasusnya kali ya. Tapi, beneran bikin penasaran, dan temans nggak akan bisa menduga siapa pembunuhnya *again, seperti biasa, karena gw mengintip beberapa halaman terakhir, gw menduga2 siapa pembunuhnya*. Meskipun gw udah tau duluan siapa pembunuhnya, tapi gw baru tau alasan kenapa dia membunuh itu di bab2 terakhir. Bener-bener tersembunyi lah motifnya, dan pas tau motif pembunuhannya, benar-benar JEDANG!!

Dan setelah gw selesai membaca novel ini, lalu gw berpikir-pikir, dan mengingat-ingat, tiba-tiba gw menyimpulkan : ternyata akar masalah di novel ini sama persis dengan akar masalah di cerita mahabharata. Gw inget, waktu gw selesai baca mahabharata, terus gw ngobrol-ngobrol sama dia kan, terus gw bilang gini :

“Mahabharata ini sebenernya cerita 1 kabupaten ya? Terus akar masalahnya Cuma satu, hanya gara-gara masalah salah satu pelaku menganu-anu (in english : having sex) pelaku yang lain.”

Nah, setelah membaca novel As Good As Dead ini, gw juga berpikir serupa. Semuanya melibatkan orang sekabupaten Cherokee Pointee, dan akar masalahnya yang terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu adalah si A menganu-anu si B. Wkwkwk…

Anyhow, novel terakhir ini merupakan penutup yang manis untuk serial Cherokee Pointee. Apalagi dengan kemunculan Jacob Butler yang amat sangat tampan wkwkwk. Dan kejelasan masa lalu Jazzy serta Reve, mantaplah penutupnya ini. Patut dibaca buat para penggemar Romantic Suspense, apalagi yang ngaku-ngaku demen sama karyanya Beverly Barton!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s