Resensi

Resensi “Gardens of Water”-Alan Drew

Di tengah kesibukan yang padat *hoeks*, akhirnya gw selesai membaca sebuah novel keren berjudul “Gardens of Water” yang dikarang oleh Alan Drew. Waktu gw kebingungan memilih novel untuk dipinjam (pengen baca novel roman, tapi entah kenapa lagi males, tapi nggak mau baca novel-novel sok religius juga atau yang super mikir), gw melihat novel ini di rak Pitimoss, nganggur, mengedip-ngedipkan matanya merayu gw untuk meminjam *weks*.

Gw sebenernya nggak terlalu suka novel bernuansa timur-tengah *eh, timur-tengah dari Indonesia mah, lautan bo! Maksudnya novel2 dengan setting tempat jazirah arab/negara-ngeara islam*, jadi gw agak ragu saat memegang novel ini. Nggak mau baca novel yang isinya ayat-ayat Quran *mendingan baca Qurannya sekalian -_-*. Tapi, sekali lagi, si novel mengedip-ngedipkan mata dengan centil, layaknya orang normal lain, gw akhirnya tergoda untuk meminjam *orang normal nggak ada yang dikedipin buku btw -_-*.

Novel ini menceritakan kehidupan sebuah keluarga suku Kurdi yang tinggal di pinggiran daerah Turki terutama setelah terjadi gempa hebat yang mengguncang Turki pada thaun 1999. Sinan Başioģlu adalah seorang warga Kurdi yang sempat melarikan diri dari kampung halamannya pada saat terjadi pemberontakan. Ia hidup di pinggiran Turki, bekerja di tokok saudara iparnya, Ahmet, dan memiliki sepasang anak yang cantik dan tampan, Irem dan Ismail. Di atas apartemen tempat mereka tinggal *please noted that you’d better not to imagine a luxury apartment, it’s more like rumah susun*, tinggallah keluarga Amerika yang hanya datang ke daerah itu setiap musim panas.

Saat gempa terjadi, bangunan tempat mereka tinggal luluh lantak, dan Sinan nyaris kehilangan Ismail. Atas izin Tuhan, ternyata Ismail selamat, meskipun telah tertimbun di bawah reruntuhan selama 3 hari. Ternyata, istri si orang Amerika lah yang menyelamatkan hidup si anak. Sinan dan keluarganya menjalani hari demi hari di sebuah tenda darurat yang mereka buat sendiri, hingga suatu hari Marcus, si orang Amerika datang kembali *meskipun istrinya telah meninggal*, dan membawa bala bantuan dari Amerika sana. Sinan yang memiliki kebencian mendalam pada orang Amerika *karena menurut doktrin yang ia dapatkan dari ayahnya, orang Amerika yang membantu paramiliter Turki membunuhi suku Kurdi*, pada akhirnya menerima juga bantuan dari orang-orang Amerika tersebut, dan ia serta beberapa keluarga lain tinggal di kamp pengungsian yang lebih higienis.

Ada kisah lain yang ikut menambah intrik pada cerita ini, yaitu kisah Irem yang naksir berat pada Dylan, anak Marcus. Di mata Irem, Dylan terlihat sangat gagah dan super ganteng. Bahkan pada saat gempa, Irem mengkhawatirkan Dylan, khawatir Dylan ternyata meninggal. Setelah tinggal di kamp pengungsian, perasaan Irem semakin berkembang, begitu pula dengan Dylan.

Kisah kehidupan Sinan dan keluarga di kamp pengungsian, kisah cinta Irem dan Dylan, bisa temans baca lebih lanjut di novel ini. Silahkan pinjam, beli, rampok *eh jangan!* novel ini, it’s worth to be read.

Beberapa kali gw menitikkan air mata saat membaca novel ini, dan kadang-kadang gw sampe merasa jantung gw diambil dengan paksa sangking merasa sedihnya. Gw terutama bersimpati pada tokoh Irem. AD (Alan Drew) sangat brilian saat menggambarkan perasaan cemburu Irem yang merasa disisihkan oleh kedua orangtuanya. Bagaimana dia merasa setelah dia menjadi perempuan, seluruh kebebasannya pun direnggut. Bagaimana kedua orangtuanya sangat memuja-muja adiknya, Ismail. Setiap kali gw membaca bagian-bagian dimana Sinan dan/atau Nilüfer (istri Sinan) memuja-muja Ismail, rasanya kalo bisa gw mau ambil panci terus gw pukul kepala dua orang itu <_< ! Halo, you have a beautiful daughter too, miserable people! Rasanya seluruh akar masalah dari novel ini adalah karena Irem yang merasa tidak dicintai.

Itu yang bikin gw empet sama budaya patriarki. Seolah-olah perempuan itu Cuma mesin pencetak anak dan vacuum cleaner untuk membersihkan ruangan serta bak cuci untuk mencuci piring dan pakaian. Kayaknya, kalo seorang Ibu melahirkan anak perempuan, orang-orang akan bersuka ria karena akhirnya bertambahlah satu populasi babu+pelacur di daerah itu -_-

Gak salah klo gw bilang novel ini menguras emosi gw, karena gw merasakan baik kesedihan dan kemarahan dalam jumlah yang sama. Cara AD menggambarkan kehidupan seorang muslim di daerah Turki juga sangat baik. Penggambarannya nggak berlebihan, nggak ada kesan menggurui. Namanya manusia, mau muslim mau bukan, suatu saat dia akan mengalami puncaknya percaya pada Tuhan, di saat yang lain dia lebih memilih jadi pengikut setan. AD berhasil menggambarkan ini. AD juga bisa menggambarkan dengan indah proses shalat, sampai pembaca *gw* merinding waktu membacanya. Again, bukan kesan menggurui yang gw dapet, Cuma kesan bahwa itu indah dan menenangkan si tokoh utama.

Satu bagian yang paling gw suka dari novel ini, adalah sebuah paragraf yang berisi jawaban Sinan saat Ismail bertanya mengapa Tuhan tidak menciptakan manusia dengan sempurna.

“… . Tak ada manusia yang sempurna, Ismail. Ada yang punya paru-paru yang lemah, ada yang punya mata lemah, dan ada yang punya jantung lemah. … . Kalau kita sempurna, kita tidak akan membutuhkan Tuhan. Dia mengerti itu, sehingga saat Dia menciptakan kita, Dia membuat kita tetap dekat dengan-Nya.”

(Bab 41, halaman 413)

Ps : thanks to Pitimoss FunLibrary for lending me the book ^_^

Pps : another reccomended book, Samir & Samira

*gambar diambil dari situs penerbit Lentera Hati*

Advertisements

2 thoughts on “Resensi “Gardens of Water”-Alan Drew

  1. I’ve buy it… but haven’t read all the page… I still read it for 100 pages… but I’m sure that the novel I bought was really good… I wanna read the novel faster… thx…

    1. you should take all the time you need to read this novel. it’s a great novel and you should “absorb” all the story, all the meaning behind it 😀 enjoy the book 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s