Life

Career Choice

Akhir-akhir ini pembicaraan antara gw dan orangtua pasti nggak jauh-jauh dari karir. “Udah ngelamar kemana aja?” adalah pertanyaan yang paling sering gw denger. Gw nggak merasa terintimidasi sih dengan pertanyaan sejenis itu, karena orangtua gw hanya menekankan gw untuk berusaha (melamar kerja) dan berdoa. Yang penting jangan diam berpangku tangan dan nunggu ujug-ujug dipanggil orang. Mustahal bin mustahil itu namanya.

Tapi, pembicaraan tentang karir ini kadang bikin gw stress juga. Salah satunya adalah kalau udah ngomongin tentang PNS. Orang tua gw tetep berharap gw klo jadi PNS mending di kampung halaman mereka aja *sorry to say, kampung halaman gw tetep Bandung, karena gw dibesarkan di sini!*. Sementara gw, udah sejak lama ogah banget menetap lama di kampung halaman mereka. Entah kenapa, gw mendingan di kota-kota besar di Pulau Jawa aja deh. Selain itu, alasan kenapa gw nggak mau kerja di kampung halaman mereka, adalah karena gw sangat ingin tinggal pisah dengan orangtua gw. Gw ingin bisa mandiri sedini mungkin. Gw ingin sendiri. Gw yakin klo orangtua gw tau alasan gw yang ini, gw keknya udah dimarahin abis-abisan.

Itu baru satu. Yang lainnya, adalah waktu membahas misalnya gw akan mengambil gelar magister saat sudah jadi S2. Masa gw disuruh kuliah di universitas yang levelnya lebih rendah dibanding ITB?! Dengan alasan, yang penting gw S2, dan supaya nggak jauh2 dari suami-anak, serta klo ke kota lain, nanti biaya hidup mahal, dsb. Gw langsung menolak alasan itu. Bukan cuma gaji yang penting buat gw. Ngapain gw capek-capek kuliah, kalo kuliahnya cuma di universitas yang jurusan farmasinya abal2?? Masa gw S1 dan apoteker di ITB, terus S2 di universitas yang jurusan farmasinya lebih rendah kualitasnya dibanding ITB? Gimana dengan perkembangan ilmu si dosen? Gimana dengan perkembangan ilmu yang diajarkan, jangan-jangan nggak update! Tapi, orangtua gw nggak ngerti. Malahan mencibir “keidealismean” gw. Sial!

Gw ngerti sih, orangtua gw memikirkan bahwa suatu saat gw akan menikah, punya anak, dsb (ironisnya, mereka masih menganggap, sangat menyedihkan klo seseorang gak menikah. Karena nggak akan ada teman hidup, klo sakit gak ada yang ngurus, nggak ada temen curhat, dsb.), sementara sekarang gw jadi menggebu-gebu ingin bekerja. Ingin melakukan sesuatu. Usia gw adalah usia emas untuk berkarya, untuk melakukan sesuatu. For me, it’s my time to have a career. Jadi, klo gw diterima kerja di tempat yang sesuai dengan gw, dan gw dituntut untuk bekerja 12 jam sehari pun, akan gw jabanin. Mungkin gw terdengar idealis, ada sebagian orang yang memegang prinsip, yang penting kerja dapat gaji. Buat gw, kerja bukan cuma untuk ngasih makan perut gw, tapi ngasih makan passion gw, ngasih makan jiwa gw. Gw emang naive, menyebalkan, idealis nggak ketulungan. Mudah-mudahan Tuhan membantu gw dengan memberikan karir yang sesuai dengan keinginan gw.

Advertisements

2 thoughts on “Career Choice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s