Life · Thoughts

Lihat ke Atas dan Lihat ke Bawah

Seringkali kita mendapat nasehat, entah itu dari orang tua atau dari teman, bahwa untuk dalam hal tertentu (biasanya prestasi) kita harus melihat ke atas. Maksudnya bukan nengokin genteng rumah, atau plafon yang bocor disana-sini atau malah memandangi langit sampe kejatuhan kotoran burung :p. Bukan…maksudnya adalah kita harus melihat orang-orang yang sukses sebelum kita, atau teman yang lebih sukses daripada kita. Tujuannya apa? Supaya kita termotivasi untuk meraih kesuksesan yang sama, supaya kita termotivasi untuk melakukan sesuatu hal dengan bersungguh-sungguh hingga menjadi sukses.

Di suatu saat yang lain, kita juga diberikan nasehat agar jangan lupa melihat ke bawah (biasanya dalam hal rezeki, dan kesehatan). Bukan ngeliatin lantai yang udah dua bulan nggak dipel, atau memandangi jalanan yang lubangnya udah segede kubangan kerbau, atau malah sengaja jalan sambil nunduk sambil berharap ada duit jatuh. Nggak gitu juga. Kita disuruh melihat ke bawah supaya rajin bersyukur atas apa yang sudah Tuhan berikan pada kita, dan sudah kita capai selama ini. Diharapkan dengan begitu, kita juga nggak lupa untuk membantu mereka yang keadaannya lebih memprihatinkan dibanding kita.

Tapi…menurut gw, nggak mutlak untuk hal-hal tertentu kita harus melihat ke atas dan untuk hal-hal lain kita harus melihat ke bawah. Nggak bisa hanya satu gerakan. Kebayang nggak sih, kalau kita selalu melihat ke atas, atau ke bawah, apa nggak keseleo tuh lehernya?? Tengadaaah terus, lama-lama kan sakit leher. Atau nunduuuk terus, keknya lama-lama kepalanya jadi pusing, kan?

Gerakan yang secara harfiah kalau dilakukan hanya dalam satu posisi bisa bikin penyakit. Sama juga dengan nasehat-nasehat yang kita dapatkan itu. Kalau Cuma dilakukan untuk hal-hal tertentu saja, bisa bikin penyakit juga. Penyakit jiwa! Kalau kita terlalu sering melihat orang sukses, mengambil standar kesuksesan mereka, tanpa pernah melihat bahwa di sekeliling kita banyak banget orang yang pas-pasan, standar, bahkan terbelakang, bisa-bisa kita nggak akan pernah bersyukur. Terus aja berusaha sukses, pokoknya dalam kepala “berhasil, berhasil, berhasil,” *kayak dora ya*. Intinya, kita jadi terlalu ambisius. Coba deh tengok sekali-sekali ke sekeliling. Ternyata banyak orang yang biasa-biasa aja. Bukannya mereka nggak ambisius, tapi mereka emang Cuma segitu aja kemampuannya. Atau, mereka emang nggak demen-demen amat jadi orang super sukses, karena dalam kepala mereka, sukses adalah hal yang didefinisikan dengan kalimat yang lain.

Jangan karena terlalu sering melihat orang sukses, terus ambisius pengen jadi sukses, akhirnya jadi stress! Terus-terusan kerja sampai lupa sama keluarga. Lupa dengan kebahagiaan individu. Sekali-kali *jangan keseringan juga, entar malah jadi sombong*, liat juga mereka yang prestasinya biasa-biasa saja. Dengan begitu, mungkin ya kita bisa jadi lebih rendah hati. Ambisi tetap dijaga tentunya *jangan gara-gara ngeliat ke ‘bawah’ malah jadi bersantai-santai juga, sama ngawurnya itu* tapi jangan sampai ambisi mengambil alih kehidupan kita.

Sama halnya kalau kita melihat ke bawah. Iya sih, kita jadi rendah hati, berempati, ikut prihatin dengan mereka yang keadaannya kurang. Tergerak hati kita untuk ikut membantu. Tapi, sekali-sekali, lihat juga ke atas. Lihat mereka yang kualitas hidupnya bagus. Yang sehat selalu, yang rezekinya berlebih *tapi nggak sombong orangnya, dan suka membantu sesama*. Kalau kita melihat ke bawah lalu kemudian kita bersyukur, lihat juga ke atas untuk berusaha lebih baik lagi. Kita lihat tayangan televisi yang menayangkan mereka yang memiliki penyakit tertentu dan nggak ada biaya. Lihat juga pasangan lansia yang di usia senja mereka, tubuhnya segar bugar. Kita lihat saudara-saudara kita kondisi keuangannya kurang mampu. Lihat juga orang-orang yang kondisi keuangannya berlimpah dan dia bisa banyak beramal dengan kelimpahannya tersebut.

Yin and Yang

Dunia ini diciptakan dengan keseimbangannya.

Lihat ke atas, lihat juga ke bawah.

Ambisi dan syukur.

Yuk, menyeimbangkan diri…

*gw juga belum bener-bener bisa menyeimbangkan diri. Tulisan ini gw buat juga untuk mengingatkan diri sendiri. Gw masih belum baik-baik amat jadi orang, jadi siapapun yang baca tulisan ini, ketemu gw suatu hari nanti, ingetin gw juga untuk seimbang yak*

Advertisements

One thought on “Lihat ke Atas dan Lihat ke Bawah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s