Life · Thoughts

Niat Baik? Nggak Cukup!

Kira-kira seminggu yang lalu, gw mendengar saran bisnis dari seorang pakar di sebuah stasiun radio. Dalam saran bisnis itu diceritakan bahwa kadang saat kita menerima sesuatu pemberian *apa sih kata lain yang menggambarkan orang memberikan sesuatu untuk kita entah itu karena sukarela atau kewajiban?* dari orang lain, dan pemberian itu nggak sesuai dengan harapan kita, seringkali kita mendengar nasehat dari orang yang isinya kira-kira seperti ini : โ€œTerima aja, toh orang itu sudah berniat baik dengan memberikannya.โ€

Nah, kata pakar bisnis itu *gw mengaku salah, gw nggak inget sama sekali siapa nama sang bapak*, dalam bisnis, niat baik itu nggak cukup! Niat baik harus diiringi dengan usaha untuk memuaskan orang yang kita beri. Kepuasan pelanggan. Bahkan selanjutnya kita bukan Cuma memberi kepuasan pada pelanggan, not just satisfying them, but make them want to see us more and more and trust us *eh ngomong-ngomong, kalo yang ini adalah saran dari pakar bisnis lain yang gw denger di radio berbeda*.

Gw pikir saran ini nggak hanya berlaku dalam dunis bisnis aja, tapi dalam hidup sehari-hari. Ternyata, emang niat baik aja nggak cukup! Serius deh. Misalnya gini, suatu pagi gw mencoba memasak nasi goreng untuk keluarga. Niatnya baik, selain ingin menyiapkan sarapan, juga ingin membuktikan bahwa anak gadis satu-satunya di rumah ternyata nggak malas-malas amat, dan mau mencoba memasak. Tapi, apa yang terjadi? Ternyata nasi gorengnya kurang garam, agak berminyak, dan sedikit kepedasan. Niatnya baik, kan? Masak untuk keluarga. Tapi, apakah niat baik gw cukup? Nggak ternyata sodara-sodara. Tentu saja keluarga gw harus tersiksa makan nasi goreng buatan gw yang banyak nggak enaknya daripada nggak enaknya. Dan pada akhirnya, nasi goreng itu jadi bersisa banyak, padahal biasanya masak dengan takaran segitu, ludes des des!

Banyak contoh kasus lain yang menyatakan dengan jelas kalau niat baik aja nggak cukup. Misalnya saat kita nyerocos memberikan nasehat untuk teman yang sedang ada masalah. Niatnya baik emang, berushaa memberikan solusi atas masalah temen kita itu. Kacaunya adalah, ternyata temen kita nggak butuh saran dari kita. Yang ada dia malah bete denger ocehan kita. Atau misalnya waktu kita mengambil alih pekerjaan orang dengan niat supaya kerjaannya cepet beres. Niatnya sih baik, tapi seringkali orang yang pekerjaannya kita ambil alih jadi bete setengah hidup setengah mati, entah karena merasa tanggung jawabnya diambil, atau merasa nggak dipercaya untuk menangani suatu masalah / pekerjaan.

Niat baik aja nggak cukup!

Niat baik juga harus diiringi dengan usaha terbaik untuk memberikan kepuasan pada orang-orang di sekitar kita. Gua rasa sebenarnya konsep ini bukan diadaptasi dari saran bisnis, tapi bisnis lah yang mengambil konsep ini untuk diterapkan demi kepuasan pelanggan.

Hidup juga tentang saling memuaskan satu sama lain kan? Kalau sama-sama nggak puas, bisa-bisa friksi terus kita dengan orang-orang di sekitar kita.

Dan untuk memberikan suatu kepuasan, niat baik aja sama sekali nggak cukup!

Advertisements

6 thoughts on “Niat Baik? Nggak Cukup!

  1. haha..tapi ada yang lebih parah lagi. punya niat baik. tapi gak melakukan apa yang diniatinnya itu. aka NATO. not action talk only.. :p

    1. @imgar : yups bener juga itu… makanya, judulnya niat baik nggak cukup. Jadi mikir, gw punya niat baik apa yang belum gw lakukan ya?? kalo niat jahat yang mau dilakukan sih seabreg :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s