Life · Thoughts

Jangan Meremehkan

Sering nggak sih kita melakukan hal seperti meremehkan masalah seseorang? Misalnya Remi punya temen namanya Lina yang kebetulan suatu hari curhat sama gw tentang masalah A. Menurut Lina, masalah A ini udah maha dahsyat sampai saat menceritakannya dia terlihat depresi dan air mata mengalir bak ada orang yang membuka keran dan lupa mematikannya *ehem, sebelum berlanjut, gw mau mengaku dosa dulu, ungkapan yang terakhir itu murni gw kutip dari salah satu novel Harlequin yang membuat gw menitikkan air mata*. Lalu, setelah Lina bertubi-tubi menceritakan masalahnya, Remi dengan santai tapi sedikit simpati bilang, “Ya ampun, Lin… masalah gitu aja air mata lu udah kayak air terjun Niagara. Masih banyak orang yang masalahnya lebih berat daripada lu dan mereka bahkan gak menitikkan air mata!”

Belittle

Sekarang, bayangkan…*gw bukan tukang hipnotis, jadi gw tau kalian nggak mungkin langsung bisa membayangkan hanya dengan satu kata itu*, bagaimana perasaan Lina saat mendengar perkataan Remi? Bukan hanya semakin tertekan karena orang yang dia percayai untuk ditumpah ruahkan semua cerita masalahnya malah meremehkan dia, tapi dia juga akan marah. Mungkin kalau gw dalam posisi Lina, gw akan dengan senang hati menggampar wajah Remi dengan wajan penggorengan berpantat datar! *oh tentu saja gw akan senang melakukan itu, mungkin ditambah melempar pisau, panci kukusan nasi, gelas, piring, garpu, sendok?*

Menurut gw, nggak ada satu makhluk pun di dunia ini *makhluk disini mencakup semua spesies dalam kingdom animalia dengan spesialisasi homo sapiens* yang berhak untuk meremehkan masalah orang lain. Karena perasaan itu subyektif, man! Menurut Lina, masalah A itu sudah bisa bikin dunia dia jungkir balik nggak karuan, dan dia berhak merasa begitu. Dia berhak karena mungkin seumur hidup dia, baru masalah sekaliber A yang membuat dunia dia jungkir balik. Tapi mungkin buat Remi atau buat orang lain di luar sana, masalah A itu sepele, karena barangkali mereka sudah pernah merasakan masalah jenis lain, atau melihat masalah jenis lain yang bukan hanya mengguncang dunia, tapi seluruh galaksi bimasakti, misalnya.

1537159-xsPokoknya nggak ada alasan yang menghalalkan seseorang boleh meremehkan masalah orang lain. Apalagi kalau orang lain itu sudah percaya sama dia untuk menceritakan seluruh masalahnya.

Kalaupun menurut Remi masalah Lina itu nggak ada bandingannya dengan upilnya sekalipun, ya simpan saja dalam hati dan pikiran. Biarkan saja Lina menganalisis masalah itu sendiri, dan mungkin suatu saat nanti Lina menyadari masalahnya dia ternyata nggak segitu parahnya dibanding masalah orang lain. Sukur-sukur masalah Lina bisa teratasi. Jangan juga jadi biang kerok kalau suatu hari nanti Lina tiba-tiba bilang sama Remi, “Ternyata, masalah gw biasa-biasa aja ya setelah gw pikir.” Lalu Remi menjawab, “Makanya, gw juga nggak ngerti kenapa lu mehek-mehek gitu. Masalah seuprit gitu doang mah, anak TK juga gak akan nangis kali!”

Kali ini, izinkanlah gw dengan sepenuh hati menyiram air comberan ke kepala Remi!

Bahkan waktu Lina kemudian menyadari kalau masalahnya nggak berat-berat amat, nggak juga memberikan hak untuk Remi meremehkan tindakan Lina atau masalah yang Lina pernah/masih hadapi. Sekali lagi, simpan saja dalam hati dan pikiran. Bersyukur saja kalau Lina ternyata berpikiran seperti itu.

Pokoknya, sebaiknya tidak meremehkan masalah orang lain*paling nggak, jangan diutarakan ke orangnya, atau diomongin ke orang lain di belakang punggung orang yang sedang bermasalah…*. Karena hidup kita beda sama hidup orang, hidup dia beda sama hidup kita. Cara pandang kita beda dengan cara pandang orang, jadi yaa…biarkan saja. Gw sendiri nggak yakin gw udah menjalani apa yang gw tulis, yah mudah-mudahan sih kalo gw kesandung batu masih ada yang ngingetin untuk hati-hati kalo jalan, ya nggak?

ok, sekian dulu karena sepertinya otak gw mengalami konslet karena gw menulis sok bijak kayak gini. Gw sepertinya harus segera menghubungi hotlinenya PLN, siapa tau mereka mau ngirimin teknisi ganteng yang mau ngebenerin konslet di otak gw… diutamakan kalo teknisinya juga punya peternakan seluas beberapa ratus hektar di Texas dan beternak sapi turunan Hereford atau Salers *ngarep, kebanyakan baca harlequin jadi gini!* Ciao!!

*foto diambil dari sini dan sana*

Advertisements

8 thoughts on “Jangan Meremehkan

    1. hihihih, aku juga minjem di taman bacaan, jha… hihihi, merajalela bener gw sejak apoteker, baca novel mulu!! habis uang jajan buat bayar pinjeman novel 😛

  1. @jha : iya soalnya nggak ada acara ke lab segala, kuliah terus, udah gitu KP sampe nanti di akhir banget ada ujian gila-gilaan…emang ngerasanya lebih longgar. udah gitu untuk satu semester, uts uas itu digabung di akhir kuliah semuanya… :d

  2. alhamdulillah gw jarang (sekali lagi jarang) meremehkan masalah orang lain 😀
    everyone has its opinion,, but don’t ever underestimate other’s opinion about his problem 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s