Thoughts

Selayang Pandang Seminar Jurnalistik Metro TV

Hari Jum’at kemarin (06/03/2009) gw dan beberapa teman gw *yang bertemu secara nggak sengaja* mengikuti seminar jurnalistik *perlu ditambahkan bahwa seminar ini gratisan* yang diadakan oleh Metro TV di Sabuga. Di jadwal, registrasi dilakukan dari jam 08.00, sementara acara selesai jam 09.00. Gw dari rumah udah berangkat pagi-pagi, mengusahakan setidaknya nggak datang terlambat saat acara dimulai. Jam 08.45, setelah online sebentar dari kampus, gw dan toru berangkat bareng ke Sabuga, kami pikir registrasi udah mulai tuh. Di tengah jalan, kami bertemu dengan Irfan Habibi yang bilang kalau registrasi sama sekali belum dimulai bahkan belum bisa masuk ke selasar sabuga.

DOENG DOENG

Untuk lembaga sebesar Metro TV, acara sampai terlambat begini memalukan sekali!!

Tralala trilili, gw dan toru melanjutkan perjalanan sampai kami akhirnya tiba di luar Sabuga dan bertemu dengan Medi dan Danang, dan sekitar dua ratus orang lainnya yang menunggu sampai diperbolehkan masuk. Waktu itu kira-kira sudah hampir jam 09.00. Sekitar 15-20 menit kemudian, pintu akhirnya dibuka, dan semua orang antri untuk registrasi, yang antriannya udah kayak antri sembako. Yang bikin gw nggak habis pikir adalah, kalau emang auditorium belum siap, kenapa nggak registrasi tetap dilangsungkan aja, tapi nanti nggak boleh dulu masuk auditorium sabuga, jadi ditahan hanya berseliweran di selasar saja. Kan nggak perlu kayak orang antri sembako begini. Yang kedua, ni orang-orang metro sebenernya ngapain aja sih dari kemarin? Apa nyewa gedungnya Cuma hari ini aja atau bagaimana? Mbok ya H-1 itu semuanya udah dipersiapkan dong, mulai dari panggung sampai sound system. Pada saat hari H, kalau acaranya jam 9 pagi, jam 7 atau 7.30 itu semua orang yang terlibat acara sudah hadir, mulai dari penerima tamu, yang bertugas di control room, orang yang bertanggung jawab pada slide dan perlengkapan registrasi sampai security.

Nggak profesional!

Waktu ngantri registrasi, kan ada bapak-bapak security tuh *orang metro TV bawa security sendiri*, nah yang bikin gw langsung mengerenyitkan dahi adalah, si security ini nggak sopan! Temen gw yang pake jaket, tiba-tiba langsung digeledah gitu, dibukain jaketnya, diperiksa tanpa ada pemberitahuan apa-apa sebelumnya dan tanpa meminta izin dulu. Kalau emang saat masuk nggak boleh memakai jaket, ya kasih tau dong sama antrian di luar, teriak sebentar aja apa susahnya sih? Nggak mau ya suaranya habis karena teriak? Atau menganggap mahasiswa itu sangat nggak penting sampe nggak perlu dikasih tau?! Kalau emang mau memeriksa atau menggeledah, ya bilang dong dengan baik-baik. “

Maaf Mas, bisa saya periksa sebentar.”

Ada protokol untuk melakukan hal-hal seperti itu, dan sepertinya si security ini nggak diajarin protokol kayak begini. Atau emang semua petugas security itu nggak diajarin protokol sopan santun? Kerjaannya Cuma marah-marah dan bersikap judes aja? *kebanyakan security yang gw liat sih selalu sok jago nggak karu-karuan dan udah galak duluan, padahal kalo dia ngomongnya baik-baik juga, klien yang berhadapan dengan dia bisa baik-baik juga*.

Udah kan, baru di pintu masuk aja udah bikin bete.

Di dalam, gw nggak sempet liat jam, yang jelas acaranya ngaret sekitar 45 menit. Pokoknya, di jadwal harusnya sesi pertama selesai jam 11.00, pada kenyataannya malah selesai pada jam 11.45. Udah gitu, gw nggak ngerti sama orang control room, itu lampu di sayap SB2, habis-habisan dimaen-maenin. Pertama terang, mendadak diredupin, terus digelapin, eh diterangin lagi. Apa kagak sakit mata tuh gw yang duduk di situ dapet perubahan cahaya yang mendadak dan gonta-ganti gitu? Harusnya kan udah dipikirin, lighting seperti apa yang mau dipakai pada saat acara berlangsung. Apakah fokus di pembicara dan sisanya diredupkan saja, lalu baru kembali diterangkan seluruhnya saat sesi tanya jawab, atau memang semuanya mau diterangin? Soalnya waktu sesi pertama dan sesi kedua sebelum Mbak Fifi maju, itu pembicara gelap gulita di depan. Mana mah pake baju hitam, gelap-gelapan, untung nggak pake gigi emas! Pas Mbak Fifi yang maju, jadi terang benderang. Kasian amat kan pembicara yang lain, nggak dapet porsi yang sama. Yang adil dong…

Sesi kedua, setelah shalat jum’at, juga sepertinya dimulai terlambat. Gw nggak hadir di pembicara pertamanya, tapi waktu gw hadir di pembicara kedua, itu terlambat sekitar setengah jam dari jadwal yang seharusnya. Kalau sesi pertama membicarakan tentang teknik pemberitaan dan teknik peliputan berita, sesi kedua membahas tentang teknik pengambilan gambar dan teknik membaca berita. Buat gw pribadi, para pembicara di sesi kedua ini jauh lebih menarik dalam gaya pemberian materinya dibandingkan dengan pembicara-pembicara di sesi pertama. Apalagi dengan kehadiran Mbak Fifi Aleyda Yahya yang langsung bikin orang-orang yang ngantuk jadi pada melek, sesi kedua terasa lebih hidup dan tidak membosankan.

Sayangnya, untuk gw pribadi, meski konten dari isi seminar ini cukup bagus *terutama teknik pengambilan gambar itu tadi*, gara-gara keterlambatan yang terjadi di awal acara, gw nggak merasa puas sama sekali. SAMA SEKALI.

Ibaratnya nih ya, kalau mau kasar dan ekstrim

Karena foreplaynya nggak seru, gw nggak bisa mencapai klimaks!

Nah loh!

Gw bahkan langsung membandingkan dengan acara yang melibatkan protokoler ITB sebagai panitia *umumnya dalam acara resmi ITB*. Bukan karena gw protokoler, tapi gw liat, protokoler ITB jauh lebih sigap dibanding orang-orang metro tv. Intinya mah, ikut SOP lah. Gladi Bersih atau Check Sound pada H-1. Siap siaga dua jam sebelum acara dimulai atau satu setengah jam sebelum acara dimulai pada hari H. Meski peserta yang hadir bukan sekaliber presiden atau menteri atau pejabat, kita kan juga harus menghargai audiens kita, jangan sampai mereka merasa kecewa. Dan audiens nggak mau tau apa yang terjadi sampai akhirnya terlambat *pengalaman pribadi pas disemprot para orangtua wisudawan akibat kunci pintu gate yang hilang entah kemana oleh pak satpam :p*. Pokoknya itu mah, kalau ngaco-ngaco dikit, langsung mempermalukan institusi, dan siapa sih yangt mau mempermalukan institusi dimana dia bernaung? Nggak ada kan??

Totalitas.

Yak, itu kata yang tepat. Kalau mau melakukan sesuatu, harus total. Jujur aja, gw sendiri belum bisa total jendral kayak begitu. Banyak hal yang gw lakukan masih setengah-setengah, tapi rasanya kalau untuk acara besar, atau acara yang melibatkan orang banyak dan mempertaruhkan kredibilitas kita di mata orang lain *sekecil apapun*, rasanya gw sendiri terpaksa harus mendorong agar bisa total mengerjakan apa yang diamanatkan pada gw.

Tulisan ini bukan untuk menjatuhkan Metro TV, tapi kalau-kalau ada orang Metro TV yang baca, mungkin bisa dijadikan kritik yang membangun. Karena temen gw juga memberi info, workshop eagle award di aula timur juga kacau balau, nggak ada panggung dan sebagainya. Pokoknya jadi nggak enakeun, lamun kata orang Sunda mah.

Yah, untuk lembaga/perusahaan sekaliber Metro TV, kayaknya hal-hal sepele kayak gini pasti bisa lah dibenahi, nggak sulit kok kayak gini doang mah. Meski acara kecil, tapi opini yang dibangun karena ketidakpuasan audiens akibat ketidaksiapan personel sangat penting untuk citra Metro TV sendiri.

Kalau kata Bu Anis, selalu ada kerikil-kerikil tajam dalam setiap perjalanan kita. Dan kerikil tajam ini bukan kita ambil terus kita buang, tapi kita ambil untuk dijadikan pelajaran agar tidak terulang lagi di kemudian hari. Nggak ada yang sempurna, pasti akan selalu ada kerikil tajam, tapi jangan sampai kita bertemu dengan kerikil tajam yang sama untuk kedua kalinya. Beuh, panjang lebar bener nih tulisan…

Ciao!

Advertisements

2 thoughts on “Selayang Pandang Seminar Jurnalistik Metro TV

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s