Life

Peusijuk

Jum’at kemaren kan gw menghadiri acara siraman temen gw yang akan nikah pada hari Minggu nya, nah gw jadi teringat akan adat daerah gw sendiri. Makanya gw akan menceritakannya disini.

Di Aceh, setau gw yang tergolong Aceh “murtad” ini –habis dari kecil di Bandung sih –nggak ada yang namanya siraman. Adanya peusijuk. Apa sih peusijuk ini? Acara ini dilakukan bertujuan untuk “mendinginkan” orang yang dipeusijuki, dan obyek penderita *halah* nggak Cuma calon penganten pria atau wanita, tapi bisa wisudawan, atau anak yang disunat. Pokoknya semua bisa dipeusijuki. Prosesnya juga nggak begitu ribet sih. Kalo dalam acara siraman kan pake acara sungkeman dengan orang tua, kalo calon pengantin wanita pake acara digendong ke tempat pemandiannya segala, nah kalo di acara peusijuk nggak.

Misalnya, untuk calon pengantin wanita nih ya…*biar gampang*

Bahan yang diperlukan *emangnye acara masak memasak?!!* antara lain :

  1. air,
  2. beberapa jenis daun-daunan *ada jenisnya tersendiri, tapi gw lupa…, yang jelas sih bentuknya harus panjang, bukan daun anteluvium!*,
  3. beras,
  4. terus ketan kuning atau dalam bahasa Aceh disebut bulukat yang disertai dengan kelapa manis *itulah, warnanya udah coklat karena dikasih gula merah dan rasanya tentu saja manis… bagian ini yang paling gw suka, bukan ketannya! Hohohoho*

Prosesinya?

Yang melakukan peusijuk antara lain orangtua dan keluarga, dan biasanya nggak disaksikan sama tamu-tamu. Bener-bener internal banget. Misalnya yang melakukan adalah Ibu.

  1. Ibu akan mengambil semangkuk air yang sudah disediakan dan daun-daunan. Daun-daunan itu dicelupkan dalam air lalu diperciki ke sekeliling kepala/tubuh si anak dengan arah perputaran searah jarum jam sebanyak 3, 5 atau 7 kali *pokoknya harus ganjil!*.
  2. Udah gitu Ibu mengambil segenggam beras lalu dilempar ke sekeliling si anak, searah jarum jam, juga dengan lemparan yang jumlahnya ganjil.
  3. Lalu Ibu mengambil sejumput ketan kuning dan kelapa lalu menyuapkan pada si anak, dan akhirnya mendoakan si anak. Selama prosesi berlangsung, si anak harus menengadahkan tangannya, dengan posisi seperti orang sedang meminta.

Sama seperti siraman, setelah Ibu calon mempelai, dilanjutkan dengan anggota keluarga besar lainnya. Bedanya, biasanya setelah dipeusijuki, bisa juga sambil diberikan cinderamata dari anggota keluarga untuk calon mempelai, biasanya berupa perhiasan. Sebagai tanda sayang kali ya. Apalagi kalau anak perempuan satu-satunya. Udah gitu beres deh. Tujuan peusijuk sebelum menikah ini agar si calon mempelai diberi berkah, dan agar lebih siap saat akan memasuki bahtera rumah tangga.

Nah biasanya prosesi ini akan dilakukan lagi setelah akad nikah, dimana yang dipeusijuki adalah kedua mempelai, suami dan istri, dengan harapan mereka selalu dalam keadaan dingin kepala dan jiwa selama menjalani kehidupan rumah tangga.

Kalo diliat-liat, prosesi ini mirip sama prosesinya orang India. Coba deh perhatikan dengan seksama film-film india, kan suka ada pemberkatan dengan memutar pinggan yang ada apinya searah jarum jam di depan wajah obyek sebanyak 3 atau 5 kali, terus si obyek menguapkan api itu ke wajahnya, dan memakan manisan yang diberikan. Nah, mirip kan? Api diganti air, manisannya pake ketan *manisannya orang india gak tau terbuat dari apa*.

Yah, maklumlah…banyak betul warisan India dalam budaya kami, jadi seperti inilah. Yang gw suka adalah nggak perlu berbasah-basah, terpercik-percik dikit kan malah menyejukkan :d, terus nggak beribet dan gak disaksikan banyak orang. Dan bisa dilakukan jam berapapun *kakak sepupu gw dipeusijuki jam 11 malam! Karena sibuk ngurus akad nikahnya*.

Begitulah, adat dari daerah gw. Tentu saja ada adat lain dari daerah lain bukan? Nanti gw akan berkisah lagi soal cara meminang yang asli di Aceh.

Ps: Untuk Yuli dan Febri, selamat menempuh hidup baru. Semoga keluarga yang kalian bina selalu dalam lindungan Allah, dimudahkan rezeki dan diberi limpahan kebaikan. *mudah-mudahan tamu undangan nggak pada sakit telinga ngedenger gw nyanyi ‘Kau Selalu di Hatiku’ dan ‘Cindai’ kemaren, pas liat rekamannya, kok suara gw nggak banget :p*

Advertisements

3 thoughts on “Peusijuk

  1. Jadiiii… kapaaaaan?
    Aku janji deh gak nyanyi kalo diundang. 😀

    *laila : duh, nanti deh mbak! kalo udah saatnya pasti mbak diundang… 😀 awas ya kalo gak dateng, aku misuh2 ntar!*

  2. Yang mana rambut bila bersanding ijuk
    Beras tak lah sama putih
    Yang mana padi, mana ilalang
    Hampir tak dapat dibedakan
    Bualan dan kasih sayang

    Ku kira sirih akan bertemu pinang
    Suci kapur kau sajikan
    Mengapa getah damar kau bawa
    Menjadi kaca bening berbisa
    Kau lah penyebab ku luka

    Niat ku mendulang intan
    Tapi ku terdulang angin suara mu
    Yang berbisik-bisik sayang
    Yang berkata rindu kepada ku

    Ku pinta hidup serumah
    Satu atap sah menikah
    Kau tak mau

    Malah kau putus-putuskan
    Tali kasih sayang kepada ku

    Kau kusangka bulan, sayang
    Yang dapat kugenggam, sayang
    Rupanya kau bintang nan jauh
    Tak mungkin dapat ku sentuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s