Life · Thoughts

Penulis yang Jujur

Gw mulai menulis cerita pendek sejak kelas 2 SMP. Bukan dimulai dari ide kreatif gw, tapi karena ingin mengikuti jejak temen gw yang bisa menulis dan gw senang membaca tulisannya. Gw mulai menulis puisi sejak kelas 2 SMA, dan berhenti di akhir tahun ajaran. Diawali dengan kejenuhan menulis cerita, nggak bisa menulis panjang lebar. Gw mulai menulis novel, cerita bersambung sejak kuliah, diawali dengan rasa kangen menulis, dan kemudian menjadi tulisan lebih panjang.

Yap, karya gw nggak ada satupun yang pernah masuk majalah, apalagi diterbitkan.

Karena gw nggak pernah terlalu berani mengirimkan ke majalah.

Karena gw terlalu kere untuk ngeprint cerita-cerita gw.

Karena menulis fiksi tidak diperbolehkan dalam keluarga gw… *tapi gw bandel :P*

Tapi gw tetep menulis. Meski gw nggak pernah mengucapkannya, ternyata gw menulis dengan jujur. Gw nggak bermaksud mengundang pujian atau apalah itu namanya, gw hanya ingin bilang, gw menulis dengan jujur. Dan maksud gw menulis dengan jujur adalah, gw menulis apa yang gw rasakan, apa yang gw lihat, apa yang gw pikirkan, apa yang gw dengar, apa yang gw alami.

Saat bertemu dengan teman yang suka menulis, Danz, dan berdiskusi panjang lebar tentang tulisan kami *sampai ngecengin tokoh pria bikinan kami sendiri! Jujur aja, nggak ada yang lebih kami cintai selain tokoh-tokoh cerita kami :D*, kami sampai pada satu kesimpulan,

Kami akan menjadi pengarang yang jujur.

Kalau ada yang mengikuti transformasi gw sebagai penulis cerita fiksi, mereka tahu, sejak awal gw nggak pernah memasukkan unsur religi dalam cerita gw. Tapi, dua cerita bersambung terakhir yang gw bikin, sedikit kental dengan urusan religinya, kenapa??

Karena gw sudah mengerti…gw sudah tumbuh…gw sudah bertransformasi

Dan saat itulah gw berani untuk menuliskannya…karena gw sudah mengerti dan gw ingin orang lain juga mengerti, seperti gw. Hingga ketika orang melihat gw, mendengar gw, bertanya pada gw, gw bener-bener merepresentasikan apa yang gw tulis dalam kisah fiksi itu. Karena tulisan itu juga sebagai pengingat gw saat gw lupa.

Gw belum bisa bikin cerita fiksi yang bukan kisah cinta…

Karena gw belum mengerti tentang hal lain…dan gw nggak bisa mengarang tentang itu.

Karena ada beberapa hal yang ternyata lebih baik tidak diceritakan…entah kenapa.

Iya, gw emang nggak kreatif…hasil psikotes gw juga bilang gitu.

Biar saja…gw senang menulis..gw senang jatuh cinta pada tokoh bikinan sendiri..gw senang bisa membuat diri gw tertawa dan orang tertawa dengan kekonyolan tokoh cerita gw.

Gw hanya suka menulis… dan gw akan selalu berusaha menjadi penulis yang jujur

ketika kalimat bukan hanya kata-kata indah yang membuat orang tergugah dan menitikkan air mata atau tertawa terbahak

tapi juga representasi sikap sang penulis sehari-hari yang ia bawa ke dalam dunia fiksi, dunia huruf

dan gw bangga… gw bangga karena di sisi gw, ada penulis-penulis jujur yang tumbuh bersama

Advertisements

One thought on “Penulis yang Jujur

  1. salut sama dirimu.. :-*

    sementara tulisan-tulisan gw hanya layak masuk ‘keranjang sampah pribadi’ :p

    semangat terus yaaaaaa!!!!! 😀

    *laila : gw bersyukur ada wadah tempat gw menyalurkan hasil karya gw. Beruntunglah untuk gw yang nggak pede ini. Dan gw bersyukur punya sahabat yang mau gw paksa baca cerita gw, hehehe. Tapi jha, jangan patah semangat juga, jangan-jangan beberapa tahun lagi, malah tulisanmu yang booming. hehehe. mudah-mudahan ya… tapi, jadi penulis yang jujur yaaa…..*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s