Thoughts

Think Before Talk

Seringkali gw lebih menyukai bahasa tertulis daripada bahasa lisan. Padahal, for God sake, gw ini bawelnya minta ampun. Then why?! Karena saat gw pribadi ingin mengungkapkan uneg-uneg gw dengan bahasa tertulis, ternyata hasilnya jauh lebih baik dibanding gw langsung cablak ngomong. Karena seringkali, ketika gw buka mulut gw, apa yang ingin gw sampaikan malah nggak tersampaikan. Sedangkan kalau gw mulai menggerakkan jemari gw untuk menulis, atau mengetik, semua yang ingin gw sampaikan tertuang dalam tulisan dengan runut dan runtun. Mulai dari awal permasalahan sampai akhirnya apa yang gw inginkan.

Tapi, jangan salah juga, terkadang kita bisa bikin masalah juga lewat tulisan kita. Misalnya, kalau tulisan kita amat sangat kontroversial atau menyinggung pihak-pihak yang lain. Celakanya, masalah seperti ini bisa diperparah kalau kita mengemukakan pendapat plus menjelek-jelekan seseorang tanpa bener-bener mengerti **ehm, kalau melihat tulisan gw sebelum ini, gw sih tetep berpendapat seperti itu ya…depends on my religion**.

Makanya, bahkan setelah menuangkan ide, uneg-uneg, harapan atau apapun di dalam sebuah tulisan please reconsider whether it can be published or not. Kejadian ini gw alami beberapa kali, dimana gw sudah menulis sebuah draft surat atau email, dan akhirnya draft itu masuk ke recycle bin dan nggak pernah gw restore apalagi gw publish. Kenapa?! Karena saat gw pikir-pikir lagi, draft itu nggak layak published dan biarlah Tuhan dan gw yang tahu uneg-uneg gw.

Sejauh ini gw berhasil menerapkannya pada tulisan. How about verbal communication? Yah gw belajar untuk sedikit mengerem lidah gw supaya nggak banyak kalimat yang bisa bikin gw kesulitan di masa yang akan datang. Gw belajar untuk mengerem mulut gw untuk nggak banyak bicara. Diam itu Emas… . Kadang bicara emang perlu, tapi nggak perlu juga terlalu cablak dan bikin orang malah ilfeel sama kita. Hey guys, I’m still learning, bukan berarti dengan bicara gini gw udah expert in it. Being sanguinis person is just like my fate. Butuh waktu 21 tahun buat gw untuk menyadari, talk less is precious. Lebih baik bicara sedikit dan bermakna daripada bicara banyak dan nggak ada isinya sama sekali.

So, think before talk..both in oral or written communication. Agar yang kita sampaikan bener-bener sesuai dengan yang kita inginkan dan nggak menyinggung pihak manapun *kalaupun menyinggung, diharapkan seminim mungkin*, dan yang kita ucapkan atau tulis itu bener-bener bermakna, bukan cuma sampah yang kalau diedit, kira-kira dua pertiga omongan kita kepotong semua.

ps : I guess, teori ini nggak berlaku untuk politician ya. Hihihhihi….they talk as much they can…but do as less as they can. *peace ah…*

Advertisements

7 thoughts on “Think Before Talk

  1. yup. gua setuju. gua juga skrg lebih sering diam daripada ngomong dan akhirnya melantur serta kemudian disesali.

    tapi gua pernah juga salah gara2 menulis. karena harusnya gua ngomong..

    hehe..jadi intinya..pilih2 deh..

  2. gw termasuk orang yang asal jeplak klo ngomong :p
    terkadang ada untungnya juga… tapi gak jarang juga pernah bikin sesal.
    ya intinya memang kudu pilih2 dulu… think before talk 😉

  3. aku sering talk without thinking… yang ada mah… penyesalan huhuhu.. memang susah kalo kelepasan ngomong

    *laila : yupz bener banget…tapi kadang yahhh kita mesti ngelakuin kesalahan sekali-sekali kan?! :D*

  4. Bagus sekali, Ibu. Dan sy setuju. 🙂

    *laila : ehhh ada Pak Shoma mampir… sering-sering mampir sama nyonya dan anak2 ya :d–emangnye rumah makan?*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s