Thoughts

Kalau Sudah Diatas, Jangan Lupa yang Dibawah

Mungkin kalimat nasehat ini sering kita dengar kalau misalnya ada seseorang yang baru mendapat kenaikan jabatan, atau sukses, atau bahkan terkenal. Maksudnya adalah kalau sudah jadi orang hebat, jangan pernah ngelupain orang-orang yang “biasa-biasa” saja. Tapi, gw pribadi lebih suka mengartikannya benar-benar secara harfiah. Kalau sudah di atas…jangan pernah sama sekali lupa sama yang bawah. Gw kasih contoh kasus aja sekalian.

1. Gw sampai saat ini harus puas dalam posisi “anak”. Belum pernah sekalipun naik kelas menjadi posisi “orangtua”. Dan, ketika gw berada dalam posisi ini, ada beberapa ketidakcocokan antara gw dan orangtua gw, yang membuat gw selalu berpikir, “Mereka pernah ngerasain jadi anak-anak nggak sih?!!”

Bahkan gw sampe seringkali mikir kalau orangtua sama anak, sampe matipun nggak akan pernah bisa akur dan satu persepsi. Karena mereka berbeda zaman, dan sebagainya. Tapi, tentu saja pemikiran gw ini juga sering terpatahkan, atau minimal terbengkokkan, waktu gw ngeliat keluarga-keluarga yang orangtua dan anaknya akur dan satu persepsi. Hey..they can do that! Stick together, I mean.

Dan gw ingin sekali membangun keluarga yang seperti itu. Dimana orangtua dan anak bisa saling mengerti. Yap, I know, prosesnya nggak semudah kentut, tapi gw yakin, dengan pendekatan yang sesuai, akan bisa. Sekeras apapun anaknya, persepsi itu bisa disamakan, minimal mereka mengerti sudut pandang orangtua dan orangtua juga sebaliknya mengerti sudut pandang anak.

Untuk mewujudkan keinginan gw ini, sejak sekarang gw selalu menanamkan pada diri gw satu hal :

“Kalau udah jadi orangtua, jangan lupa gimana rasanya waktu jadi anak dulu.”

Ya, jangan lupa gimana rasanya berpikir dengan darah bergejolak, gimana rasanya melontarkan kata-kata tanpa benar-benar menganalisa seluruh masalah *gw masih sering tuh kayak gini*, gimana rasanya nggak dimengerti oleh orangtua karena pemikiran kita nggak didengar, gimana rasanya dikecewakan oleh orang tedekat kita, gimana rasanya ini dan itu.

Jangan lupa gimana rasanya ketika kita melakukan kesalahan dan sebenernya kita udah tau konsekuensinya tapi terus-terusan aja dimarah dan disalahkan. Semua hal, baik suka maupun duka, kepuasan maupun ketidakpuasan saat masih menjadi “anak”, nggak boleh dilupakan sama sekali. Karena itu bekal agar bisa menjadi orangtua sekaligus sahabat untuk anak.

2. Pernah terbesit dalam kepala gw, ingin menjadi dosen. Sampai sekarang juga masih, kadang-kadang. Dan gw selalu berusaha menanamkan pada diri gw :

“Kalau jadi dosen, jangan suka ngeremehin mahasiswa.”

Yupz, karena seringkali dosen ngeremehin mahasiswa, nganggep mahasiswa itu mungkin semacam kotoran sapi atau kotoran kuda, persis seperti keadaan Jalan Ganesa di hari Sabtu dan Minggu. Gw sering ngeliat dosen nggak bermurah hati sama mahasiswa *walaupun banyak juga gw liat dosen-dosen yang murah hati*. Gw sering liat dosen yang kalo ngasih kuliah sok-sok nambahin pengetahuan tentang moral dan sopan santun pada mahasiswanya, seolah-olah dia ustadz *well, kebetulan emang sepertinya sih ustadz, minimal di mesjid komplek*, tapi kenyataan yang gw liat di luar kuliah? Ngeremehin anak bimbing sendiri, nggak bisa menahan emosi, melecehkan mahasiswa dan merasa puas menjadi manusia yang superior. Atau dosen-dosen yang menganggap mahasiswa yang nilainya pas-pasan atau cenderung tukang ngulang, adalah mahasiswa BODOH. Yeah, right…nggak ada orang yang bodoh. Yang ada malas. Dan gw paling benci orang-orang yang bilang : mahasiswa bodoh / murid bodoh / anak bodoh.

Yeah, mungkin dia adalah sosok pelajar yang penuh perjuangan, siang malam belajar, karena nggak mau menyia-nyiakan uang orangtua, atau dia adalah makhluk jenius dan sebagainya. Believe me…mahasiswa/murid/anak banyak tipenya, dan dia nggak bisa mengharapkan semua orang setipe dengan dia.

Dalam hal ini, gw sedikit banyak belajar dari pembimbing gw. Beliau nggak pernah menyebut mahasiwa bodoh. Kalau ada mahasiswa di kelasnya yang nilainya kecil, pasti beliau bertanya dulu ke temen-temen atau kakak kelas anak itu, ada masalah apa dan sebagainya. Lalu anaknya dipanggil dan juga ditanya ada masalah apa. Baru kemudian diambil tindakan. Kecuali mahasiswanya emang ngeyel…pasti beliau ngomel-ngomel. Tapi nggak sampai keluar kata bodoh.

Oh, dan beliau menuntut mahasiswanya jujur…dan gw tahu…Insya Allah beliau juga jujur dalam bekerja. Dan beliau juga memegang prinsip : tidak melupakan saat-saat pernah menjadi mahasiswa/pelajar.

3. Kalau menjadi atasan, jangan seenaknya saja memberi tugas pada bawahan. Pikirkan bagaimana rasanya sewaktu kita dulu menjadi bawahan *kecuali anak direktur yang begitu lulus langsung dikasih jabatan jadi direktur juga*. Bagaimana rasanya kalau kita tiba-tiba diberi tambahan tugas setumpuk padahal kita sudah ingin istirahat. Bagaimana rasanya kita dimarahi di depan semua karyawan dan dimaki-maki dengan bahasa kasar. Pikirkan!!

Kalau saat mengenang itu, kita merasa sakit dan nggak enak, then don’t do it to our employee, to our staff. Jangan ngasih tugas banyak-banyak pas deket-deket mau jam pulang dengan deadline besoknya. Kasih sebelum-sebelumnya atau kalau emang harus dikasih sore itu, bilang dengan baik-baik bahwa dia harus lembur dan emang tugas ini baru bisa diberikan sorenya karena suatu hal. Kalau memang kinerjanya kurang memuaskan, panggil ke ruangan Anda dan marahi / beri peringatan disana. Setidaknya yang bersangkutan nggak malu karena dimarahin di depan umum, yang ada malah timbul dendam.

Masih banyak kasus-kasus lain yang merujuk pada nasehat yang gw ungkapkan di atas. 3 contoh yang gw sebutkan hanya sekelumit kecil yang ada dalam hidup gw. Intinya adalah, kita nggak boleh jadi semena-mena mentang-mentang posisi kita udah di atas, ngelupain semua yang pernah kita alami sebelumnya. Makanya, kadang buku harian itu perlu, bukan untuk lucu-lucuan pas dibaca 25 tahun lagi, tapi untuk diambil pelajaran dan diresapi perasaan yang tertuang saat kita menulisnya dulu. Supaya kita diingatkan lagi di masa kemudian.

Orang yang nggak mau mengingat masa lalunya, yang nggak mau sedikit merasakan perasaan orang yang ada di bawahnya *padahal dia pernah di posisi itu* adalah orang yang sombong. Dan Allah paling benci sama orang yang sombong. Makanya…yuk, kita bareng-bareng jadi orang yang rendah hati, yang tenggang rasa, yang nggak melupakan orang lain. Supaya kita disayang Allah, supaya kita jadi lebih baik..dan generasi seterusnya juga. Kebaikan itu harus ditularkan…

Jangan ngelupain yang di bawah ya kalau udah ada di atas ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s