Life · Thoughts

Bebas Terbatas

Bukan mentang-mentang gw anak Farmasi, makanya gw sengaja pake judul bebas terbatas. Emangnya obat, ada golongan bebas terbatasnya? Bukan, ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan jenis obat apapun di pasaran. Ini tentang freedom, murni gw bicara tentang kebebasan.

Apa sih bebas terbatas? Bebas terbatas berarti seseorang bebas melakukan apapun asal dalam batas-batas yang telah diberlakukan atau ditentukan. Dengan kata lain, dia tidak boleh melakukan sesuatu yang melampaui batas. Sekarang, batasan apa yang bisa membatasi kebebasan itu sendiri? Banyak hal. Hukum yang berlaku di kediaman orang tersebut, keluarga, keadaan lingkungan, pasangan hidup, bahkan norma agama dan adat.

Contoh misalnya, di Indonesia, semua warga negara berhak mengemukakan pendapat, TAPI batasannya adalah tidak untuk berbuat makar. Atau dalam hukum agama, seorang perempuan diperbolehkan mencari nafkah, NAMUN hanya jika suami memberikan izin, atau memang karena kondisi keuangan yang mengharuskan dia mencari nafkah. Contoh kasus lain misalnya, orangtua memberi kebebasan pada anak beraktivitas apapun *yang positif tentu saja* TAPI jam 20.00 sudah kembali berada di rumah.

Ini yang gw maksud dengan bebas terbatas. Gw yakin kalian semua juga bakalan ngerti dengan penjelasan-penjelasan yang gw bikin di atas. Sekarang, langsung masuk ke inti persoalan kenapa gw ngebahas hal ini.

Manusia, adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangan. Salah satu kekurangannya itu adalah suka membantah, tidak cukup puas dengan keadaan yang sudah ada. Gw berada di posisi yang pertama, gw suka membantah. Keluarga gw termasuk keluarga yang keras dan tegas, tentunya untuk hal-hal yang berbau kebaikan. Tapi, seringkali gw menginginkan kebebasan gw sendiri. Bebas berpakaian, bebas melakukan apapun yang gw sukai. Seringkali pula, keinginan gw ini berbenturan dengan keinginan keluarga gw, dan akhirnya gw mengambil jalan tengah yang nggak cukup bagus-bagus amat, gw berbohong demi melakukan apa yang gw inginkan.

Yupz, mungkin gw nggak mau dibatasin, lebih tepatnya, gw ingin mengkompromikan batasa-batasan yang diterapkan pada gw. Sayangnya itu nggak mungkin. Dan hiduplah gw selama 21 tahun ini dengan kebohongan yang terlatih untuk hal-hal yang ingin gw lakukan, tapi nggak bisa dilakukan karena adanya batasan-batasan.

Ternyata, then…, gw bertemu dengan seorang cowok yang gw cintai dan mencintai gw. He’s just like my father. Dia menerapkan batasan-batasan yang amat sangat ketat. Terkadang ada pikiran mencuat, keluar dari mulut harimau masuk lubang buaya. Hanya saja, entah kenapa, gw mau berkompromi dengan batasan-batasan yang dia buat. Tapi, beberapa hanya bisa gw terima setelah kami meresmikan hubungan seresmi-resminya. Misalnya, menyempurnakan cara menutup aurat gw, dan yang paling penting tentang karir gw.

Gw sudah bertekad, kalau gw menikah dan memiliki anak, gw akan jadi ibu rumah tangga full time. Jadi, karena itu gw berpikir, sebelum gw menikah, gw ingin memanfaatkan kesempatan yang sudah ada untuk mengerjakan hal-hal yang mungkin nggak akan bisa lagi gw kerjakan setelah menikah. Dan gw nggak mau interupsi apapun saat gw melakukannya. Gw nggak sedang mencoba sok profesional, gw hanya ingin menikmati sesuatu yang akan amat sangat jarang gw nikmati setelah gw menikah. Dan, bayangkan ketika kenikmatan itu terinterupsi! Betapa kecewanya gw, apalagi kalau interupsi itu dilakukan seolah-olah gw masih anak umur 5 tahun yang sedang senang-senangnya bermain boneka di rumah temannya sampai malam menjelang. Bayangkan jika interupsi itu dilakukan ketika gw sedang berkonsentrasi penuh untuk menyelesaikan pekerjaan.

Yah, gw tahu dan amat sangat sadar kalau pasangan gw amat sangat benci jika ada lelaki lain yang deket-deket dengan gw dalam radius 1 km. Tapi, kali ini gw bekerja di ruangan yang JELAS-JELAS atasan gw juga ada disana, dan kebetulan beliau adalah WANITA. Dan gw hanya perempuan sendiri karena setelah gw pulang, gw dipanggil kembali untuk dimintai bantuan “lembur”. Dan gw menyanggupi pekerjaan itu karena gw tahu, tim kami kekurangan orang sementara waktu kian menipis, dan besok gw banyak pekerjaan.Selain itu, nggak mungkin kan gw jadi batal bekerja hanya karena nggak ada temen perempuan lain yang bekerja? Come on, we’re talking about professionality here. But I guess, professionality and romance never walk in the same way!

Gw berusaha untuk berkompromi dengan batasan-batasan yang diterapkan…tapi gw pikir, kalau kompromi itu hanya dilakukan oleh gw…artinya gw nggak bebas sama sekali. Lebih baik gw disangkarin aja kayak burung peliharaan, akan jauh lebih baik untuk mengontrolnya. Hanya saja, penyangkaran itu baru bisa benar-benar sempurna setelah resmi bener-bener…sebelumnya? Well, gw sudah setuju masuk ke dalam sangkar, kalau begitu biarkan gw menghabiskan waktu di dunia luar sampai gw masuk ke dalam sangkar dan nggak protes-protes lagi untuk keluar. Daripada gw nanti protes-protes?

Entahlah… mungkin hanya gw yang berusaha mengerti. Apapun deh, yang jelas… apa yang gw lakukan sekarang, gw selalu yakin akan dibalas sama Allah entah kapan itu…

Advertisements

One thought on “Bebas Terbatas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s