Thoughts

From Totto Chan –Gadis Cilik di Jendela -part 3-

7. Di Tomoe Gakuen (atau mungkin di sekolah-sekolah lain di Jepang) sejak kecil mereka diajarkan untuk bisa memasak melalui acara menginap dan memasak bersama.

It’s great! Dari kecil, baik anak laki-laki maupun perempuan sudah diajarkan untuk bisa memasak, berbeda dengan kita disini. MASAK = PEREMPUAN. Yupz, jadi laki-laki, HARAM masuk dapur *hiperbol ini!*. anak kecil Cuma dianggap pengganggu di dapur, atau bisa mengundang bahaya. Sementara kalau di Jepang, dari kecil anak-anak sudah bisa memasak. Lihat deh dorama-dorama Jepang yang ada anak kecil atau manga-manganya.

Dengan ada acara memasak di sekolah, anak-anak akhirnya dituntut untuk belajar masak dengan para Ibu mereka di rumah. Mereka masuk ke dapur, belajar memotong, menumis, sesuatu yang sederhana. Jadi, akhirnya mereka nggak akan ragu-ragu dan tumbuh kepercayaan diri untuk memasak di kemudian hari. Karena nggak semua anak punya inisiatif yang tinggi, dan di kemudian hari tiba-tiba muncul bohlam di atas kepalanya yang kalau diterjemahkan artinya begini : SAYA AKAN MEMASAK!!!

Yeah, kalau semua anak bakalan seperti itu, dunia ini bakalan penuh dengan orang-orang seperti Alpha Edison atau Isaac Newton! Jadi, stimulan seperti ini sangat bagus untuk anak-anak.

8. Belajar dari orang yang benar-benar ada dalam bidangnya. Mr. Kobayashi pernah mengundang Pak Tani untuk langsung mengajarkan pada anak-anak bagaimana menggarap ladang dan menanam.

Entah sih di tempat kita bagaimana, terutama di kota, mana ada lagi sawah dan ladang? Belajar mempromosikan barang dari marketing manager di mall sih mungkin. Tapi yang jelas, guru itu nggak tahu segala hal. Jadi kadang untuk hal-hal tertentu dibutuhkan orang yang emang kompeten di bidangnya, sehingga mereka bener-bener mendapat pengetahuan dan ilmu yang lengkap.

9. Mr. Kobayashi sering mengatakan pada Totto-chan : “Kau benar-benar anak baik!” soalnya Totto-chan sering bikin orang pusing kepala dengan kelakuannya. Karena sering dibilang begini, sering Totto-chan nggak jadi melakukan hal-hal yang aneh karena dia merasa dipercaya oleh sang Kepala Sekolah sehingga muncul rasa percaya dirinya.

Tetsuko menulis :

Apa yang Kepala Sekolah ingin agar dimengerti oleh Totto-chan adalah seperti ini : “Ada orang yang mungkin berpendapat kau bukan anak baik dalam hal-hal tertentu, tapi watakmu yang sesungguhnya tidak buruk. Banyak watak baik dalam dirimu dan aku tahu itu.”

Sering anak kecil dibuat minder karena dia merasa tidak dipercaya oleh orang, karena orang sering berkata buruk padanya (bahayanya, seringnya orangtua sendiri yang mengatakan hal buruk itu), dan di kemudian hari, mereka lupa kalau sebenernya mereka punya banyak sisi baik. Karena mereka terlalu sering dikata-katai dengan hal-hal yang buruk, mereka jadi lebih fokus pada keburukannya, bukan pada hal-hal baik yang mereka miliki dalam diri mereka.

Dengan selalu berkata pada Totto-chan bahwa dia anak yang baik, secara tidak langsung beliau sudah memotivasi Totto-chan untuk selalu berbuat baik dan fokus pada kebaikan yang mereka miliki dalam diri mereka. Itulah seharusnya bagaimana seorang anak dididik.

10. Di Tomoe Gakuen, anak-anak dibiasakan untuk memahami kesulitan teman-temannya dan ikut membantu.

Yang gw lihat disini juga begitu, Alhamdulillah. Anak-anak dibiasakan untuk membantu orang lain, misalnya seperti membantu korban bencana alam. Dan sebenernya, setiap anak kecil, selalu berusaha membantu temannya, Cuma kadang orangtuanya suka ngelarang-ngelarang karena misalnya : Ibu si temennya itu suka ngejek-ngejek, dan lain sebagainya *menimbulkan pertanyaan buat gw : kenapa sih dengan para ibu2?!!!!*.

Well, itu sedikit yang bisa gw tulis tentang apa yang gw dapat dari buku Totto-chan. Memoar seorang anak tentang sekolahnya yang begitu mengagumkan! Andai saja makin banyak pendidik *menurut gw, guru zaman sekarang ini Cuma menjalankan fungsinya sebagai pengajar, bukan pendidik. Entah kenapa, mungkin karena gaji, mungkin juga karena sudah berkurangnya rasa kepedulian terhadap perkembangan anak-anak* seperti Mr.Kobayashi di dunia ini, khususnya di Indonesia. Gw pikir, anak-anak di Indonesia akan bisa menjadi anak-anak yang lebih baik.

-end-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s