Thoughts

From Totto Chan –Gadis Cilik di Jendela -part 2-

4. Anak-anak di Tomoe Gakuen paling suka acara jalan-jalan, karena artinya mereka nggak perlu belajar di dalam kelas. Tapi, guru mereka pintar. Kenapa? karena sambil jalan-jalan mereka juga belajar. Belajar tentang penyerbukan bunga, belajar sejarah tentang kuil, dan belajar bersosialisasi karena mereka menyapa warga sekitar.

What’s the point? Belajar itu nggak perlu dengan membaca buku saja, atau berhitung, atau mencampur larutan tertentu dengan larutan lain. Belajar bisa dilakukan dimana saja. Sambil naik mobil bisa belajar tentang disiplin berlalulintas. Sambil makan di restoran bisa belajar tentang sistem pencernaan atau tentang gizi. Ke kebun binatang dan bukan hanya melihat-lihat binatang yang nyaris semua dikandangin itu lalu menulis laporan, tapi belajar juga tentang bagaimana mereka hidup, habitat aslinya, makanannya, dan sebagainya. Nggak masalah nggak semua binatang dilihat hari itu, kan masih ada hari lain. Ya nggak?!

5. Setiap jam makan siang, Mr. Kobayashi meminta anak-anak untuk bercerita di depan anak-anak yang lain (btw, anak kelas 1-6 makan bersama-sama di Aula). Dengan begini, sejak kecil anak-anak belajar untuk berani berbicara di depan orang lain, dan yang lainnya belajar untuk mendengar dan menghargai temannya yang sedang bicara.

Gw pernah liat di salah satu serial TV, saat itu tokohnya adalah seorang guru TK, dan ketika pelajaran akan dimulai, dia meminta anak didiknya untuk bercerita tentang akhir pekan mereka. dengan begitu mereka belajar berbagi.

Hal-hal seperti ini nggak bisa disepelekan begitu saja, semakin dini diberikan, anak akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi, tapi jangan sampai jadi overconfidence!

6. Ada satu kejadian dimana Mr. Kobayashi memarahi wali kelas Totto-chan karena sang wali kelas, tidak bermaksud sengaja, dianggap menghina salah satu anak didiknya, Takahashi. Bagian menariknya adalah, Mr. Kobayashi tidak memarahi sang wali kelas di ruang guru atau di ruang kepala sekolah, melainkan di dapur rumahnya *yang berada persis di samping sekolah*.

Do you get the point? Kepala sekolah mengerti sekali bahwa seseorang pasti menjunjung tinggi harga dirinya, dan memarahi seseorang di depan orang lain hanya akan menjungkirbalikkan harga dirinya. Bahkan dengan murid pun beliau seperti itu. Tidak memarahi mereka di depan anak-anak lain, tapi dinasehati di dalam ruangan kepala sekolah, bicara empat mata.

What happen to us? Kita suka sekali memarahi anak/adik/keponakan di depan orang lain. Jujur saja dulu gw pernah melakukannya dan gw sampe sekarang masih menyesal. Kasihan adek gw saat itu, sampe nangis. Hanya gara-gara dia menghilangkan pensil 2B gw. Soalnya saat itu gw juga nggak mau dituduh nggak ngejaga barang oleh orangtua gw. Akhirnya gw marahin dan gw teriakin dia di depan orang lain sampe dia nangis. Damn, kalo gw inget-inget lagi, rasanya gw amat sangat menyebalkan.

Kontrol emosi gw emang suka nggak baik, gw bisa dengan mudah meledak di depan orang, terutama kalau barang yang gw suka, yang gw beli dengan susah payah dirusak/dihilangkan. Gw sendiri harus belajar untuk menahan emosi dan mendengarkan kenapa barang itu bisa hilang/rusak sebelum gw marah. Dan seharusnya gw juga bisa marah dengan enak, right? Nggak di depan orang, nggak pake kata-kata kasar, nggak dengan wajah amat sangat kayak setan.

Ok, forget about me. Sekarang, gw sendiri sering mengalami dimarahin di depan orang. Ayolah, I am such a bad person too. Dan setiap kali gw dimarahin dengan cara seperti itu, no matter how wrong I am, gw hanya bisa berpikir : apa nggak bisa marah di tempat nggak ada orang?!

Even when I was little kid, I have my pride too. Gw nggak ngerti bagian kenapa harus mempermalukan seseorang di depan orang lain untuk memberinya pelajaran. Untuk beberapa waktu gw mikir itu adalah hal yang wajar, karena semua orang sepertinya melakukannya. Ternyata salah besar. Memarahi seseorang di depan orang lain dengan tujuan supaya orang tersebut mendapat pelajaran karena dia juga jadi malu sama sekali nggak akan membuat dia jadi lebih baik dan melihat kesalahannya ada dimana. Malahan dia jadi benci kita setengah mati. Besides, dengan begitu kita sendiri nggak tahu duduk perkaranya gimana. Sedangkan kalau bicara empat mata, di tempat sepi, kita bisa tahu duduk perkaranya, dia bisa tahu apa kesalahannya. Kenapa sih kita selalu berusaha menghancurkan harga diri seseorang di hadapan orang lain?!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s