Thoughts

From Totto Chan –Gadis Cilik di Jendela -part 1-

Have you read this amazing book? Sebuah kisah nyata yang dialami sendiri oleh sang pengarang yang menggambarkan tentang sekolahnya, Tomoe Gakuen. Digambarkan, Tomoe Gakuen memiliki sistem pendidikan yang amat berbeda dengan sistem pendidikan yang ada pada saat itu di Jepang. Sekolah ini dipimpin oleh Sosaku Kobayashi dan jumlah seluruh muridnya dari kelas 1 sampai kelas 6 hanya sekitar 50 murid saja. Ok, gw nggak akan nulis resensi buku ini karena akan lebih baik dibaca sendiri dan dirasakan kehangatan Mr.Sosaku Kobayashi dalam mendidik murid-muridnya. Tapi gw akan sedikit membahas cara mendidik Mr. Kobayashi juga orangtua Tetsuko *Totto chan* dibandingkan dengan yang terjadi saat ini (baik oleh para guru, maupun oleh orangtua).

1. Pertama kali Totto chan datang ke Tomoe Gakuen, Mr. Kobayashi mendengarkan Totto chan bicara sampai 4 jam lamanya tanpa merasa ngantuk dan tidak merasa bosan.

Ok, bandingkan dengan yang gw liat sehari-hari *dan kadang gw sendiri melakukannya meski gw sudah berusaha menahan diri*. Mendengar anak kecil berceloteh adalah sesuatu yang mungkin agak sedikit melelahkan. Sekali mereka bercerita, believe me, everything is interesting and important for them! So they’ve got tell everything to you. Karena dari awal sudah tertanam kita nggak mau mendengarkan cerita mereka karena menganggap itu hal yang sepele, makanya kita nggak bisa mendengarkan mereka sampai tuntas. Pasti merasa ngantuk, menguap, melihat ke tempat lain, dan sebagainya.

And don’t even think they don’t know what we’re doing. They know we feel bored! Dan itu membuat mereka akan berpikir bahwa mereka nggak cukup penting, mereka diabaikan. Isn’t that SO bad?!! Dari kecil mereka sudah merasa diabaikan, mau ajdi apa mereka?

Gw sendiri setiap mendengarkan anak kecil kadang masih suka menguap meski gw coba tahan amat sangat, soalnya gw nggak mau mereka merasa diabaikan sama gw. Yeah, I’m still learning to be better listener, though.

2. Di Tomoe Gakuen tidak ada jadwal pelajaran yang kaku. Jadi, misalnya hari Senin untuk belajar matematika, menggambar, sains, dan membaca. Setiap anak bebas memulai pelajaran manapun yang dia sukai. Dengan begini, setiap anak akan terlihat kemana minat dan bakatnya, dan lebih mudah dibimbing. Selain itu, mengawali hari dengan sesuatu yang kita suka akan lebih memudahkan untuk kegiatan selanjutnya.

Sementara pendidikan pada umumnya, sudah ada jadwal yang rigid, nggak bisa diubah-ubah. Sudah ditentukan jam pertama belajar apa dan jam terakhir belajar apa. Sebenernya nggak ada masalah juga dengan sistem semacam ini, karena kita juga dituntut untuk berusaha menyukai apa yang kita lakukan, nggak selalu melakukan apa yang kita sukai. Cuma dengan sistem yang diterapkan Mr. Kobayashi, rasanya lebih menyenangkan terutama untuk anak-anak usia sekolah dasar. Meski tentu saja dibutuhkan guru yang ikhlas, dan berdedikasi tinggi terhadap pendidikan. Serta tentu saja, jumlah anak dalam kelas tidak bisa terlalu banyak agar fungsi kontrol bisa berjalan denagn baik.

Yang ingin gw tegaskan disini adalah anak dibebaskan memilih apa yang mau dilakukannya, apa yang diinginkan. Orang dewasa, dalam hal ini baik Guru maupun orangtua, hanya berfungsi untuk membantu si anak meraih apa yang ingin dia capai, melakukan apa yang ingin dia lakukan. Bukan memaksanya melakukan sesuatu yang INGIN kita lakukan. They are what they are.

Sikap ini juga ditunjukkan orangtua Totto-chan, yang selalu bersikap suportif terhadap anaknya. Mama dan Papa Totto-chan selalu percaya pada Totto chan, hingga Totto chan menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab, meski tentu saja terkadang hukuman juga diperlukan.

3. Sewaktu Totto-chan mengaduk bak penampungan kotoran untuk mencari dompetnya yang terjatuh dan mengeluarkan isi bak penampungan itu, Mr. Kobayashi tidak memarahinya. Apa yang beliau lakukan? Beliau bertanya pada Totto-chan :

“Kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai kan?”

Sekarang, apa yang akan kita lakukan kalau anak kita, keponakan kita, adik kita melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Totto chan?! Pertama kita akan berteriak, menarik si anak dari TKP, memukulinya habis-habisan, menyuruhnya masuk ke dalam rumah untuk mandi, dan kita yang membereskan kotorannya sambil ngomel-ngomel. Where’s the education part in that?!!!

Mr. Kobayashi menaruh kepercayaan pada anak didiknya, dia percaya bahwa anak didiknya akan memikul tanggungjawab dari perbuatan yang mereka lakukan. Disini ada pelajaran tentang konsekwensi. Kalau kamu melakukan A, konsekwensinya A’. Kalau anak hujan-hujanan, jangan dimarahi dulu. Biarkan, setelah itu dia harus mandi dan merendam bajunya. Kalau dia sakit, baru kita beritahu itulah konsekwensi dari hujan-hujanan. Atau hal lainnya.

Tapi, tentu saja ada hal-hal tertentu yang harus segera dilarang, seperti misalnya main api, main pisau dan sebagainya.

Dengan menaruh kepercayaan seperti ini, anak-anak akan belajar bertanggung jawab pada apa yang sedang mereka lakukan, dan menerima konsekwensi dari perbuatannya tersebut. Sekaligus meminimalisir perkataan buruk yang kita ucapkan pada anak. Karena perkataan buruk itu hanya BISA merusak mental anak, meski kita nggak pernah bener-bener bermaksud demikian.

to be continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s