Thoughts

Monalisa Smile

Gw baru nonton film ini Senin malam kemarin (21 April 2008), mungkin sengaja diputar di sebuah stasiun TV swasta dalam rangka hari Kartini. Film yang dibintangi Julia Roberts, Kirsten Dunst, dan… ini menceritakan tentang perubahan yang dilakukan Katherine Watson (Julia Roberts), seorang dosen Sejarah Seni, di Universitas… khusus perempuan di…. . Perubahan yang dilakukan Katherine bukan perubahan akademik, tapi perubahan moral perempuan di masa itu (film ini mengambil setting tahun 1953-1954), yakni dari perempuan yang hanya bercita-cita menjadi Ibu rumah tangga menjadi perempuan yang lebih dinamis dan berpikiran terbuka.

Tapi, ternyata perempuan yang dinamis dan berpikiran terbuka nggak harus selalu jadi wanita karir. Salah seorang mahasiswi di kelas Katherine justru memilih menjadi ibu rumah tangga ketimbang meneruskan sekolahnya di sekolah hukum di Yale atau di Phildelphia, tempat sang suami kuliah. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga bukan karena sekedar kodrat, tapi karena bagi dia itulah kebahagiannya. Membesarkan dan mendidik anak-anaknya.

Dan sebenarnya, menurut gw pribadi yang menonton film ini, itulah perempuan dinamis yang sebenarnya. Dia berhak memilih menjadi apapun yang dia inginkan, dia sudah merdeka. Dia ingin berkarir dan nggak mau menikah, itulah pilihannya, jalan kebahagiaannya menurut dia. Kita nggak bisa memaksa bahwa wanita harus menjadi ibu baru kemudian bisa bahagia. Kita juga nggak bisa mengatakan bahwa dengan menjadi ibu rumah tangga, perempuan menjadi terbelenggu dan nggak maju. Karena banyak seni menjadi seorang istri sekaligus ibu dalam sebuah keluarga. Justru dia akan menjadi maju, mungkin bukan dalam karir, tapi dalam hal lain. Dan kesuksesan anak, diawali dari didikan ibu, kesuksesan suami nggak lepas dari dukungan istri.

Monalisa Smile mengajarkan bahwa kita nggak bisa memaksakan kehendak kita pada orang lain. Ya, kita punya prinsip yang bagus dan mungkin diperlukan untuk mengubah kekonservatifan dunia, tapi nggak semua orang bisa nerima itu. Kenapa nggak bisa nerima? Mungkin karena dia nggak mengerti, karena dia takut akan dikucilkan oleh komunitas, atau justru karena dia mengerti tapi dia punya pemikiran lain yang menyebabkan dia nggak nerima. Dalam film ini ditunjukkan oleh si mahasiswi yang justru memilih menikah tersebut. karena dia bisa melihat nilai-nilai baik disana, bukan hanya nilai keterbelengguan. Melihat di balik jendela, istilahnya.

Yap, mungkin inilah yang diperjuangkan R.A. Kartini. Perempuan bebas memilih apa yang diinginkannya, bukan hanya tunduk pada norma-norma dan kodratnya saja. Dia berhak memilih menjadi apapun, tapi dia nggak boleh sampai lupa siapa dirinya. Dan lihatlah sesuatu jangan di permukaannya saja, lihatlah di balik jendela. See from out of box.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s