Thoughts

Smart Novel

 

Smart novel?? Apaan tuh? Novel yang disekolahin terus dapet gelar sarjana? Atau novel yang menang penghargaan sesuatu? Yah, mungkin kebanyakan seperti itu, tapi yang jelas smart novel buat gw adalah novel yang membuat kaya. Bukan Cuma buku yang berisi kumpulan kata dan bahkan kadang malah bikin kita bingung dengan kalimat-kalimat yang disusun. Bukan jenis novel yang bikin dahi kita mengerenyit waktu kita baca karena begitu konyolnya dan sepelenya *bener-bener sepele loh ya* ide yang disampaikan.

Smart novel adalah novel yang membuat perbendaharaan kata gw makin kaya, yang menggugah hati gw, yang membuat imajinasi gw dipaksa bekerja sedikit keras untuk membayangkan tempat dan kejadian dimana peristiwa itu terjadi. Smart novel adalah novel yang membuat gw belajar nilai-nilai sesuatu dari sana. Yang membuka mata gw bahwa ada kehidupan lain di luar sana yang berbeda dari hidup yang sedang gw jalani saat ini. Meskipun itu fiksi, tapi kefiksiannya nggak mengkhianati kenyataan yang memang terjadi. Kenyataan itu bisa terangkumkan, bisa disampaikan dalam sebuah kisah fiksi yang menggugah hati, yang mengagumkan.

Yap, gw emang belum bisa menulis sesuatu hal yang fiktif yang smart, yang bisa menggugah hati, apalagi yang membuat pembaca berderai-derai air mata. Berderai-derai ingus mungkin, tapi air mata? Entah kapan gw bisa menulis seperti itu. Tapi, bagi gw pecinta novel, bagi gw pecinta buku-buku fiksi, gw merasa perlu untuk membaca smart novel. Bahkan gw mulai mencanangkan diri untuk nggak terlalu sering membaca chicklit dan harlequin. Yes, they are so easy reading, no need hard imagination. There’s only kiss, sex, room… so soap opera. But the more I think, the more I realize that my intelligence won’t increased by reading novels like that. Ada sih pelajaran yang gw ambil, itu kalau gw baca chicklit British, which is udah jarang banget keluar sekarang, nggak tau kenapa. Jadi, gw pikir, akan jauh lebih baik kalau gw mulai mengeksplorasi buku-buku lain yang lebih membuat gw tergugah, membuka mata gw, memperkaya perbendaharaan kata gw, dan memaksa imajinasi gw bekerja.

Dan memang bener sekali membaca smart novel sama sekali nggak sama dengan membaca textbook yang bisa bikin gw bener-bener pinter dan bahkan mungkin bisa bikin nilai-nilai gw A. Tapi setidaknya, gw menambah sesuatu dalam diri gw. Setidaknya, gw breaking my own record. Gw memperluas daerah bacaan gw, gak terpaku di romance novel melulu. Dan sebagai permulaan gw mulai menjelajahi area smart novel ini, gw membaca The Kite Runner *udah dari kapan itu novel?!*, dan Thousands splendid suns *masih novel karya Khaled Hosseini, dan gw dapet ini setelah nodong Kalman ngasih hadiah ulang tahun*. Dan gw berterima kasih dengan sangat pada Akhmad M., yang sudah menambah isi rak buku gw dengan memberikan 3 buku karya Andrea Hirata untuk hadiah ulang tahun gw *padahal gw Cuma minta buku Laskar Pelanginya aja, tapi dikasih tiga-tiganya, hehehe. Dan sebenernya gw udah pernah baca ketiga buku ini*.

Untuk buku full imajinasi, gw punya The Bartimeus Trilogy *tapi gw curiga buku pertama gw disita sama Papa dan Mama, dan gw menunggu kiriman buku ketiganya dari Mas Budi -lagi2 sebagai hadiah ulang tahun-*, terus ada Stardust *yang juga disita sama Mama dan Papa, semoga masih ada ketika suatu saat mereka mengembalikannya pada gw*.

Ada saran buku lain untuk gw baca?

 

Advertisements