Resensi

A Thousand Splendid Suns

 

A Thousand Splendid Suns adalah karya kedua Khaled Hosseini yang sebelumnya telah sukses dengan novelnya yang selama 2 tahun berturut-turut menjadi New York Time’s best seller, The Kite Runner. Novel keduanya ini masih berlatar belakang Afghanistan, namun kali ini Khaled mencoba mengangkat sisi feminim dari perempuan-perempuan Afghanistan.

Sama seperti The Kite Runner, cerita diawali ketika Afghanistan masih dipimpin oleh Raja Zahir Khan, yang kemudian dikudeta hingga akhirnya Afghanistan dipimpin oleh Taliban. Cerita diawali dengan munculnya tokoh Mariam, seorang gadis kecil anak haram hasil hubungan Nana, seorang pembantu rumah tangga, dengan Jalil, sang majikan.

Maryam hanya tinggal berdua dengan Nana, sang ibu, di sebuah tempat yang dibangun sendiri oleh sang Ayah yang tidak pernah benar-benar berniat mengakui dirinya sebagai anak. Tempat itu disebut dengan kolba. Jalil mengunjungi Maryam sekali dalam sepekan, setiap Kamis. Suatu hari, Jalil tidak datang, padahal dia sudah menjanjikan Maryam untuk menonton bioskop. Kemudian Maryam menyusul ke Heart, tempat Jalil tinggal dengan ketiga istri dan anak-anaknya, dan menemukan kenyataan bahwa Jalil memang tak pernah berniat mengakui dirinya sebagai anak. Keesokan harinya ketika dia kembali ke kolba, dia menemukan Nana gantung diri.

Maryam kemudian dibawa Jalil ke rumahnya, namun beberapa hari kemudian ia dipaksa menikah dengan seorang tukang sepatu yang usianya berbeda sangat jauh. Saat itu usia Maryam beru 15 tahun. 18 tahun kemudian, dia dimadu oleh suaminya, Rasheed, dengan seorang gadis, Laila.

Kemunculan tokoh Laila ini cukup menarik dan membuat cerita lebih berwarna. Karena, tidak seperti Maryam yang cenderung menurut pada Rasheed yang sangat suka menyiksa, terutama setelah Maryam berkali-kali keguguran, Laila adalah perempuan yang tidak suka dan tidak mau harga dirinya diinjak-injak. Laila akhirnya melahirkan seorang bayi perempuan yang lucu, yang bernama Aziza. Sebenarnya Aziza juga seorang harami, anak haram, hasil hubungannya dengan Tariq, pria pincang yang dicintainya yang dikiranya sudah meninggal.

Saat itu hidup mereka sangat sulit, terutama setelah Taliban mengambil alih kepemimpinan. Mereka sebagai perempuan begitu diinjak-injak. Tidak boleh keluar rumah, tidak boleh bekerja, padahal uang untuk hidup pas-pasan. Bahkan akhirnya Laila harus merelakan Aziza ditempatkan di rumah panti asuhan karena tidak sanggup memberi makan lagi, ketika Rasheed gulung tikar. Dan di saat itu pulalah Tariq muncul lagi, cinta lama bersemi kembali.

Bagaimana nasib Maryam? Bagaimana nasib Laila? Apakah dia tetap bersama Rasheed yang kejam dan tukang menyiksa? Apakah Aziza akhirnya mengenal siapa Ayahnya sebenarnya?

Gw nggak akan ngasih tau akhir ceritanya, karena mendingan baca sendiri deh. Yang jelas, gw sampe nangis baca buku ini, begitu menghujam, membuat hati terenyuh. A very recommended book to read. Salute untuk Khaled Hosseini yang bisa menghadirkan sisi feminim tanpa melebih-lebihkan atau mengurang-nguranginya. Every woman must read this novel!

Advertisements

2 thoughts on “A Thousand Splendid Suns

  1. mendingan yang splendid suns sih, soalnya mungkin karena bisa merasakan penderitaan dan perasaan sesama wanita kali ya. Kalo kite runner itu sebel sama si siapa itu tokoh utamanya? pengecut banget! sebel jadinya >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s